Kendalikan Kolesterol dan Hindari Serangan Jantung
Selasa, 10 Juli 2012 | 14:43
Ilustrasi serangan jantung [google] [JAKARTA] Serangan
jantung kini tidak lagi memonopoli usia tua. Orang muda bahkan lebih cenderung
menderita serangan mematikan ini. Di Rumah Sakit Jantung Binawaluya, jumlah
penderita jantung cenderung meningkat. Dari 10 pasien jantung yang masuk ke
rumah sakit ini, 7-8 di antaranya berusia 40 tahunan. Bahkan juga
menerima pasien jantung usia remaja.
Sadisnya, karena
tidak menunjukkan gejala awal, sebagian dari penderita tidak terselamatkan
jiwanya ketika datang di rumah sakit.
Kardiologis RS Jantung Binawaluya Agus Riawan, mengatakan, serangan jantung
disebabkan oleh banyak faktor, yakni di antaranya diabetes, obesitas, merokok,
darah tinggi dan kolesterol. Akan tetapi paling banyak pasien jantung yang
datang berobat,hampir 80-nya dipicu tingginya kolesterol.
Kolesterol yang
tidak terkontrol merupakan tabungan yang jelek, karena secara akumulatif
menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan akhirnya serangan jantung.
Selain jantung, kelebihan kolesterol dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai
penyakit mematikan seperti stroke. Bahkan kadar kolesterol yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan kematian mendadak. Sayangnya, sebagian besar orang
tidak menyadari jika kadar kolesterolnya tinggi, karena tidak memiliki gejala
tertentu.
Kolesterol ternyata kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak
terkontrol, yakni kurang beraktifitas fisik, makanan tinggi lemak, tinggi
garam, karbohidrat dan merokok.
"Kolesterol adalah sesuatu yang tanpa gejala tanpa sinyal, mendadak saja
orang kena serangan jantung. Orang dengan kolesterol biasa tidak akan
sadar,tanpa keluhan,sehingga tanpa pemeriksaan dini akibatnya fatal," kata
Agus di sela kegiatan cek kolesterol gratis, yang diadakan RS Jantung
Binawaluya dan PT Pfizer Indonesia di Jakarta,belum lama ini.
Cek kolesterol dan
konsultasi gratis ini merupakan salah satu komitmen RS Jantung Binawaluya untuk
membantu masyarakat menjaga kesehatan tubuh dan jantung.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi penyakit stroke di
Indonesia sebesar 0,8 persen, yang dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola
makan. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari betul
bahaya dari makanan-makanan lezat yang mereka gemari. Yang lezat belum tentu
sehat.
Agus mengimbau masyarakat untuk waspada kolesterol. Sebab bentuk fisik luar
tidak menandakan adanya kolesterol tinggi atau tidak. Belum tentu semua orang
yang gemuk itu kolesterol tinggi dan sebaliknya tidak semua kurus itu tanpa
kolesterol.
Memiliki anak yang
gemuk, jangan buru-buru berpikir dia sehat. Bisa jadi kegemukan pada anak-anak
ini juga faktor resiko kolesterol. Hal ini mengingat proses arteoklorosis atau
penyempitan pembuluh darah sudah dibawa sejak lahir, hanya saja
tergantung faktor apa yang memicunya sampai menjadi tinggi.
Proses arteoklerosis atau pengerasan pembuluh darah sebenarnya sudah ada
sejak dilahirkan, tergantung pemicunya mempercepat perkembangannya atau tidak.
Cek kolesterol secara rutin dapat mengantisipasi kadar kolesterol berlebih.
Kalaupun setelah dicek dan hasilnya tinggi, masih bisa diupayakan cara
pengobatan dan terapi untuk menurunkan kadar kolesterol.
Pemeriksaan kolesterol pun harus lengkap yang meliputi tiga jenis. Tidak
cukup seseorang merasa senang ketika mengetahui kolesterol totalnya di angka
200 mg/dl. Kolesterol seseorang tidak boleh tinggi dari angka
tersebut, dengan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol
jahat di bawah angka 180 dan High Density Lipoprotein(HDL) atau
kolesterol baik di atas angka 40
Kolesterol jahat harus rendah dan kolesterol baik yang tinggi, agar
terhindar dari penyakit jantung. Harus dipastikan LDL-nya rendah, sebab
cikal bakal terjadinya penyempitan pembuluh darah adalah jenis kolesterol
itu. Dari 15% orang yang total kolesterol bagus, hanya 2-3 orang
yang LDL dan LDL-nya bagus.
Cek kolesterol dilakukan untuk mencegah penyempitan yang tidak disadari dan
diketahui penderitanya. Setelah diskrining dan melihat hasilnya,
pengendaliannya akan jauh lebih cepat.
Sekitar 80% kolesterol dibentuk oleh diri sendiri, dan sisanya 20% sisanya
karena faktor eksternal. Artinya 80% itu karena produksi yang berlebihan
sedangkan pembongkarannya kurang atau produksinya berlebihan tapi
pebongkarannya biasa, sehingga keluarannya tetap tinggi. Pada pasien-pasien
seperti ini, yang karena kolesterolnya dibentuk diri sendiri, disarankan untuk
mengonsumsi obat.
Sedangkan kolesterol
yang karena faktor eksternal disarankan untuk mengubah gaya hidup. Setelah
beberapa waktu kemudian dievaluasi, baru diberikan obat jika kolesterolnya
belum juga turun. Fungsi obat adalah untuk mencegah atau membongkar
terbentuknya kolesterol.[D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Dilaporkan Ke KPK, Bibit Waluyo Tanggapi Santai
Luthfi: Swasembada Itu Ancam Ketahanan Daging
Eyang Subur Diperiksa Terkait Pencemaran Nama Baik
Dijamin Tak Ada Penggusuran, Warga Akhirnya Buka Jalan
Presiden PKS Akui Ketemu Direktur PT Indoguna
Menkeu Baru Harus Dapat Restu Washington
