SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Mei 2013
Pencarian Arsip

Keluarga TKI Tewas Ditembak di Malaysia Temui Komnas HAM
Senin, 30 April 2012 | 12:20

Ilutrasi tertembak [google] Ilutrasi tertembak [google]

[MATARAM]  Perwakilan keluarga tenaga kerja Indonesia asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang tewas tertembak di Negeri Sembilan, Malaysia, 22 Maret 2012, akan ke Jakarta untuk menemui Komisi Nasional Hak Azasi Manusia.

"Sore nanti, perwakilan dari ketiga TKI tewas tertembak itu akan ke Jakarta untuk menemui Komnas HAM, dan kami akan mendampinginya," kata Koordinator LSM Koslata NTB Muhammad Saleh di Mataram, Senin (30/4).

Saat Saleh mengemukakan hal itu, tiga orang perwakilan keluarga TKI tersebut sudah berada di Kantor Koslata di Mataram, dan telah siap berangkat ke Jakarta.

Ketiga perwakilan keluarga TKI itu masing-masing H Ma'sum, Nurmawi dan Tohri, yang merupakan ayah dan kakak dari ketiga TKI asal Lombok Timur, yang tewas ditembak polisi Malaysia itu.

Ketiga TKI korban tewas tertembak itu yakni Mad Noor (28), warga Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, dan Herman (34) serta Abdul Kadir Jaelani (25). Herman dan Jaelani merupakan paman dan keponakan, warga Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lotim.

Herman bekerja sebagai buruh bangunan di Mega Five Dev SSDN BGH, Jalan Tuanku Antan, Seremban, sementara Jaelani sebagai buruh bangunan di Ashami Enterprise, KG Baru, BT3 Mambau, Lorong Rajawali Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Sedangkan Mad Noor sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit di Lot 4302 KG Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Ma'sum merupakan ayah dari Herman, dan Nurmawi kakak dari Mad Noor dan Tohri kakak dari Abdul Kadir Jaelani.

Ketiganya mengaku baru merasa tenang jika telah bertemu Komnas HAM dan mengungkapkan berbagi hal yang mengganjal perasaan mereka.

"Kami belum tenang kalau pelaku penembakan belum dihukum. Kami akan datangi Komnas HAM, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan pihak lainnya seperti BNP2TKI dan Menteri Luar Negeri yang telah mengumumkan hasil otopsi," ujar Ma'sum.

Ma'sum tidak yakin anaknya ditembak mati karena hendak merampok, karena semasa hidupnya di kampung halamannya belum pernak sekalipun dilaporkan oleh tetangga kalau anaknya itu mencuri.

Hal serupa diungkapkan Nurmawi dan Tohri, sehingga ketiganya telah bertekad untuk meminta bantuan Komnas HAM, guna mendesak proses hukum terhadap oknum polisi Malaysia yang melakukan penembakan secara keji itu.

Versi Malaysia, ketiga TKI asal NTB itu ditembak secara brutal. Herman ditembak di kepalanya, sementara Jaelani dan Tohri ditembak di kepala dan dadanya secara berganda.

"Kami juga persoalkan, proses otopsi pertama di Rumah Sakit Port Dickson Malaysia, yang dilakukan tanpa meminta persetujuan keluarga," ujar Ma'sum, Nurmawi dan Tohri secara bergantian. [Ant/L-9]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN