Kebutuhan BBM untuk Kalimantan Jangan Dibatasi
Selasa, 15 Mei 2012 | 11:53
Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto [jakartaglobe] [JAKARTA] Kebutuhan bahan bakar
minyak (BBM) untuk daerah Kalimatan jangan dibatasi. Sebab, kalau dibatasi akan
membawa dampak besar bagi Kalimantan dan Indonesia umumnya.
Demikian diatakan Ketua Umum Kamar
Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, kepada pers di
Jakarta, Senin (14/5).
Suryo berharap pemerintah
pusat permasalahan kelangkaan BBM di Kalimantan.
“Pemerintah harus memperhatikan
permasalahan ini dengan serius untuk menghindari dampak permasalahan lain yang
bisa ditimbulkan seperti kerugian ekonomi dan stabilitas nasional yang
terganggu,” kata dia.
Sistem distribusi BBM di Kalimantan
mengalami gejolak akibat kelangkaan yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan
terakhir. Minimnya kuota untuk Kalimantan menjadi penyebab utama terjadinya
stagnasi dan kerugian ekonomi yang tinggi. Hal ini mengundang reaksi keras dari
para gubernur di Kalimantan.
Sebagaimana diinformasikan, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin yang juga
merupakan Ketua Forum Gubernur se-Kalimantan, menyatakan, hasil pertemuan empat
Gubernur se-Kalimantan beberapa waktu lalu di Jakarta, bersepakat tidak akan
mengirim hasil tambang dari daerah masing-masing keluar daerah, jika pemerintah
pusat tidak memenuhi permohonan penambahan kuota BBM bersubsidi.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Koordinator Wilayah Tengah,
Endang Kesumayadi, mengatakan, kerugian ekonomi yang bisa ditimbulkan akibat
minimnya kuota yang pada akhirnya menyebabkan kelangkaan di wilayah Kalimantan
diperkirakan mencapai 10 triliun per bulan.
“Sudah tiga bulan terakhir ini
Kalimantan mengalami kelangkaan BBM paling parah. Antrian saja bisa mencapai
3-4 km. Di sana harga mencapai Rp 15000 - Rp 20.000/liter tapi masyarakat masih
membelinya. Sedangkan di Jawa, harga mau naik saja mendapat reaksi keras,”
ungkap Endang.
Endang memaparkan, proses distribusi barang juga terhambat karena adanya
stagnasi di lapangan. Sedikitnya 7.000 truk di Kalimantan Selatan, 5.600 truk
di Kalimantan Timur dan 3.500 truk di Kalimantan Barat terhambat beroperasi.
Hal ini memicu stagnasi dan antrian panjang di pelabuhan hingga 2-3 hari.
“Untuk angkutan batu bara saja yang
biasanya sehari bisa 2 atau 3 rit, sekarang hanya 1 rit saja dalam dua hari,”
kata dia.”
Menurut Endang, selama ini masyarakat Kalimantan merasa “dianaktirikan” dari
pembangunan baik itu listrik, infrastruktur dan kuota BBM. Padahal, hasil
eksploitasi sumber daya alam Kalimantan memberikan kontribusi yang sangat besar
terhadap pembangunan nasional.
Pihaknya sangat menyayangkan Kementerian ESDM yang tidak bisa mengakomodir
kepentingan masyarakat Kalimantan dengan tidak memenuhi Kuota BBM yang
dibutuhkan. “Total nasional kuota BBM subsidi sebesar 39 juta kiloliter,
sebagaimana diatur dalam APBN-P 2012. Namun, dalam realisasinya Kalimantan hanya
mendapat 5 persen dari kuota BBM Nasional, yang idealnya Kalimantan harusnya
bisa mendapat 7,5 persen."
Sebagai solusi untuk mengurangi dampak ekonomi yang dialami dan dampak lain
yang lebih jauh lagi, Endang menyarankan agar pemerintah pusat dapat
berkonsultasi dengan pemerintah daerah untuk mengetahui kebutuhan kuota BBM
yang sebenarnya untuk Kalimantan. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Diminta Pertanggungjawabkan Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Deplu AS Bilang RI Gagal Lindungi Minoritas
Spider-Man Kembali ke Layar Lebar di 2016 dan 2018
KPK Diminta Audit Pungli Oleh Kemnakertrans
Adik Tiri Gubernur Atut Ditetapkan Jadi Tersangka
Huawei Ascend P6, Ponsel Cerdas Paling Tipis di Dunia
Dicecar Soal Pernikahan, Djoko Susilo Gerah
Pemerintah Ajukan Penundaan Amnesti TKI
Nazaruddin Berbisnis dari Penjara
Antisipasi Mahasiswa Ngamuk, Kampus Nommensen Diliburkan Selama Sepekan
