KBRI Harus Dievaluasi
Katakan TKI adalah Perampok, Polisi Malaysia Mengada-ada
Sabtu, 28 April 2012 | 10:49
Polisi Malaysia [google]
[JAKARTA] Direktur Eksekutif Migrant
Care Anis Hidayah menyakini ketiga TKI asal Lombok NTB yakni Herman, Abdul
Kader Jaelani, dan Mad Noor, bukanlah perampok seperti yang dituduhkan pihak kepolisian
Malaysia.
Menurutnya,
kepolisian Malaysia hanya mengada-ada saja.
Dalam peristiwa menghilangkan nyawa
warga negara, harus ada evaluasi dari aparat yang terkait.
“Informasi yang diberikan
Kementerian Luar Negeri Indonesia adalah info dari polisi Malaysia bahwa mereka
penjahat pakai topeng, bawa parang. Sementara rekam jejak dari keluarga tidak pernah ada
tindakan kriminal. Kalaupun terbukti kriminal, harus ada proses hukum, ada
pengadilan,” kata Anis dalam diskusi "Urus TKI Setengah Hati" di Jakarta,
Sabtu (28/4).
Migrant Care
melihat fakta-fakta dari keluarga korban, yakni bapak dari korban Herman yakni
Maksum menyatakan bahwa kedua bola mata sudah tidak ada, otak diisi plastik,
alat operasi yang teringgal dan ada organ-organ dalam yang yang terputus dan
tidak pada tempatnya lagi.
Walaupun Maksum
bukan ahli forensik, lanjut Anis, apa yang disaksikan keluarga menjadi catatan
penting bagi pemerintah.
Seharusnya pemerintah menindaklanjuti pernyataan pihak
keluarga. KBRI dinilai tidak melakukan pengecekan saat pemulangan jenazah
ketiga TKI ke Tanh Air.
Ia berharap,
pemerintah Indonesia memberi waktu mengusut kasus tersebut ke Malaysia.
Apalagi, jenazah TKI yang diautopsi ulang di Lombok kemungkinan besar hasilnya
berbeda.
Anehnya, KBRI di Malaysia mengatakan TKI mati minum racun.
Anis meminta
pemerintah mengevaluasi KBRI di Malaysia. Sebab, belum adanya pengumuman resmi
atau tak resmi soal dugaan pencurian organ, para TKI tetap tanggung jawab
pemerintah.
"Secara institusi, KBRI harus
dievaluasi. Kalau kasus tidak tercium oleh publik, bisa jadi semua yang terjadi
seperti ini. Apalagi kematian TKI paling banyak di Malaysia. Rata-rata 700-an
orang per tahun, bisa beda sekitar 35 persen dari tingkat kematian di negara
lain," jelas Anis. [H-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Aiptu Labora Sitorus Mesin ATM Perwira Polisi Papua Hingga Mabes?
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Fathanah Ajak Maharani Berhubungan Intim
Jangan Sampai Stasiun Tujuan Terlewat
Difitnah Istri Selingkuh Dengan Anaknya, Syarief Hassan Polisikan Triomacan
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Ahmad Fathanah Akui Curi Dokumen KPK
Gadis ABG Diperkosa Pamannya Sendiri
