Indonesia Terus Diremehkan
Kasus Pembunuhan TKI di Malaysia, SBY Harus Berani Bertindak
Senin, 30 April 2012 | 10:09
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). [Antara]
[JAKARTA] Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono perlu mengambil langkah tegas dengan menarik Perwakilan
RI di Kuala Lumpur, Malaysia sekaligus mengusir Duta Besar Malaysia di
Jakarta, terkait kasus pemberondongan tembakan oleh lima polisi negara itu
terhadap tiga TKI asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat hingga membuat
ketiganya masing-masing Herman (34), Abdul Kadir Jaelani (25), dan Mad Noor
(28) tewas secara mengenaskan.
Demikian dikatakan Ketua Dewan
Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, di Jakarta,
Minggu (29/4). "Ini, kan sudah keterlakukan dan sadis seperti
menembaki binatang saja, apalagi pihak Malaysia terkesan masih menutupi
kasus itu di samping sangat terlambat melaporkan peristiwanya ke
KBRI," jelas mahasiswa program S3 ilmu kesejahteraan sosial
Universitas Indonesia itu.
Ia mengatakan, kasusnya terjadi pada
24 Maret 2012 dini hari dan pemberitahuannya baru terjadi sekitar 2 April
2012, jelas tidak bisa ditoleransi sama sekali. Selain menarik Dubes RI dan
mengusir Dubes Malaysia, lanjut Syahganda, pemerintah RI juga harus terus
mengusut peristiwa tersebut sampai tuntas serta membawanya ke mahkamah
internasional, demi menjaga kehormatan bangsa dan membela warga negaranya
atas penistaan Malaysia.
Ia menambahkan, jika pemerintah RI
terkesan mendiamkan atau tidak bersikap keras, maka Malaysia akan semakin
menganggap remeh Indonesia sebagaimana berbagai kasus penistaan lainnya
beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kepolisian Malaysia telah melakukan kejahatan kemanusiaan
karena melakukan penembakan membabi-buta pada warga negara lain khususnya
TKI, meski terdapat alasan ketiga TKI diindikasikan sebagai perampok.
"Di negara mana pun prosedur penanganan atau untuk menembak seseorang
itu ada tahap-tahapnya, bukan langsung dibunuh," tegasnya.
Syahganda mengungkapkan, pemerintah RI memang harus mempertimbangkan
pemutusan hubungan diplomatik kedua negara akibat Malaysia sering menodai
kehormatan warga negara ataupun kedaulatan wilayah Indonesia. "Kita
ini bangsa dan negara besar, tidak boleh takut sedikit pun kepada Malaysia
jika tak ingin ada TKI dibunuh lagi, termasuk mendapat pelecehan
terus-menerus," ujarnya. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Gadis Remaja Diperkosa 5 Anggota Geng Motor
