SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 April 2014
Pencarian Arsip

Kasus Korupsi PLTS, Saan Mustopa Bantah Tudingan Nazaruddin
Jumat, 14 September 2012 | 11:09

Saan Mustopa [google] Saan Mustopa [google]

[JAKARTA] Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat (DPP PD) Saan Mustopa membantah tudingan mantan bendahara PD Muhammad Nazaruddin yang menyebut bahwa ada pertemuan antara dirinya, Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum dan  Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno untuk membahas proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) pada 2008.  

"Kenal saja tidak pernah (dengan Erman). Ketemu saja tidak pernah. Salaman juga tidak pernah," kata Saan saat dihubungi SP, di Jakarta, Jumat (14/9).  

Dia mengaku tidak menahu sama dengan proyek PLTS. Apalagi saat itu, Saan belum terpilih sebagai anggota DPR. "Sekali lagi, saya tidak kenal, tidak pernah ketemu dan tahu menahu. Apalagi saat itu, saya belum jadi anggota DPR. Saya tidak ngerti maksudnya (Nazaruddin)," imbuhnya.  

Bahkan, lanjut Saan, dirinya tidak pernah menginjakkan kaki di Kemnakertrans. “Saya menginjakkan kaki di Kemnakertrans tidak pernah. Karangan Nazaruddin saja itu semua,”  kata anggota Komisi III DPR itu.  

Sementara itu, pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar meyakini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang mendalami keterangan Nazaruddin terkait kasus dugaan korupsi PLTS di Kemnakertrans tahun 2008  senilai Rp 8,9 miliar. "Apa yang disampaikan Nazaruddin baru sebatas informasi yang perlu didukung keterangan atau data lain. Saya yakin, KPK sedang mendalami keterangan itu karena keterangan tersebut penting," kata Abdul Fickar Hadjar, kepada SP, di Jakarta, Jumat (14/9).  

Seperti diketahui, Nazaruddin mengaku telah memberi keterangan kepada penyidik KPK ketika diperiksa sebagai saksi untuk Neneng Sri Wahyuni kemarin, bahwa, mantan Menakertrans Erman Suparno, Anas Urbaningrum, dan Saan Mustopa terlibat dalam kasus ini.  

Bahkan, menurut Nazaruddin banyak juga pejabat Kemnakertrans yang menerima sejumlah uang. Abdul Fickar menjelaskan, sebuah informasi tidak serta-merta ditindaklanjuti dengan memanggil nama-nama yang disebut dalam suatu pemeriksaan.   Penyidik, perlu memiliki suatu informasi tambahan untuk memanggil yang bersangkutan.

Akan tetapi, Abdul berpendapat, jika Nazaruddin mendukung keterangannya dengan menyertakan bukti tambahan atau penyidik telah memiliki data yang mendukung keterangan terpidana kasus suap wisma atlet itu maka, tidak ada alasan bagi KPK untuk tidak memanggil Erman Suparno, Anas Urbaningrum, dan Saan Mustopa untuk dikonfirmasi.  

Kemarin, Nazaruddin diperiksa sebagai saksi untuk istrinya, Neneng Sri Wahyuni, yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi PLTS di Kemnakertrans pada tahun 2008. Nazaruddin diperiksa lebih dari 12 jam. Dalam kasus ini, istrinya  Neneng
diduga berperan sebagai perantara proyek (broker) pada proyek PLTS senilai Rp 8,9 miliar tersebut. Proyek itu dimenangkan oleh PT Alfindo. KPK mencium ada kerugian negara Rp 3,8 miliar di sana.[E-11/C-6]

   




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN