SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 20 April 2014
Pencarian Arsip

Kapal Induk Rusia Bakal Berhadapan dengan AS di Suriah
Selasa, 29 November 2011 | 10:49

Ilustrasi kapal induk Rusia [google] Ilustrasi kapal induk Rusia [google]

 [MOSKWA] Rusia menempatkan kapal-kapal perangnya di pelabuhan Tartus, Suriah, bagian dari rencana jangka panjang untuk memperkuat pertahanan maritim, yang secara providensial saat ini sangat berguna untuk mencegah potensi konflik di negara strategis Timur Tengah (Timteng) itu. Terutama dengan meningkatnya ancaman dari Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya untuk melakukan intervensi di Suriah.  

Kelompok kapal perang Rusia akan terdiri dari tiga kapal induk yang dipimpin kapal pengangkut pesawat dan rudal penjelajah Laksamana Kuznetsov. Para pejabat militer Rusia mengatakan penempatan kapal-kapal itu tidak berhubungan dengan krisis yang tengah terjadi di kawasan, namun bagian dari rencana yang sudah dipersiapkan lebih dari setahun lalu.  

Mantan kepala staf angkatan laut Rusia Laksamana Viktor Kravchenko, menilai bahwa keberadaan kekuatan militer dari pihak selain NATO sangat berguna untuk kawasan Timteng, karena dapat mencegah meningkatnya konflik bersenjata. Kravchenko mengatakan bahwa skuadron khusus angkatan laut untuk menangkal pasukan Barat di Laut Mediterania, diciptakan sejak masa Uni Soviet.  

Untuk memperbaiki dan memasok kebutuhan kapal-kapal itu, Moskwa memerlukan pangkalan di kawasan, dan itulah mengapa Tartus di Rusia menjadi sangat penting. Saat ini, Tartus banyak digunakan untuk mendukung kapal Laut Hitam Rusia, dengan sekitar 600 personil militer dan sipil dari Kementerian Pertahanan Rusia ditempatkan di pangkalan itu.  

Laporan mengenai penguatan kapal-kapal Rusia ke Suriah muncul beberapa hari setelah kapal induk bertenaga nuklir AS, USS George HW Bush, bersandar di lepas pantai Suriah, bersama dengan beberapa kapal induk AS lainnya yang diyakini akan berusaha bertahan di Mediterania, untuk ambil bagian dalam Operasi Menegakkan Kebebasan dan Fajar Baru di Suriah.  

Interfax melaporkan bahwa kapal-kapal dari Armada ke-6 AS juga melakukan patroli di kawasan. “Tentu, angkatan laut Rusia di Mediterania akan sepadan dengan kekuatan yang dibawa Armada ke-6 AS yang termasuk dengan satu atau dua kapal induk serta beberapa kapal perang lain yang mengawal,” kata Kravchenko.

“Tapi hari ini tidak ada yang berbicara tentang kemungkinan bentrok militer, karena setiap serangan pada kapal Rusia apapun akan dianggap sebagai deklarasi perang dengan segala konsekuensi,” tambahnya.  

Keberadaan sejumlah kapal induk AS, seiring dengan peningkatan tekanan dari Liga Arab dengan menjatuhkan sanksi, bagian dari skenario menciptakan ketegangan di Suriah yang akan berujung dengan operasi militer untuk alasan kemanusiaan, seperti yang dilakukan Barat pada Libia. AS, Turki dan sejumlah negara-negara Arab yang menjadi sekutu Barat telah memerintahkan warga negara mereka keluar dari Suriah.

Paris telah mendesak dibuatnya zona aman yang diklaim untuk melindungi sipil, serta memberi jalan masuknya kelompok kemanusiaan ke Suriah.

Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe mengatakan telah berbicara dengan PBB, AS dan Liga Arab mengenai isu itu.

Tertutupnya kemungkinan aksi militer dengan dukungan PBB, setelah veto dari Rusia dan Tiongkok, membuat Liga Arab menjadi tombak terdepan dalam usaha penyerangan ke Suriah.  

Situs berita Al Bawaba yang berbasis di Yordania, menyebut penerapan zona larangan terbang di Suriah oleh Liga Arab dengan dukungan logistik dari AS tengah didiskusikan. Awal November, Rusia juga telah mengirimkan kapal-kapalnya ke Tartus, yang ditengarai membawa penasehat-penasehat teknis untuk membantu Suriah membangun dan mengoperasikan sistem rudal S-300 yang dipasok Rusia.  

Analis politik dari situs majalah internet infowars.com, Patrick Henningsen, meyakini peningkatan ketegangan atas Suriah diantara kekuatan-kekuatan utama dunia akan mengarah pada politik perang dingin baru di dunia. “Saya pikir kita akan melihat Perang Dingin baru terjadi dalam dua tahun mendatang, dan kita telah melihat tahap awalnya sekarang,” ucap Henningsen.  

“Jika Barat berpikir mereka akan dengan mudah melakukan zona larangan terbang di Suriah, ini adalah situasi yang berbeda dari Libia. Ini akan jadi pertama kali di Suriah, dan juga jika melihat ke depan, dengan Iran, maka Barat saat ini tengah berusaha mengganggu sebuah negara yang memiliki kemampuan untuk menyerang balik,” kata Henningsen, merujuk pada kerjasama militer yang erat antara Rusia dengan Suriah dan Iran. [RT/B-14]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN