SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 22 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Kampus-kampus di Banten Telah Disusupi NII
Jumat, 6 Mei 2011 | 8:31

Ilustrasi bendera NII [google] Ilustrasi bendera NII [google]

[SERANG] Kampus-kampus dan pergururan tinggi (PT) di Banten, seperti Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), telah disusupi gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sejumlah dosen  dan mahasiswa universitas tersebut aktif dalam gerakan NII.

Perekrutan anggota NII di lingkungan kampus di Banten ini dilakukan orang-orang NII dari Jakarta. Namun, ada juga yang direkrut oleh pengurus NII wilayah Banten. NII di wilayah Banten memiliki dua kode yakni Kode 98 untuk wilayah Banten Utara dan Kode 99 untuk wilayah Banten Selatan.

Koordinator NII Crisis Centre (NCC) Sukanto, Kamis (5/5) menjelaskan gerakan NII di Banten telah merasuki berbagai kampus besar lain selain Untirta yakni Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) SMH Banten di Serang dan Universitas Mathla’ul Anwar Pandeglang.

“Kalau untuk NII di Kampus Untirta sudah ada laporan. Tapi kemungkinan besar juga sudah masuk ke kampus lain. Terlebih jika kita melihat sejarah NII di Banten, khususnya di Menes, Pandeglang, dan Serang, yang cukup besar pada tahun 1970-1980-an. Cuma faksi mereka terpecah,” ujar Sukanto.

Dia menuturkan, di Banten ada faksi yang namanya Abu Toto Mathla,ul Anwar, Menes Pandeglang dan juga ada faksi lainnya di daerah Serang. Ada pula faksi Abdullah Sungkar. Mereka semua ini berasal dari alumni Pesantren Ngruki Pimpinan Abu Bakar Ba,syir. “Alumni Ngruki juga terpecah ke Jamaah Ansharut Tauhid, dan ke Jamaah Islamiyah (JI),” katanya.

Menurut Sukanto, pelaku bom bali Imam Samudera yang sudah dieksekusi mati, direkrut NII sejak sekolah. Namun kemudian ia merasa tak puas, dan ia menjalin hubungan dengan Jamaah Islamiyah (JI) internasional. “ Imam Samudera kemudian lebih dekat ke JI, dan ia menjadi lebih radikal. Saat ini pun saya kira masih ada kader-kader muda NII yang tersebar di berbagai daerah, termasuk   di kampus-kampus dan di sekolah-sekolah di Banten.  Terutama alumni pelatihan Ambon, dan Poso. Pasti ada regenerasi setelah itu ,” katanya.

Kepala UPT Humas Untirta Boyke Pribadi membenarkan informasi tersebut. Dikatakan, saat ini pun masih ada dosen yang diinformasikan aktif di NII.

“Para dosen dan mahasiswa itu tidak melakukan aktivitas NII lagi di dalam kampus. Empat mahasiswa yang aktif di NII sekarang sudah lulus. Sebelum tahun 1998, memang ada mahasiswa yang melakukan aktivitas NII di dalam kampus. Tapi sekarang saya pastikan tak ada lagi aktivitas NII di dalam kampus,” katanya.

Boyke mengatakan, pihak Untirta telah mendapat informasi soal NII itu dari kepolisian sejak tahun 2007 lalu. “ Tapi saat ini tak ada lagi aktivitas NII di dalam kampus. Dan Mahasiswa saat ini pun kecil kemungkinan terlibat dengan NII sebab sejak tahun 2008 kami telah mengadakan kegiatan pembinaan keagamaan terhadap mahasiswa baru, berupa mentoring yang dilakukan selam 3 bulan sampai dengan 6 bulan. Tapi kalau rekrutmen itu dilakukan di luar kampus saya tak tahu,” ujarnya.

Organisasi Mahasiswa Dirasuki NII
Gerakan NII dalam merekrut anggotanya tidak hanya berorientasi individu tetapi juga kelompok atau organisasi. Diduga sejumlah organisasi kemahasiswaan di sjeumlah kampus di Banten telah dirasuki pengaruh NII.

Pembantu Rektor II Untirta Banten Aris Suhadi SH MH mengatakan, jika dicermati ada organisasi kemahasiswaan mirip gerakan NII. Sempat juga, katanya, muncul symbol-simbol mirip gerakan NII di dalam kampus, namun semuanya itu sudah ditertibkan.

“Kami ini kembalikan organisasi kemahasiswaan ke tugas pokok dan fungsinya. Kami akan tetap berusaha untuk mencegah gerakan NII masuk ke lingkungan kampus dengan  pendekatan konstruktif dan dialogis dengan para mahasiswa, dan mengarahkan karakter mahasiswa agar lebih menghargai falsafah Bhinneka Tunggal Ika sebagai nilai bangsa yang harus dijunjung tinggi,” ujarnya.

Aris mengungkapkan  pihaknya bersama para aktivis mahasiswa Untirta belum lama ini  telah menyadarkan 3 mahasiswa baru, yang pernah direkrut NII. Mereka adalah mahasiswa Jurusan Akuntansi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Untirta.

“Sasaran atau target perekrutan anggota NII itu memang kampus. Rekrutmen itu dilakukan di luar kampus, makanya kita sulit mendeteksi. Beberapa aktivis mahasiswa seperti Ketua Dewan Perwakilan mahasiswa (DPM) Untirta juga ikut membantu upaya melawan gerakan NII ini. Kami telah menelusuri pola rekrutmennya, tetapi penulusuran itu mengalami missing link,  karena mungkin mereka menggunakan pola perekrutan dengan sistem jaringan terputus. Kami tidak mampu menyikap sampai ke akar jaringannya,” kata Aris. [149]

 




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»