SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 1 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Jumlah Kematian Bayi di NTT Menurun
Rabu, 11 Juli 2012 | 15:36

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Stefanus Bria Seran, Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapali dan  Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono.[Yoseph Kellen] Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Stefanus Bria Seran, Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapali dan Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono.[Yoseph Kellen]

[KUPANG] Jumlah kematian bayi melahirkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga tahun 2011, mengalami penurunan 33 kasus dari sebelumnya 2010 berjumlah 1.305 menjadi 1.272 kasus pada 2011

"Akumulasi angka kematian bayi tertinggi berada di Kabupaten Belu dari jumlah keseluruhan di tahun 2011 sebanyak 1.272 kasus," kata Kepala Dinas Kesehatan NTT dr Stef Bria Seran, saat menyampaikan materi pada Seminar Peringatan Hari Kependudukan Dunia 2012 di Kupang, Rabu (11/7).

Dalam seminar kerja sama UNFPA, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan NTT serta BKKBN NTT itu, dr Sete Bria Seran, mengatakan, jumlah persalinan di NTT sepanjang tahun 2011 sebanyak 96.273 yang terdiri dari persalinan yang menggunakan fasilitas kesehatan berjumlah 74.762 persalinan dan non fasilitas kesehatan 21.511 persalinan.

Dari jumlah persalinan itu, jumlah kematian ibu sebanyak 208 kasus. Bila dibandingkan tahun 2010, kasus kematian ibu melahirkan mengalami penurunan. Dimana, pada tahun 2010, jumlah persalinan sebanyak 87.798 dengan jumlah kematian ibu melahirkan sebanyak 252 kasus. 

“Strategi yang diambil untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi melahirkan di NTT melalui revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Semua ibu melahirkan dilaksanakan di fasilitas kesehatan yang memadai,” kata dr Stefanus. Kepala Perwakilan United Nations Population Fund (UNFPA) sebuah lembaga pembangunan internasional tentang populasi,

Mr Jose Ferraris, menyampaikan, sebagai lembaga internasional di bidang pembangunan, berkomitmen untuk memenuhi visi dunia dimana setiap kehamilan diinginkan, setiap kelahiran aman, dan setiap potensi anak muda terpenuhi. Secara nasional, jumlah kematian ibu di Indonesia masih tinggi, dimana setiap 100.000 kelahiran hidup, terdapat 228 ibu meninggal.

Jumlah ini masih jauh di atas target Indonesia di tahun 2015 mendatang, yakni sebesar 102 kasus.  “Masih tingginya angka kematian ibu melahirkan ini disebabkan oleh kurangnya kontinuitas dan keterlambatan dalam pelayanan persalinan. Selain itu, tidak adanya konsistensi dalam hal kualitas pelayanan di setiap tingkatan,” kata Mr Jose.

Ia mengatakan, perempuan perlu diberdayakan untuk mendapatkan akses yang mudah dan terjangkau dalam mendapatkan pelayanan keluarga berencana (KB) yang aman dan efektif. Hal itu kata Jose, akan membantu mengatur dan merencanakan kehidupan reproduksi kaum perempuan, pasalnya, populasi usia reproduksi di Indonesia yaitu kelompok usia 15- 29 tahun berjumlah 126 juta jiwa.

Jose menambahkan, NTT merupakan salah satu provinsi yang menjadi fokus kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia, karena dalam konteks pembangunan kesehatan reproduksi, wilayah kepulauan itu merupakan salah satu provinsi dengan angka kematian ibu tertinggi yakni berjumlah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh di atas angka nasional yakni sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Program revolusi KIA yang diluncurkan Pemerintah Provinsi NTT sejak tahun 2009 untuk mengatasi kematian ibu melahirkan perlu didukung. Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Slamet Riyadi Yuwono pada kesempatan itu mengatakan, jumlah kematian ibu melahirkan yang masih tinggi sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup harus ditekan.  

Diharapkan, pada tahun 2014 mendatang, kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia bisa ditekan hingga 208 per 100.000 kelahiran hidup. Bagi orang yang berisiko mengidap penyakit menular seksual dan atau HIV-Aids dianjurkan untuk memakai kondom.  “Revolusi KIA yang dijalankan di NTT akan diadopsi menjadi program nasional untuk diterapkan di sejumlah daerah yang memiliki kemiripan dengan NTT,” kata Slamet  (YOS)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!