Jokowi Optimistis Mampu Rawat Kemajemukan Jakarta
Senin, 11 Juni 2012 | 12:04
Jokowi (tengah) diapit dua anggota DPR dari Fraksi PDI-P Maruarar Sirati dan Rieke Dyah Pitaloka [antara] [JAKARTA] Dalam beberapa kesempatan debat antarcalon
gubernur, beberapa pihak meragukan kemampuan Joko Widodo memimpin Jakarta. Calon
gubernur yang diusung PDIP dan Gerindra ini dianggap sukses sebatas saat
memimpin Kota Solo yang masyarakatnya relatif homogen, padahal Jakarta adalah
megapolitan dengan nuansa kemajemukan sosial ekonomi dan budaya yang sangat
tinggi.
Hal ini ditepis cagub nomor urut tiga ini. Dalam acara
dialog dengan masyarakat Indonesia Timur di Bellagio Cafe, Mega Kuningan,
Jakarta Selatan, Minggu (10/6), Jokowi menjelaskan beberapa kiatnya dalam
merawat pluralitas Jakarta.
Dituturkan, kunci pertama untuk merawat kemajemukan adalah
dengan keterlibatan sosial secara langsung dari sang pemimpin. "Ada yang
namanya intervensi sosial, ada yang namanya pendekatan kelompok, ada yang
namanya pendekatan individu. Kalau itu dilakukan pemimpinnya sendiri, pasti
bisa ditangani (kemajemukan)," papar Jokowi.
Dikatakan Walikota Terbaik Indonesia Tahun 2011 ini, semua
kelompok dari berbagai lapisan masyarakat harus mendapat kesempatan untuk dapat
berdekatan secara langsung dengan pemimpinnya. Menurutnya, kemajemukan akan
sulit dirawat jika pemimpin hanya menunggu laporan dari belakang meja,
sementara pendekatan dilakukan oleh para staf atau bawahan. Kunci sukses
kepemimpinan adalah bertemu dan menangkap secara langsung.
"Pemimpinnya harus mau turun ke bawah, melakukan
pendekatan kelompok. Kalau itu sudah selesai, lakukan pendekatan individu.
Hanya itu ilmunya," papar Jokowi.
Dikatakan, kondisi sosio-kultural warga Jakarta yang
beraneka ragam, ditambah dengan latar belakang ekonomi warga yang jomplang
antara kaya-miskin. Setiap pemimpin harus dapat melihat perbedaan tersebut.
Dicontohkan, Jakarta yang berada di sekitar Kuningan, Thamrin, dan Sudirman
memiliki status ekonomi yang lebih baik dibanding warganya yang tinggal di
daerah Marunda, Cilincing, Kampung Ambon.
Kondisi ekonomi yang bervariasi ini menurut Jokowi, dapat
diatasi dengan manajemen sistem yang tepat. Dikatakan, semua warga harus bisa
mengakses sistem tersebut dengan cara dan kesempatan yang sama. Kartu Kesehatan
Jakarta yang menjadi salah satu programnya, dikatakan Jokowi merupakan satu
contoh yang dapat diterapkan.
"Siapa pun warga, kaya maupun miskin bisa terlayani
dengan cara yang sama dan dalam bentuk layanan yang sama," kata Jokowi.
Sementara itu, di mana dan negara mana pun, perubahan
selalu dipelopori oleh kaum muda. Sebab, kaum muda memiliki banyak kekuatan dan
kapasitas untuk melakukan perubahan. Saat ini, generasi muda Jakarta
menginginkan adanya perubahan agar hidup lebih baik pada masa mendatang.
"Ke depan (pemuda) ingin banyak hal perubahan di
negara ini, dimulai dari Jakarta. Sebab, Jakarta merupakan barometer politik di
Indonesia," kata Restu Hapsari, tokoh kepemudaan, dalam dialog bertajuk
"Kaum Muda Bicara Perubahan Jakarta", di Jakarta, Minggu (10/6).
Selain Restu, dialog ini menghadirkan sejumlah pembicara
lain seperti, calon gubernur DKI Jakarta Jokowi, Amril TG dari komunitas
blogger, dan Alex J Datuk dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) DKI
Jakarta. Restu mengatakan, kaum muda masih ingin selalu belajar dan mendapatkan
sesuatu yang baru. Itu mengapa,
Kata dia, kaum muda dalam momentum pemilu kepala daerah
DKI Jakarta berkonsolidasi karena ingin adanya perubahan yang lebih baik pada
masa mendatang.
Restu mengatakan, setiap perubahan selalu dipelopori oleh
kaum muda. Sebab, kata dia, kaum muda memiliki kekuatan dan kapasitas untuk
melakukan banyak perubahan.
Oleh karena itu, kata Restu, persoalan di Jakarta
yang sedemikian kompleks hanya bisa dijawab dengan adanya perubahan.
Sementara itu, Alex mengatakan, pengangguran menjadi salah
satu persoalan besar di Jakarta, selain macet dan banjir yang hingga kini belum
bisa diselesaikan oleh pemimpin Jakarta. Saat ini, kata dia, ada ratusan ribu
lulusan yang menganggur. Di sisi lain, kata dia, lapangan kerja yang dibangun
belum memadai.
Selain itu, kata Alex, persoalan lain yang masih
menghantui warga Jakarta adalah ruang hijau di Jakarta yang masih sangat minim
akibat kebijakan pembangunan yang timpang. Pusat-pusat perbelanjaan telah
menyingkirkan ruang hijau dan pelaku usaha ekonomi kecil di Jakarta.
Oleh karena itu, kata dia, pemimpin Jakarta mendatang
harus memberikan ruang dengan baik kepada generasi muda untuk berwirausaha.
Semua pemangku kepentingan harus memberikan kesempatan bagi munculnya pegiat
wirausaha baru di Jakarta. "Jangan pernah takut dan harus berani mengambil
resiko," ujarnya. [FFS/W-11]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Diminta Pertanggungjawabkan Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Mari Membaca Berita BBM Versi Media Sosial
Tolak Kenaikkan BBM, Polisi Tahan Rektor Universitas HKBP Nommensen
Deplu AS Bilang RI Gagal Lindungi Minoritas
Sidang Paripurna DPR Sahkan UU APBN-P 2013
Wartawan Jambi Aksi Damai Protes Aparat Keamanan
KPK Diminta Audit Pungli Oleh Kemnakertrans
Spider-Man Kembali ke Layar Lebar di 2016 dan 2018
Polisi Menembak Langsung Kerumunan Massa
Dukung BBM Naik, Partai Koalisi Terancam Tenggelam di Pemilu 2014
