SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 19 Juni 2013
Pencarian Arsip

Jokowi Optimistis Mampu Rawat Kemajemukan Jakarta
Senin, 11 Juni 2012 | 12:04

Jokowi (tengah) diapit dua anggota DPR dari Fraksi PDI-P Maruarar Sirati dan Rieke Dyah Pitaloka [antara] Jokowi (tengah) diapit dua anggota DPR dari Fraksi PDI-P Maruarar Sirati dan Rieke Dyah Pitaloka [antara]

[JAKARTA] Dalam beberapa kesempatan debat antarcalon gubernur, beberapa pihak meragukan kemampuan Joko Widodo memimpin Jakarta. Calon gubernur yang diusung PDIP dan Gerindra ini dianggap sukses sebatas saat memimpin Kota Solo yang masyarakatnya relatif homogen, padahal Jakarta adalah megapolitan dengan nuansa kemajemukan sosial ekonomi dan budaya yang sangat tinggi.  

Hal ini ditepis cagub nomor urut tiga ini. Dalam acara dialog dengan masyarakat Indonesia Timur di Bellagio Cafe, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (10/6), Jokowi menjelaskan beberapa kiatnya dalam merawat pluralitas Jakarta.  

Dituturkan, kunci pertama untuk merawat kemajemukan adalah dengan keterlibatan sosial secara langsung dari sang pemimpin. "Ada yang namanya intervensi sosial, ada yang namanya pendekatan kelompok, ada yang namanya pendekatan individu. Kalau itu dilakukan pemimpinnya sendiri, pasti bisa ditangani (kemajemukan)," papar Jokowi.  

Dikatakan Walikota Terbaik Indonesia Tahun 2011 ini, semua kelompok dari berbagai lapisan masyarakat harus mendapat kesempatan untuk dapat berdekatan secara langsung dengan pemimpinnya. Menurutnya, kemajemukan akan sulit dirawat jika pemimpin hanya menunggu laporan dari belakang meja, sementara pendekatan dilakukan oleh para staf atau bawahan. Kunci sukses kepemimpinan adalah bertemu dan menangkap secara langsung.  

"Pemimpinnya harus mau turun ke bawah, melakukan pendekatan kelompok. Kalau itu sudah selesai, lakukan pendekatan individu. Hanya itu ilmunya," papar Jokowi.  

Dikatakan, kondisi sosio-kultural warga Jakarta yang beraneka ragam, ditambah dengan latar belakang ekonomi warga yang jomplang antara kaya-miskin. Setiap pemimpin harus dapat melihat perbedaan tersebut. Dicontohkan, Jakarta yang berada di sekitar Kuningan, Thamrin, dan Sudirman memiliki status ekonomi yang lebih baik dibanding warganya yang tinggal di daerah Marunda, Cilincing, Kampung Ambon.   Kondisi ekonomi yang bervariasi ini menurut Jokowi, dapat diatasi dengan manajemen sistem yang tepat. Dikatakan, semua warga harus bisa mengakses sistem tersebut dengan cara dan kesempatan yang sama. Kartu Kesehatan Jakarta yang menjadi salah satu programnya, dikatakan Jokowi merupakan satu contoh yang dapat diterapkan.  

"Siapa pun warga, kaya maupun miskin bisa terlayani dengan cara yang sama dan dalam bentuk layanan yang sama," kata Jokowi.  

Sementara itu, di mana dan negara mana pun, perubahan selalu dipelopori oleh kaum muda. Sebab, kaum muda memiliki banyak kekuatan dan kapasitas untuk melakukan perubahan. Saat ini, generasi muda Jakarta menginginkan adanya perubahan agar hidup lebih baik pada masa mendatang. "Ke depan (pemuda) ingin banyak hal perubahan di negara ini, dimulai dari Jakarta. Sebab, Jakarta merupakan barometer politik di Indonesia," kata Restu Hapsari, tokoh kepemudaan, dalam dialog bertajuk "Kaum Muda Bicara Perubahan Jakarta", di Jakarta, Minggu (10/6).  

Selain Restu, dialog ini menghadirkan sejumlah pembicara lain seperti, calon gubernur DKI Jakarta Jokowi, Amril TG dari komunitas blogger, dan Alex J Datuk dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) DKI Jakarta. Restu mengatakan, kaum muda masih ingin selalu belajar dan mendapatkan sesuatu yang baru. Itu mengapa,   Kata dia, kaum muda dalam momentum pemilu kepala daerah DKI Jakarta berkonsolidasi karena ingin adanya perubahan yang lebih baik pada masa mendatang. Restu mengatakan, setiap perubahan selalu dipelopori oleh kaum muda. Sebab, kata dia, kaum muda memiliki kekuatan dan kapasitas untuk melakukan banyak perubahan.

Oleh karena itu, kata Restu, persoalan di Jakarta yang sedemikian kompleks hanya bisa dijawab dengan adanya perubahan.   Sementara itu, Alex mengatakan, pengangguran menjadi salah satu persoalan besar di Jakarta, selain macet dan banjir yang hingga kini belum bisa diselesaikan oleh pemimpin Jakarta. Saat ini, kata dia, ada ratusan ribu lulusan yang menganggur. Di sisi lain, kata dia, lapangan kerja yang dibangun belum memadai.  

Selain itu, kata Alex, persoalan lain yang masih menghantui warga Jakarta adalah ruang hijau di Jakarta yang masih sangat minim akibat kebijakan pembangunan yang timpang. Pusat-pusat perbelanjaan telah menyingkirkan ruang hijau dan pelaku usaha ekonomi kecil di Jakarta.  

Oleh karena itu, kata dia, pemimpin Jakarta mendatang harus memberikan ruang dengan baik kepada generasi muda untuk berwirausaha. Semua pemangku kepentingan harus memberikan kesempatan bagi munculnya pegiat wirausaha baru di Jakarta. "Jangan pernah takut dan harus berani mengambil resiko," ujarnya. [FFS/W-11]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN