Jelang Pemilu, Warga Asing Tinggalkan Timor Leste
Kamis, 8 Maret 2012 | 14:35
Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta [KUPANG] Sejumlah warga Negara asing (WNA) yang bermukim di
Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL), meninggalkan negara itu menyusul kekhawatiran terhadap
kerusahan menjelang pemilu pemilihan presiden yang berdampak kerusuhan.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Timor Leste, Eddy
Setiabudhi, mengatakan WNA yang akan meninggalkan Timor Leste adalah
istri para diplomat kedutaan besar asing. Mereka khawatir keamanan di negara
itu memburuk jelang pemilu presiden yang digelar 17 Maret mendatang.
"Ibu-ibu itu katanya mau cuti dulu pulang ke negara
mereka. Kalau pemilu aman baru mereka kembali," katanya saat berbicara
pada Pertemuan Koordinasi Perbatasan RI-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL)
di Kupang, Kamis (8/3) siang.
Dia mengatakan para isteri diplomat asing selama ini mempelajari
kebudayaan dan musik tradisional Indonesia di KBRI, antara lain angklung dan
tari. Mereka khawatir karena pemilu sebelumnya, Presiden Ramos Horta pernah
nyaris terbunuh dalam sebuah insiden. Termasuk beberapa insiden bentrokan
antara dan polisi Timor Leste di Rumah Sakit Dili yang mengakibatkan dua
personil polisi luka ringan.
Insiden terakhir ialah pelemparan bom molotov cocktail terhadap
dua kantor penyelenggara pemilu Timor Leste pada 20 Februari lalu, yakni kantor
Komisi Pemilihan Nasional (National Election Commission-CNE) dan The Technical
Secretariat for the Administration of Election-STAE). Peristiwa itu tidak
menimbulkan korban jiwa maupun luka.
Wakil Gubernur NTT, Esthon
Foenay, Komandan Korem 161 Wirasakti, Kolonel, Edison Napitupulu, dan
sejumlah pejabat militer di Kupang. Melakukan rapat membahas kemungkinan
Pemilihan Umum Timor berakhir rusuh serta strategi evakuasi warga negara
Indonesia (WNI).
Eddy Setiabudhi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah
titik evakuasi WNI antara lain di Pertamina Dili dan lokasi lain di setiap
distrik. Jika evakuasi dilakukan lewat laut, dermaga milik Pertamina menurut dia, sangat cocok untuk tempat evakuasi. Lokasi lainnya melalui bandara bila
evakuasi dilakukan lewat udara menggunakan pesawat Hercules milik TNI.
"Jarak Dili -Kupang dengan menggunakan kapal laut ditempuh selama 8 - 9
jam. Jika kapal berlayar dari Kupang malam hari, besok paginya sudah tiba di
kota Dili," katanya.
Untuk penyeberangan RI-Timor Leste seperti Motaain di bagian
barat Kabupaten Belu dan Metamauk bagian selatan Belu. Adapun jumlah WNI yang
harus dievakuasi jika terjadi kerusuhan saat pemilu, kurang lebih berjumlah
5.774 orang dewasa, 859 balita, 14 bidan, dan 493 orang yang menikah dengan
WNA, serta 400 orang lainnya yang belum mendaftarkan diri ke Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI). (YOS)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
KPK Dalami Aliran Dana ke Anis Matta
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Pimpinan KPK Sindir Sikap Kader PKS
Fathanah Mulai Sebut Nama Presiden PKS Anis Matta
Wanita-Wanita Cantik Merusak Citra PKS Sebagai Partai Agama
Kapolda NTT: Tugas Polisi Pengamanan Bukan Hitung Suara!
