SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip

Jelang Pemilu, Warga Asing Tinggalkan Timor Leste
Kamis, 8 Maret 2012 | 14:35

Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta

[KUPANG] Sejumlah warga Negara asing (WNA) yang bermukim di Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL), meninggalkan negara itu menyusul kekhawatiran terhadap kerusahan menjelang pemilu pemilihan presiden yang berdampak kerusuhan.  

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Timor Leste, Eddy Setiabudhi,  mengatakan WNA yang akan meninggalkan Timor Leste adalah istri para diplomat kedutaan besar asing. Mereka khawatir keamanan di negara itu memburuk jelang pemilu presiden yang digelar 17 Maret mendatang.   

"Ibu-ibu itu katanya mau cuti dulu pulang ke negara mereka. Kalau pemilu aman baru mereka kembali," katanya saat berbicara pada Pertemuan Koordinasi Perbatasan RI-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di Kupang, Kamis (8/3) siang.  

Dia mengatakan para isteri diplomat asing selama ini mempelajari kebudayaan dan musik tradisional Indonesia di KBRI, antara lain angklung dan tari. Mereka khawatir karena pemilu sebelumnya, Presiden Ramos Horta pernah nyaris terbunuh dalam sebuah insiden. Termasuk beberapa insiden bentrokan antara dan polisi Timor Leste di Rumah Sakit Dili yang mengakibatkan dua personil polisi luka ringan.  

Insiden terakhir ialah pelemparan bom molotov cocktail terhadap dua kantor penyelenggara pemilu Timor Leste pada 20 Februari lalu, yakni kantor Komisi Pemilihan Nasional (National Election Commission-CNE) dan The Technical Secretariat for the Administration of Election-STAE). Peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka.   

Wakil Gubernur NTT,  Esthon Foenay, Komandan Korem 161 Wirasakti, Kolonel,  Edison Napitupulu, dan sejumlah pejabat militer di Kupang. Melakukan rapat membahas kemungkinan Pemilihan Umum Timor berakhir rusuh serta strategi evakuasi warga negara Indonesia (WNI).   

Eddy Setiabudhi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah titik evakuasi WNI antara lain di Pertamina Dili dan lokasi lain di setiap distrik. Jika evakuasi dilakukan lewat laut, dermaga milik Pertamina menurut dia, sangat cocok untuk tempat evakuasi. Lokasi lainnya melalui bandara bila evakuasi dilakukan lewat udara menggunakan pesawat Hercules milik TNI.

"Jarak Dili -Kupang dengan menggunakan kapal laut ditempuh selama 8 - 9 jam. Jika kapal berlayar dari Kupang malam hari, besok paginya sudah tiba di kota Dili," katanya.  

Untuk  penyeberangan RI-Timor Leste seperti Motaain di bagian barat Kabupaten Belu dan Metamauk bagian selatan Belu. Adapun jumlah WNI yang harus dievakuasi jika terjadi kerusuhan saat pemilu, kurang lebih berjumlah 5.774 orang dewasa, 859 balita, 14 bidan, dan 493 orang yang menikah dengan WNA, serta 400 orang lainnya yang belum mendaftarkan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).  (YOS)          




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN