SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 27 Juli 2014
Pencarian Arsip

Indonesia Segera Kembangkan Energi Nuklir
Sabtu, 20 Oktober 2012 | 7:12

Ilustrasi masker antiradiasi nuklir [yahoo] Ilustrasi masker antiradiasi nuklir [yahoo]

[JAKARTA] Indonesia harus mulai mempertimbangkan nuklir sebagai energi alternatif di masa depan. Energi nuklir sangat ramah lingkungan disbanding energi fosil. Energi fosil sudah segera tinggalkan.  

Demikian dikatakan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudi Rubiandini, dalam acara diskusi panel Ahli Ikatan Sarjana Nu (ISNU) bertema "Roadmap Kebijakan Energi Yang Tepat dan Berani", di Jakarta, Jumat (19/10).  

Menurut Rudi, satu gram energy nuklir sama denga n satu ton energy batubara. Selain itu, untuk mendapatkan batubara harus merusak lingkungan. “Energi nuklir tidak,” kata dia.  

Rud mengusulkan, korbankan beberapa pulau kecil di Indonesia untuk membangun energy nuklir. “Kalau di pulau kecil dan tidak berpendudukan, kalau terjadi apa-apa atas energy nuklir maka dampaknya kecil atau tidak menimbulkan korban jiwa," katanya.

Menurut Rudi, negara-negara maju seperti Perancis, Jerman, dan sebagainya sudah mengembangkan nuklir karena merupakan energi yang sangat murah dan efisien.

“Itu tadi satu gram nuklik setara dengan satu ton batu bara," kata Rudi.

Rudi mencontohkan, 30 persen pasokan energi di Jerman berasal dari nuklir sementara Prancis bahkan sudah mencapai 40 persen.

Menurut Rudi, karena nuklir sangat efisien, negara-negara maju cenderung ingin memonopoli pengembangan energi terbarukan tersebut.

"Di sisi lain, nuklir juga sangat ramah lingkungan, apalagi dibandingkan dengan batu bara yang merusak berhekttar-hektar hutan hanya untuk menghasilkan energi yang setara dengan satu gram nuklir," kata dia.

Rudi juga menganggap nuklir akan aman jika dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh karakter geografis kepulauan. Karakter geografis itu membuat pembangkit tenaga nuklir tidak akan terpusat di satu titik melainkan tersebar dengan skala kecil.

Rudi menjelaskan, pertimbangan pengembangan nuklir tersebut merupakan salah satu usaha mendiversifikasi energi yang saat ini sangat bergantung pada bahan bakar minyak yang semakin mahal.

"Kita sangat bergantung pada BBM sebagai sumber energi, akibatnya seringkali Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) menjadi defisit karena pemerintah harus mengeluarkan subsidi besar," kata dia.

Pada 2012 ini, pemerintah harus menambah anggaran subsidi BBM premium sebanyak Rp79,4 triliun menjadi Rp 216,8 triliun akibat Batalnya rencana kenaikan harga atau pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) awal tahun.

Tingginya harga harga minyak mentah Indonesia, yang pada periode Januari-September mencapai  US$ 114,1 per barel disebut sebagai salah satu faktor membengkaknya anggaran subsidi.

Sementara anggota Komisi VII DPR, yang juga sebagai pembicara dalam diskusi itu, Dewi Aryani, mengatakan, kebijakan energi Indonesia sampai saat ini belum komprehensif dan terintegrasi.

Dimana masih tumpang tindih berbagai kebijakan sektor energi. Selain itu, orientasi pengelolaan energi yang belum terarah. Belum menyentuh seluruh sektor.

Dewi juga menambahkan, pengelolaan pemanfaatan energi Indonesia sampa saat ini juga masih carut marut. Masih terkonsentrasi pada energi fosil (minyak, gas, batubara), pricing policy dilepas kepada mekanisme pasar.

Ia mengusulkan, energy fosil ini harus seger ditingggalkan dan mengambil haluan ke enegeri baru dan terbarukan seperti energy nuklir.

Selain itu, kata dia, belum terciptanya kedaulatan atas energi di Indonesia, tidak ada kebijakan tentang kedaulatan energi Indonesia dan penguasaan asing terhadap sumber energi Indonesia masih sangat kuat. [E-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»