Ichanuddin: Indonesia Tunduk Pada Pasar Bebas
Minggu, 29 April 2012 | 21:03
Ichsanudin Noersy [google] [SURABAYA]
Pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noersy menyatakan, hingga saat ini
Indonesia masih tunduk pada mekanisme pasar bebas yang disuarakan oleh
negara-negara barat, salah satunya Amerika Serikat (AS).
"Saya ingin iqra (membaca). Kami
tidak ingin sekadar bicara, melainkan ada bukti berupa data," kata
Ichsanudin dalam diskusi “Studi Kasus Liberalisasi Migas Pascakeputusan Rapat Paripurna
DPR RI” yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jatim di Asrama Haji
Surabaya, Minggu (29/4).
Menurut dia, selama ini pihaknya mempelajari bahwa kebijakan pemerintah dengan
berupaya menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu, ada kaitannya dengan campur
tangan dari negara asing, dalam hal ini Amerika.
"Ada perintah melalui radiogram yang menyatakan ada arahan untuk melakukan
perubahan UU Migas," katanya.
Selain itu, lanjut dia, ada upaya dari negara asing untuk meminimalkan peran
Pemerintah Indonesia dalam sektor migas, dan meningkatkan peran swasta dalam
sektor migas.
"Mereka (Amerika) sangat lihai menjajah Indonesia. Bahkan mereka
menggandeng kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan
media massa untuk pembenaran. BLT (bantuan langsung tunai) sebagai pengganti
kenaikan BBM adalah suap politik," ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Hanura, Jamal Aziz
menambahkan, sikap partainya pada saat ramai-ramainya rencana kenaikan BBM
sudah jelas yakni menolak berbagai bentuk upaya menaikkan harga BBM.
"Sebelum ramai dibahas, partai kami sudah menetapkan menolak kenaikan
harga BBM. Bahkan pada saat rapat paripurna DPR, fraksi kami walk out," katanya.
Menurutnya, jumlah Fraksi Hanura di DPR hanya minoritas, sehingga sulit
melakukan perubahan atas kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. "Kami
tegas dalam hal ini, beda dengan partai lain yang masih ada kompromi,"
ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pengurus Pusat (DPP) HTI Hafidz Abdurahman mengatakan,
kenaikan BBM adalah agenda asing. "Namun setelah gagal menaikkan BBM waktu
lalu, pemerintah tidak habis akal dengan mengeluarkan kebijakan baru berupa
mobil di atas 1.500 cc wajib memakai pertamax," katanya.
Untuk itu, kata dia, HTI sendiri memiliki konsep APBN Khilafah, dimana dalam
penerapan tata kelolahnya menggunakan hukum syariah. [Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Aiptu Labora Sitorus Mesin ATM Perwira Polisi Papua Hingga Mabes?
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Fathanah Ajak Maharani Berhubungan Intim
Jangan Sampai Stasiun Tujuan Terlewat
Difitnah Istri Selingkuh Dengan Anaknya, Syarief Hassan Polisikan Triomacan
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Ahmad Fathanah Akui Curi Dokumen KPK
Gadis ABG Diperkosa Pamannya Sendiri
