SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 April 2014
Pencarian Arsip

HRW Desak Bebaskan Lima Aktivis Papua
Selasa, 31 Januari 2012 | 6:49

Presiden Negara Republik Federasi Papua Barat Forkorus Yoboisembut sedang  membacakan pernyataan penolakan sidang pengadilan dakwaan makar, Senin (30/1)  di Ruang Sidang Utaman Pengadilan Negeri Jayapura. [SP/Robert Isidorus Vanwi] Presiden Negara Republik Federasi Papua Barat Forkorus Yoboisembut sedang membacakan pernyataan penolakan sidang pengadilan dakwaan makar, Senin (30/1) di Ruang Sidang Utaman Pengadilan Negeri Jayapura. [SP/Robert Isidorus Vanwi]

[NEW YORK] Organisasi pembela hak asasi manusia, Human Right Watch (HRW),  mendesak Pemerintah Indonesia untuk mencabut dakwaan lima pimpinan Kongres Rakyat Papua, yang dibubarkan aparat keamanan Oktober tahun lalu.

Senin (30/1) kemarin, Pengadilan Negeri Jayapura memulai pengadilan terhadap lima orang aktivis Papua ini, dengan tuduhan melakukan percobaan makar terhadap negara. "Pemerintah Indonesia harus menunjukkan komitmen perdamaian dengan mencabut tuduhan terhadap kelima aktivis Papua ini," kata Deputi Direktur Asia HRW, Elaine Pearson dalam pernyataan resminya, Senin.

"Sangat mengerikan melihat negeri demokrasi modern seperti Indonesia yang terus menahan warganya, hanya karena menggelar unjuk rasa dan menunjukkan pandangan kontroversial," lanjut Pearson.

HRW, tegas Pearson, bersikap netral terkait keinginan sejumlah kelompok di Papua untuk melepaskan diri dari Indonesia. Namun HRW mendukung hak setiap orang termasuk aktivis kemerdekaan untuk menyampaikan pandangan politik mereka secara damai, tanpa rasa takut terhadap semua jenis tekanan.

"Pemerintah Indonesia seharusnya menuntut orang-orang yang melakukan kekerasan sehingga mengakibatkan tiga warga Papua tewas, bukan menahan mereka yang membacakan deklarasi kemerdekaan tahun 1961," ujar Pearson.

Dikatakan, menggelar pengadilan justru akan semakin meningkatkan rasa benci rakyat Papua terhadap Pemerintah Indonesia.  Seperti diberitakan, pada 19 Oktober 2011, aparat keamanan Indonesia membubarkan Kongres Rakyat Papua yang digelar di Jayapura, setelah salah seorang aktivis membacakan deklarasi kemerdekaan Papua tahun 1961.

Usai pembacaan itu, polisi dan militer melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan sekitar 1.000 orang yang berkumpul menggelar unjuk rasa damai mendukung kemerdekaan Papua.

Aparat keamanan, menurut HRW, menggunakan pentungan dan senjata api untuk menyerang para pengunjuk rasa menewaskan sedikitnya tiga orang dan menciderai 90 orang lainnya. [BBC/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN