Sri Mulyani soal Suap Pegawai Pajak
Hindari Hubungan Langsung dengan Wajib Pajak
Minggu, 24 Juni 2012 | 12:18
Sri Mulyani. [Dok. SP] [ST PETERSBURG] Reformasi sistem perpajakan mutlak
dilakukan untuk mencegah terjadi suap di kalangan pegawai Ditjen Pajak
Kementerian Keuangan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menghindari korupsi perpajakan adalah menghindari hubungan langsung antara
pegawai Ditjen Pajak dan pihak perusahaan wajib pajak.
Hal itu dikatakan mantan Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indarwati saat ditemui empat wartawan Indonesia di St Petersburg,
Rusia, Jumat (22/6) malam waktu setempat atau Sabtu (23/6) dinihari WIB.
Wartawan SP,
Asni Ovier DP
melaporkan, Sri Mulyani berada di Rusia sebagai Managing Director World Bank
untuk menghadiri St Petersburg International Economic Forum.
Sri Mulyani mengatakan, konsep reformasi birokrasi di jajaran kementerian
keuangan, termasuk di Ditjen Pajak, sudah dilaksanakan ketika dia menjadi
menteri keuangan (menkeu).
Intinya, dia ingin membuat Ditjen Pajak transparan
dan setiap kegiatan di sana dilakukan berdasarkan prosedur operasi standar
(SOP). Selain dilakukan pengawasan internal, juga perlu diperkuat kerja sama
dengan pihak luar, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), jaksa, polisi,
dan media massa.
"Sebab, kita bicara tentang 30.000 pegawai pajak. Yang dilakukan adalah
reformasi sistem. Dibuat aturan yang jelas, mengurangi transaksi langsung,
memperbaiki remunerasi, dan mengawasi perusahaan-perusahaan wajib pajak
mengalihkan kewajibannya ke perusahaan lain milkinya juga," katanya.
Dikatakan, dengan desain reformasi birokrasi seperti itu, besar kemungkinan
pegawai pajak yang nakal ditangkap. Untuk itu, dia menyambut baik langkah yang
dilakukan KPK dan aparat hukum lain menangkap beberapa pegawai pajak.
"Penangkapan pegawai pajak yang diduga terlibat korupsi dan pemberitaan
yang besar dari media massa diharapkan bisa memberikan efek jera. Memang, hal
itu juga akan membuat masyarakat menghakimi seluruh pegawai pajak buruk. Tapi,
dulu saya katakan, daripada dipermalukan, lebih baik disiplin dulu di
dalam," ujarnya.
Dia juga mengingatkan, tidak ada satu pun institusi di dunia yang lepas dari
praktik kecurangan, meskipun pegawainya diberi gaji besar. Pasalnya, sikap
tamak selalu ada di kalangan masyarakat mana pun.
Jadi, masyarakat jangan langsung kecewa ketika menemukan aparat negara yang
ditangkap karena memiliki sikap tamak. Masalah yang harus dipecahkan bersama
adalah bila ada orang tamak yang tidak ditangkap atau diadili di meja hijau.
Hal seperti itu justru akan semakin menumbuhkan sikap tamak di kalangan
masyarakat lain.
Dikatakan pula, korupsi yang terjadi di Indonesia harus dilihat secara
mendalam, apakah hanya berupa kasus-kasus atau ada persoalan sistem. Dengan
demikian, pencegahan korupsi bisa dilakukan dengan baik.
"Saya sudah pergi
ke banyak negara. Semua ingin memperbaiki institusi melalui reformasi
birokrasi. Jadi, harus dilihat, apakah korupsi itu karena sistem atau ada hal
lain," ujarnya. *
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Wah...Ternyata 10% Pengguna Facebook Bukan Manusia?
Sekuel Star Trek Puncaki Box Office
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Satu Lagi Teman Wanita Fathanah Kembalikan Uang Ke KPK
Joe Taslim Raih Adegan Mahal di Fast and Furious 6
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
Pemprov DKI Jakarta Harus Beri Sanksi 16 RS Mundur Dari Program KJS
