SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 28 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Harga Kedelai Masih Tinggi, Produsen Kembali Produksi
Kamis, 12 September 2013 | 10:39

Perajin tempe di kawasan Tangerang mulai memproduksi kembali tempe setelah beberapa hari lalu mogok, di Banten, Rabu (11/9). [antara] Perajin tempe di kawasan Tangerang mulai memproduksi kembali tempe setelah beberapa hari lalu mogok, di Banten, Rabu (11/9). [antara]

[JAKARTA] Mogok produksi yang dilakukan produsen tempe tahu selama tiga hari yang berakhir pada Rabu (11/9), kemarin, tak membuat harga kedelai turun. Para produsen yang kembali berproduksi pada Kamis (12/9), terpaksa menaikan harga atau memperkecil ukuran tempe tahu.

Dedi (33), pengrajin tahu yang ada di daerah RT 05/02, Condet, Kramatjati, Jakarta Timur mengaku terpaksa memperkecil ukuran dan menaikan harga tahu untuk menutup biaya produksi. Dedi yang sebelumnya menjual tahu seharga Rp 2.000 per bungkus, kini terpaksa menetapkan harga Rp 2.500 per bungkus.

"Itu pun dengan ukuran yang dikecilkan," katanya saat ditemui SP, Kamis (12/9).

Dikataan Dedi, dengan kebutuhan kedelai 60 kilogram per hari, keuntungan yang diperoleh tidak lebih dari Rp 200.000. Itupun dibagi dengan delapan orang pekerja.

Para produsen mengaku kecewa dengan sikap pemerintah yang tak juga dapat menstabilkan harga kedelai. Padahal, dengan kedelai yang masih tersedia, pemerintah seharusnya bisa menekan harga.

"Percuma impor-impor terus kalau harganya masih tinggi," kata Nurdin (59), seorang penyuplai kedelai kepada para pengrajin di daerah Condet.

Nurdin menuturkan, dirinya membutuhkan dua ton kedelai per enam hari untuk disuplai kepada 10 pengrajin tahu. Agar para pengrajin dapat tetap bertahan, dirinya terpaksa menahan harga agar tidak terlalu tinggi.

"Waktu harga kedelai masih Rp 75.000 perkilogram, setelah diolah, bahan tahu saya jual dijual Rp 12.000 perkilogram. Lalu harga kedelai naik menjadi Rp 8.500, dan 13.000 per kilogram. Dan sekarang, harga kedelai rata-rata Rp 9.500, saya tetap jual Rp 13.000," paparnya.

Sementara Maizun (36) seorang pengrajin tempe menuturkan, dengan harga kedelai mencapai Rp 9.500 per kilogram dirinya terpaksa menaikan harga sekitar Rp 500 hingga Rp 1.000 per potong. Meski telah menaikan harga, Maizun mengaku keuntungannya tak lebih dari Rp 100.000 per hari.

"Per hari nggak sampai Rp 100.000. Itu kalau barangnya laku terjual, kalau nggak bagaimana?. Kita berusaha mengikuti harga kedelai. Mogok produksi kemarin tidak ditanggapi pemerintah, jadi mau nggak mau harganya kami naikan, atau dengan mengurangi isi kedelainya," ungkap pengrajin yang beralamat di Jalan Al Ihsan RT 002/06, Kelurahan Batu Ampar, Kramatjati ini.

Maizun menyatakan, stok kedelai di Pasar Balimester, Jatinegara tempatnya memperoleh kedelai sebenarnya tidak kekurangan. Namun harga kedelai yang tidak stabil cenderung terus naik, membuat dirinya dan para produsen tempe lainnya kewalahan.

"Awalnya naik cuma Rp 200 lalu tiba-tiba naik Rp 1.000 itu yang bikin shock. Saya cuma ingin harganya distabilkan, jangan terus-terusan naik. Belum lagi harga plastik dan lainnya juga ikutan naik," kata Maizun.

Maizun menyatakan, berdasar informasi yang diperoleh dari Koperasi Produsen Tempe Tahu wilayah Jakarta Timur, jika pemerintah masih acuh, dan tak ada langkah untuk stabilkan harga, Maizun mengatakan para produsen tempe dan tahu akan kembali mogok produksi. Tak hanya tiga hari, para produsen sepakat untuk mogok selama seminggu.

"Itu kata koperasi. Kalau benar demikian, saya pasti ikut mogok juga," tegasnya. [F-5]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»