Harga Bahan Pokok Di Buru Naik Tiga Kali Lipat
Kamis, 20 September 2012 | 7:27
Ilustrasi sembako [google] [AMBON] Temuan dan
eksploitasi kandungan emas di Gunung
Botak, Kabupaten Buru, ternyata tidak serta merta membawa berkah bagi
perekonomian daerah.
Direktur Eksekutif Moluccas Economyc Reform Institute
(Moeri), Tammat R. Talaohu mengatakan, fenomena ini terlihat nyata ketika
harga-harga barang kebutuhan pokok masyarakat di daerah penghasil minyak kayu
putih itu naik hingga tiga kali lipat yang dipicu inflasi, hingga 300
persen.
Kondisi ekonomi Buru diperparah dengan tiadanya tindakan nyata
dari pemda setempat. Satu ikat sayur kangkung misalnya, dalam kondisi normal,
harganya tak lebih dari Rp 5.000. Kini harganya melonjak hingga Rp
20.000/ikat
“Harga bahan bakar minyak (BBM) juga mengalami
kenaikan hingga tiga kali lipat yang memicu kenaikan ongkos transportasi.
Dampak paling tragis adalah terpukulnya sektor pertanian,” kata Tammat kepada
SP di Ambon, Kamis (20/9).
Dikatakan Tammat, Buru adalah lumbung pangan
nasional dalam blue print ketahanan pangan yang ditetapkan pemerintah. Tetapi
saat ini, sektor pertanian, utamanya produksi padi Pulau Buru telah mengalami
kemerosotan drastis hingga mencapai level yang belum pernah terjadi sebelum
ini.
“Bahkan kemarau panjang yang ekstrim sekalipun tidak
pernah berakibat pada penurunan produksi padi seperti yang terjadi saat ini.
Fenomena ini tidak saja berdampak memberatkan dan merugikan perekonomian Buru,
tetapi sekaligus akan membahayakan bagi perekonomian Maluku,” kata Tammat.
Sebab Buru Tammat menambahkan, adalah penyuplai utama bahan
pangan bagi pasar Ambon.
“Anehnya, Pemkab Buru dan Pemprov Maluku tidak melihat hal ini
sebagai suatu ancaman sehingga sampai saat ini belum kelihatan adanya
langkah-langkah preventif yang ditempuh untuk meminimalisir dampak
tersebut. Apa yang terjadi di Buru adalah hyper inflasi. Kabupaten itu
secara ekonomi sebenarnya sudah bangkrut dan pemerintahannya praktis telah gagal
melakukan fungsi pelayanan dan memenuhi kebutuhan dasar warganya. Selain itu,
tugas utama pemerintah untuk melindungi warganya juga tidak terlaksana,” papar
Tammat.
Sederhananya, pemerintahan di Buru adalah pemerintahan
bebek yang lumpuh (lame duck goverment). Sebab praktis sudah tidak ada lagi
fungsi-fungsi untuk menjalankan roda perekonomian, pelayanan dan perlindungan
terhadap warganya. Keamanan dan ketertiban di Buru pasca temuan tambang emas
seperti daerah tak berhukum.
“Pembunuhan, perampokan, penipuan, prostitusi, perampasan
hak-hak warga terjadi secara kasat mata setiap hari tetapi tidak ada upaya
signifikan dari Pemkab untuk menanganinya,” jelasnya.
Guna meredakan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok,
Pemkab tidak bisa lagi mengandalkan operasi pasar, karena hanya berdampak
sementara. Perlu sinergi antara Pemkab, Pemprov dengan Dinas Pertanian, Dinas
Perdagangan sebagai motor dan tim utama.
Selain itu, perlu ada insentif baru bagi petani,
perlindungan harga, pembangunan dan perbaikan insfrastruktur irigasi hingga
perbaikan teknologi pasca panen. Semua ini diperlukan untuk membuat sektor
pertanian kembali menarik mengalahkan kemilau emas.
‘Hal penting lainnya adalah memastikan bahwa hukum ditegakkan,
ketertiban tercipta sehingga ada rasa aman dan nyamandalam masyarakat,” kata
dia. [156]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Rampok Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Mari Membaca Berita BBM Versi Media Sosial
Diduga Ada Kesepakatan Hitam Ical-SBY
Tolak Kenaikkan BBM, Polisi Tahan Rektor Universitas HKBP Nommensen
Sidang Paripurna DPR Sahkan UU APBN-P 2013
Wartawan Jambi Aksi Damai Protes Aparat Keamanan
Deplu AS Bilang RI Gagal Lindungi Minoritas
Film 'Man of Steel' Cetak Rekor Box Office Juni
