SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip

Gempa Aceh, Nasib Warga di Sembilan Desa Ketol Belum Diketahui
Kamis, 4 Juli 2013 | 10:46

Seorang anak korban gempa Aceh Tengah, digendong ibunya turun dari pesawat PK MAN (MAF) pada proses evakuasi setibanya di Bandara Lanud Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh, Selasa (3/7) [antara] Seorang anak korban gempa Aceh Tengah, digendong ibunya turun dari pesawat PK MAN (MAF) pada proses evakuasi setibanya di Bandara Lanud Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh, Selasa (3/7) [antara]

[BANDA ACEH] Goncangan gempa bumi yang menghantam kabupaten Benar Meriah dan Aceh Tengah, Selasa (2/7) petang, telah meninggalkan duka mendatang bagi penduduk dataran tinggi gayo itu, dalam bencana itu sedikitnya 43 orang tewas dan hilang tertimbun reruntuhan bangunan, 425 warga mengalami luka berat dan ringan, ribuan unit rumah dan toko serta perkantoran pemerintah dan sarana publik lain rusak dan hancur, puluhan titik jalan amblas, serta puluhan hektar kebun kopi dan sawah rusak.            
Selain itu dampak gempa membuat banyak pihak miris sebab, hingga hari ketiga pasca gempa, keberadaan warga sembilan (9) desa di Kecematan Ketol belum diketahui sebab  daerah tersebut tidak bisa ditembusi dengan jalan darat semua ruas jalan menuju kesana sudah ambas kejurang dan tertimbun longsor besar.            

Tokoh pemuda Aceh Tengah Baktiar Gayo yang juga Ketua PWI setempat kepada SP, Kamis (4.7) melaporkan, saat ini masih ada sembilan desa yang belum bisa ditembus, sehingga nasib warga disana belum diketahui, kemarin tim relawan dari TNI telah mencoba menebus kesana dengan menggunakan heli, namun baru satu desa bisa dijangkau.            

Ia memperkirakan untuk menembus sembilan desa yang terisolir masih memerlukan waktu yang sangat panjang selain harus dibuat jalan darurat dan ada upaya keras dari pemerintah guna menyelamatkan nyawa manusia dibumi dataran tinggi gayo itu.   Sembilan desa yang masih terisolasi Kecamatan Ketol Aceh Tengah adalah Desa Bah, Berlah, Kekuyang, Pantan Penyo, Pantan Reduk, Bergang, dan Karang Ampar. Desa-desa itu berada di lembah yang diapit perbukitan.  

Tim relawan bersama TNI dan Badan SAR daerah serta tim medis masih terus berupaya untuk bisa menembus kesana, tetapi belum bisa ditembus kata seorang medis di Takengon.   Letnan Kolonel TNI Budi yang memimpin satu tim menuju ke kawasan terisolir mengaku masih ada kesulitan untuk menembus kesana, karena daerah itu berada pada lembah yang rawan terjadi longsor, korban disana juga belum bisa dievakuasi, tetapi terus diupaya semoga bisa segera tembus.  

Sedangkan untuk kabupaten Bener Meriah, daerah terparah adalah Kecamatan Wih Pesam dan Timang Gajah ditempat ini hampir semua rumah penduduk hancur dan rata dengan tanah, kedua kabupaten ini untuk sentara tercatat 29 meninggal, 15 masih tertimbun longsor dan reruntuhan bangunan.  

Ambarita tokoh pemuda Desa Jaluk Kecamatan Ketol mengatakan didaerahnya kecamatan itu hampir semua rumah dan toko serta bangunan lain hancur termasuk mesjid dan musalla juga rata denagn tanah. Begitu juga dengan Safwan Imam Kampung Arul Kumer mengatakan didesa tersebut ada 137 unit rumah hancur rata dengan tanah, walaupun pada, Rabu malam semua warga mulai tenang tetapi banyak penduduk menggelar tenda pengungsi agak jauh dari perbukitan karena khawatir terjadi gempa lagi, apalagi saat ini masih terjadi beberapa kali gempa susulan pascat terjadi gempa besar, terangnya.  

Kepada Badan Penanggulangan Bencana Aceh Tengah Subhan mengatakangan khusus Aceh Tengah jumlah korban meninggal yang terdata saat ini sebanyak 17 orang dan hilang 15 orang, saat ini masih dalam pencarian tim SAR dan relawan, jumlah penderita luka-luka mencapai 350 orang. Selain itu ada dua perkampungan terisolir karena belum bisa ditembus dengan jalan darat. Tim SAR mendroping bantuan dengan menggunakan helikopter. 3 unit heli yang didatangkan untuk membantu masyarakat, diharapkan dapat meringankan beban serta memberikan bantuan secepatnya kepada korban yang masih selamat, harapnya.  

Di Bener Meriah, jumlah korban meninggal dunia 12 orang,  75 luka berat dan ringan, serta rumah hancur/ rusak diperkirakan lebih dari 300 unit. Kawasan terparah di kabupaten adik Aceh Tengah ini berada di Kecamatan Wih PesamdanTimang Gajah kata Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani.   Sedangkan korban yang dirawat di RS Datu Beru Takengen mencapai 102 orang. Sementara korban yang menderita luka ringan, setelah mendapat perawatan mengambil inisaitif untuk pulang, karena lokasi penampungan di RSU tidak memungkinkan, bahkan di RSU sudah dibuat tenda darurat, sebut Hardi Yanis, Direktur RSU Datu Beru.  

Demikian dengan Puskesmas yang mampu menangani korban luka, tidak merujuk ke RSU, kecuali parah lukanya.  Hingga berita ini diturunkan diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah, baik yang luka ringan dan berat. Demikian dengan korban yang dinyatakan hilang, peluang hidup sangat tipis, karena mereka dilarikan longsoran lumpur dan ada yang terbenam.  

Gubernur Aceh dan rombongan Muspida Aceh mengunjungi korban musibah gempa di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Rombongan, Rabu (3/7) siang mengunjungi  desa Suka Makmur, Suka Jadi,  kecamatan Wih Pesam dan Cekal, Lampahan, Para Kanis, kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah.   Bersama Gubernur Aceh Zaini Abdullah turut hadir, Kapolda Aceh, yang langsung melihat dari dekat para korban gempa.  Hal yang sama juga dilakukan gubernur dan rombongan mengunjungi kawasan terparah di Aceh Tengah, gubernur menuju Blang Mancung, lokasi posko TNI, yang merupakan kawasan masjid runtuh yang menelan korban jiwa.  

Dalam kunjungannya gubernur, mengharapkan kawasan yang masih terisolir di Kampung Bah dan Serampah cepat dapat diatasi, serta bantuan kemanusian yang disalurkan via udara dapat membantu “menyelamatkan” korban. Dalam kesempatan itu gubernur selain melihat dari dekat guna mendapatkan data yang dibutuhkan oleh para korban, gubernur juga bernjanji akan memperjuangkan bantuan dari berbagai pihak untuk secepatnya disalurkan ke Aceh Tengah dan Bener Meriah.  

“Musibah ini menjadikan Aceh berduka, oleh karena itu seluruh masyarakat Aceh wajib membantu apa yang kini sedang dialami warga Aceh Tengah dan Bener Meriah,” sebut Zaini Abdullah, yang kemudian melanjutkan perjalanan meninjau beberapa titik pengungsian di Kecamatan Ketol.  

Gubernur Zaini yang datang didampingi Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi, telah menetapkan Aceh sebagai kawasan darurat bencanam dan penanganan darurat dalam menghadapi masa panik pasca gempa, harus fokus masalah. Sejumlah tenda pleton diminta untuk segera didatangkan ke semua titik lokasi yang membutuhkan. Sebab 90 persen rumah warga di kawasan itu rusak parah hingga tak bisa lagi ditempati.  

Bencana gempa diharapkan bisa diatasi dalam 2 pekan untuk menuntaskan masa tanggap darurat dan selanjutnya masuk kemasa pemulihan termasuk rekontruksi kembali pembangunan yang rusak.(147)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN