Film Soegijapranata Sarat Nilai Kebangsaan
Jumat, 8 Juni 2012 | 9:51
Cuplikan film Soegija. [google] [JAKARTA] Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) menggelar
acara nonton bareng film Soegija yang diputar secara serentak di
berbagai bioskop di Jakarta maupun di kota lain, di beberapa daerah, Kamis
(7/6).
Film yang mengisahkan pelayanan iman dan perjuangan
kemerdekaan Indonesia oleh Uskup Mgr Albertus Soegijapranata SJ ini sarat
dengan nilai kebangsaan yang diharapkan dapat diteladani para pemimpin bangsa
ini.
Dari sekitar 169 penonton yang hadir, di antaranya pimpinan
atau perwakilan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Persatuan Inteligensia
Kristen Indonesia (PIKI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Majelis
Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Parisada Hindu Dharma Indonesia
(PHDI), dan Nasinapati Institute.
Sejumlah politisi, anggota partai dan lembaga
tinggi negara, cendikiawan, profesional juga bergabung dalam acara Nonton
Soegija Bareng ISKA ini.
Ketua Presidium Pusat ISKA Muliawan Margadana sekaligus main
host acara ini, mengatakan, ada dua hal yang disampaikan melalui pemutaran
film ini, yakni pertama, ingin meneruskan semangat kebhinnekaan,
pluralisme, dan nasionalisme Indonesia yang dihayati Uskup Soegijapranata dalam
film ini.
Kedua, mencerminkan spirit dasar organisasi ISKA, yakni
solidaritas tanpa sekat.
Menurutnya, setidaknya ada empat teladan utama dari Uskup
Soegija yang bisa kita petik, yakni satu kata dan tindakan, kepemimpinan yang
mengutamakan kepentingan nasional, kepentingan agama dan negara yang dapat saling
mengisi. Juga yang paling penting adalah agama itu membangun, bukan sebaliknya
merusak.
Muliaman berpendapat, nasionalisme Soegija dan kecintaannya
pada Indonesia, tercermin dengan kuat melalui semboyannya yang masyur,
yakni 100 % Katolik,100% Indonesia.
Hal ini mendorong agar spirit kebhinnekaan dan upaya
solidaritas tanpa sekat sungguh-sungguh perlu dihadirkan tatkala Indonesia kian
sering dilanda konflik horizontal, sementara peran negara dalam membangun
spirit keindonesiaan terus melemah.
Hilangnya nilai-nilai tradisional, seperti
gotong royong dan toleransi lantaran radikalisme menyebabkan orang bekerja
untuk kepentingan golongannya sendiri maupun pribadi.
“Karena itu kami ingin mendorong publik , dan kami para
cendikiawan sendiri ingin belajar, merenungkan kembali spirit
keindonesiaan melalui film ini. Soegija bukan milik kaum Katolik saja,
melainkan milik Indonesia,” kata Muliawan di sela-sela acara tersebut.
Film Soegija disutradarai Garin Nugroho. Dalam karyanya ini,
Garin menyampaikan dan melukiskan pesan universal, bahwa perang dan penjajahan
di mana-mana pasti menghancurkan kemanusiaan. Keluarga tercerai berai,
kemiskinan dan kelaparan menghempaskan manusia, kekerasan berlangsung tanpa
pandang bulu, bahkan juga menimpa mereka yang menindas.
Romo Kanjeng Soegija yang pernah menjadi Uskup Agung
Semarang di sini menyerukan perdamaian di bumi dan kemerdekaan bangsa
serta manusia dari penjajahan maupun penindasan.
Menonton film, kata Muliaman
adalah proses pembelajaran bagi semua kalangan bahwa semua komponen
adalah bagian integral republik ini, tidak ada satu kelompok pun yang bisa
mengklaim diri paling berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Sebab, Indonesia
dibangun karena kesamaan cita-cita di atas kebhinnekaan, bukan cita-cita etnik,
suku dan agama tertentu.
Sosok paling kuat dari Pahlawan Nasional ini adalah
kesederhanaan. Uskup yang lahir di Surakarta 25 November 1896 dan wafat di
Stevl, Venlo, Belanda 22 Juli 1963 itu tidak pernah memunculkan cirinya sebagai
pemimpin yang harus ditakuti atau dihormati. Ini perlu diteladani manakala
bangsa ini sedang miskin akan pemimpin yang memberi teladan
kesederhanaan.
Oase
Bagi Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Uskup Soegija adalah
sosok yang tidak pernah mendikhotomikan antara agama dan bangsa.
Cara pandang seperti ini yang diajarkan Soegija untuk
menjadi dasar orang melihat hubungan negara dan agama sebagai mutual
simbiosis. Keteladanan Soegija adalah oase di tengah kekeringan nilai
dalam kehidupan bangsa.
Oase seperti inilah yang perlu dilenterakan oleh pejabat,
generasi muda dan tokoh agama dalam rangka menumbuhkan kenegarawanan yang tidak
membedakan agama, etnik atau golongan.
Keteladanan lain dari sosok Soegija ini adalah
menumbuhkan humanisme sebagai esensi perjuangan keagamaan. Agama akan menjadi
dangkal manakala tidak membentuk kepentingan kemanusiaan. Seperti Gus Dur,
Soegija selalu mengembangkan humanisme di dalam perjuangannya.
“Dan inilah yang hilang saat ini setelah tokoh- tokoh ini
tiada. Butuh tokoh-tokoh baru yang bisa mengembangkan aspek humanisme di dalam
perjuangan,” katanya.
Film Soegija diputar secara serentak mulai Kamis (7/6) di
sejumlah bioskop di Tanah Air dan dipadati penonton. Di Bioskop 21 Depok
Tower Square (Detos), Depok, Jawa Barat misalnya, film ini diputar empat kali,
yakni pukul 12.00, 15.00, 17.00, dan 21.30 dan semuanya penuh penonton.
Umat Katolik Depok dari beberapa paroki secara khusus
menyempatkan diri menonton film ini dengan didampingi para Pastor Paroki
masing-masing.
Pastor Paroki St Markus Depok II Timur Romo RD Antonius Dwi
Haryanto bersama Frater Bertho misalnya sejak pagi hingga malam mendampingi
umatnya menyaksikan film Soegija yang sarat nilai ini.
Menurut Romo Antonius, film ini sangat luar biasa memberikan
pelajaran dan pengalaman bagi semua orang. Menurutnya, film Uskup Soegio di
satu sisi menguatkan iman Katolik, di sisi lain juga menanamkan dan menguatkan
semangat nasionalisme dan patriotisme.
Kesan serupa juga diungkapkan warga lainnya Leo Rewa.
Menurut Leo, film ini memberi pelajaran untuk semua. Bisa untuk anak-anak
tentang bagaimana memahami nilai-nilai agama, juga sekaligus memberikan
pemahaman tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan untuk semua kalangan
film ini memberikan pelajaran kemanusiaan dan kekeluargaan yang mendalam.
[D-13/M-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Diminta Pertanggungjawabkan Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Deplu AS Bilang RI Gagal Lindungi Minoritas
Spider-Man Kembali ke Layar Lebar di 2016 dan 2018
KPK Diminta Audit Pungli Oleh Kemnakertrans
Adik Tiri Gubernur Atut Ditetapkan Jadi Tersangka
Huawei Ascend P6, Ponsel Cerdas Paling Tipis di Dunia
Dicecar Soal Pernikahan, Djoko Susilo Gerah
Pemerintah Ajukan Penundaan Amnesti TKI
Nazaruddin Berbisnis dari Penjara
Antisipasi Mahasiswa Ngamuk, Kampus Nommensen Diliburkan Selama Sepekan
