SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip

Elemen Masyarakat Maluku Kecewa Kinerja Aparat Keamanan
Rabu, 16 Mei 2012 | 10:50

Walikota Ambon Richard Louhenapessy,SH usai Peringatan Hari Pattimura ke-195 berjabat tangan dengan Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf dan jajaran petinggi lainnya di Pattimura Park, Selasa (15/5) kemarin.[SP/Vonny Litamahuputty] Walikota Ambon Richard Louhenapessy,SH usai Peringatan Hari Pattimura ke-195 berjabat tangan dengan Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf dan jajaran petinggi lainnya di Pattimura Park, Selasa (15/5) kemarin.[SP/Vonny Litamahuputty]

[AMBON] Seluruh elemen masyarakat Maluku dan khususnya kota Ambon menyesali kinerja aparat kepolisian dalam menyikapi situasi keamanan di Ambon. Hal ini mengemuka setelah dilakukan pertemuan antara Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama seluruh komponen masyarakat Maluku dari pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, Majelis Latupati Maluku dan Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) di Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Selasa (25/5) sore.

“Saya minta kepada Kapolda agar langkah-langkah operasional intelijen terkait dengan peristiwa Hari Pattimura segera dikerahkan,” kata Walikota Ambon Richard Louhenapessy.

Walikota menegaskan, pasti ada sebabnya sehingga terjadi insiden Hari Pattimura tersebut. Minimal hal ini mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pihak kepolisian. “Karena itu saya usulkan, ke depan ada kegiatan pendidikan kepada seluruh peserta pembawa obor yang terlibat. Saya memang prihatin dan sedih antar insiden yang terjadi, tapi hendaknya ini tidak menjadi sikap pesimistis kita,” katanya.

Walikota juga mengajak warganya berikhtiar di lingkungan masing-masing. Semua yg dilakukan selama ini konsolidasi sosial, konsolidasi masyarakat harus terus semangat, terus berjuang menciptakan Ambon dan Maluku yang lebih baik. Acara Pattimura memang harus dikaji kembali dari sisi ceremonialnya. Pattimura jauh lebih baik karena partisipasi masyarakat sangat maksimal. Karena ini harus jadi momentum event pariwisata ke depan. Seluruh esamble musik suling dan terompet terlibat, anak-anak sekolah ikut meramaikan dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan hingga ke Batu Merah disambut tarian hadrat.

“Ternyata ada saja orang yang membonceng. Dan tidak ingin situasi Ambon aman,”  ujarnya kecewa. 

Ketua OKK DPD KNPI Ambon, Marasabessy juga berpendapat dan menduga kuat, yang bermain di air keruh justru oknum TNI/Polri sendiri. Al ini terbukti berbagai tragedi yang selama ini terjadi di Maluku belum terungkap. “Ada apa ini, padahal warga Maluku cinta damai,” ujarnya.  
 
Sementara itu, Majelis Latupati dari Kecamatan Saparua juga menyatakan sikap kekecewaan mereka karena aparat tidak mampu mengawal prosesi adat Hari Patimura. Karena itu Raja (Kepala Desa) Negeri Sirisori Salam A.Pattisahusiwa menuntut Kapolda untuk menyusut tuntas provokator yang mengacaukan Hari Pattimura ini. Majelis Latupatti di Kecamatan Saparua menegaskan, jika insiden Hari Patimura tidak diselesaikan dengan tuntas maka prosesi adat hanya dilaksanakan di Pulau Saparua saja.  
 
Senada dengannya ibu Raja Makariki M.Wattimena juga meminta agar pihak keamanan harus dievaluasi proses pengawalan pembawa obor harus diperketat. Walau demikian, Wattimena meminta nilai dan perjalanan sejarah Kapitan Patimura tidak boleh dihilangkan. “Kami Latupati punya tanggungjawab, setiap kondisi keamanan terganggu, kami dari negeri-negeri (desa)  adat memback up,” ujarnya.

Di tempat yang sama Uksup Diosis Amboina MGR PC Mandagi menyatakan kekecewaannya kepada kepolisian karena sampai sekarang belum satupun kasus-kasus tindak kekerasan yang terjadi di kota Ambon dan Maluku umumnya terungkap. “Aparat bersembunyi dibalik dusta. Jadi yang harus diperika pimpinan kepolisian. Provokator tidak ditangkap, ada apa di sini. Densus 88 saja kutu busuk saja mereka tangkap,” Kata Mandagi kesal. 

Rangkaian acara jelang puncak Hari Pattimura pada Selasa (15/5) pagi tersebut bahkan diapresiasinya. Khususnya acara seribu cinta dan damai. Tapi Mandagi menyatakan ada juga seribu dusta. Bisa saja ada dusta antara TNI dan Polri, pejabat dan masyarakat, tokoh2 agama, “Karena kita tidak tulus. Mari kita tulus membangun Ambon yg damai,” katanya.  
 
Sama halnya dengan Mandagi Ketua Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode Gereja Protestan Mauku (GPM) Dr.John Ruhulessyn menanyakan ke apaat TNI/Polri masih adakah jaminan keamanan bagi warga masyaraat sipil di kota ini. Karenanya dia meminta TNI/Polri berikanlah kepercayaan masyarakat dan umat kepada TNI/polri.

“Berikanlah jaminan keamanan bagi kami bahwa tanah tempat kami berdiam ini aman. Karena itu, kami mohon pihak negara melindungi warga sipil, kami minta jangan lagi ada yang korban. Saya mohon, jangan sampai TNI/Polri mengajak rakyat memperlengkapi diri untuk membela dirinya sendiri,” katanya.

Pengamanan wilayah Mardika perlu diperketat, John mengatakan, wilayah ini yang terus menimbulkan persoalan, jangan sampai umat tidak percaya lagi kepada tokoh agama, dan jika tidak dipercaya lagi maka kondisi semakin runyam.  
Wakil Ketua DPRD Maluku M.Assagaf sangat menyesal dan kecewa dengan keamanan.

“Saya atas nama wakil rakyat di Maluku kecewa dengan keamanan yang lambat bertindak. Kami juga telah mintakan secara resmi berbagai kejadian tapi tidak pernah terungkap. Jika itu dimengerti maka aparat keamanan harus lebih jeli,” katanya.[156]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN