Elemen Masyarakat Maluku Kecewa Kinerja Aparat Keamanan
Rabu, 16 Mei 2012 | 10:50
Walikota Ambon Richard Louhenapessy,SH usai Peringatan Hari Pattimura ke-195 berjabat tangan dengan Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf dan jajaran petinggi lainnya di Pattimura Park, Selasa (15/5) kemarin.[SP/Vonny Litamahuputty] [AMBON]
Seluruh elemen masyarakat Maluku dan khususnya kota Ambon menyesali
kinerja aparat kepolisian dalam menyikapi situasi keamanan di Ambon. Hal
ini mengemuka setelah dilakukan pertemuan antara Forum Komunikasi
Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama seluruh komponen
masyarakat Maluku dari pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, Majelis
Latupati Maluku dan Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) di Lantai 7
Kantor Gubernur Maluku, Selasa (25/5) sore.
“Saya minta kepada Kapolda agar langkah-langkah operasional intelijen terkait dengan peristiwa
Hari Pattimura segera dikerahkan,” kata Walikota Ambon Richard Louhenapessy.
Walikota menegaskan, pasti ada sebabnya sehingga terjadi insiden Hari Pattimura tersebut.
Minimal hal ini mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pihak kepolisian.
“Karena
itu saya usulkan, ke depan ada kegiatan pendidikan kepada seluruh
peserta pembawa
obor yang terlibat. Saya memang prihatin dan sedih antar insiden yang
terjadi, tapi hendaknya ini tidak menjadi sikap pesimistis kita,”
katanya.
Walikota
juga mengajak warganya berikhtiar di lingkungan masing-masing. Semua yg
dilakukan
selama ini konsolidasi sosial, konsolidasi masyarakat harus terus
semangat, terus berjuang menciptakan Ambon dan Maluku yang lebih baik.
Acara
Pattimura memang harus dikaji kembali dari sisi ceremonialnya.
Pattimura jauh lebih
baik karena partisipasi masyarakat sangat maksimal. Karena ini harus
jadi momentum event pariwisata ke depan. Seluruh esamble musik suling
dan terompet terlibat, anak-anak sekolah ikut meramaikan dengan
menyanyikan lagu-lagu perjuangan hingga ke Batu Merah
disambut tarian hadrat.
“Ternyata ada saja orang yang membonceng. Dan
tidak ingin situasi Ambon aman,” ujarnya kecewa.
Ketua
OKK DPD KNPI Ambon, Marasabessy juga berpendapat dan menduga kuat, yang
bermain di air
keruh justru oknum TNI/Polri sendiri. Al ini terbukti berbagai tragedi
yang selama ini terjadi di Maluku belum terungkap. “Ada apa ini, padahal
warga Maluku cinta damai,” ujarnya.
Sementara itu, Majelis Latupati dari Kecamatan Saparua juga menyatakan
sikap kekecewaan mereka karena aparat tidak mampu mengawal prosesi adat
Hari Patimura. Karena itu Raja (Kepala Desa) Negeri Sirisori Salam
A.Pattisahusiwa menuntut Kapolda untuk menyusut
tuntas provokator yang mengacaukan Hari Pattimura ini.
Majelis Latupatti di Kecamatan Saparua menegaskan, jika insiden Hari Patimura tidak diselesaikan
dengan tuntas maka prosesi adat hanya dilaksanakan di Pulau Saparua saja.
Senada dengannya ibu Raja Makariki M.Wattimena juga meminta agar pihak
keamanan harus dievaluasi proses pengawalan pembawa obor harus
diperketat.
Walau
demikian, Wattimena meminta nilai dan perjalanan sejarah Kapitan
Patimura tidak boleh
dihilangkan. “Kami Latupati punya tanggungjawab, setiap kondisi
keamanan terganggu, kami dari negeri-negeri (desa) adat memback up,”
ujarnya.
Di tempat yang sama Uksup Diosis Amboina MGR PC Mandagi menyatakan kekecewaannya kepada kepolisian
karena sampai sekarang belum satupun kasus-kasus tindak kekerasan yang terjadi di kota Ambon dan Maluku umumnya terungkap.
“Aparat bersembunyi dibalik dusta. Jadi yang harus diperika pimpinan kepolisian. Provokator
tidak ditangkap, ada apa di sini. Densus 88 saja kutu busuk saja mereka tangkap,” Kata Mandagi kesal.
Rangkaian
acara jelang puncak Hari Pattimura pada Selasa (15/5) pagi tersebut
bahkan diapresiasinya.
Khususnya acara seribu cinta dan damai. Tapi Mandagi menyatakan ada
juga seribu dusta. Bisa saja ada dusta antara TNI dan Polri, pejabat dan
masyarakat, tokoh2 agama, “Karena kita tidak tulus. Mari kita tulus
membangun Ambon yg damai,” katanya.
Sama halnya dengan Mandagi Ketua Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode
Gereja Protestan Mauku (GPM) Dr.John Ruhulessyn menanyakan ke apaat
TNI/Polri masih adakah jaminan keamanan bagi warga masyaraat sipil di
kota ini.
Karenanya dia meminta TNI/Polri berikanlah kepercayaan masyarakat dan umat kepada TNI/polri.
“Berikanlah
jaminan keamanan bagi kami bahwa tanah tempat kami berdiam ini aman.
Karena itu,
kami mohon pihak negara melindungi warga sipil, kami minta jangan lagi
ada yang korban. Saya mohon, jangan sampai TNI/Polri mengajak rakyat
memperlengkapi diri untuk membela dirinya sendiri,” katanya.
Pengamanan
wilayah Mardika perlu diperketat, John mengatakan, wilayah ini yang
terus menimbulkan
persoalan, jangan sampai umat tidak percaya lagi kepada tokoh agama,
dan jika tidak dipercaya lagi maka kondisi semakin runyam.
Wakil Ketua DPRD Maluku M.Assagaf sangat menyesal dan kecewa dengan keamanan.
“Saya
atas nama wakil rakyat di Maluku kecewa dengan keamanan yang lambat
bertindak. Kami
juga telah mintakan secara resmi berbagai kejadian tapi tidak pernah
terungkap. Jika itu dimengerti maka aparat keamanan harus lebih jeli,”
katanya.[156]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
KPK Dalami Aliran Dana ke Anis Matta
Pimpinan KPK Sindir Sikap Kader PKS
Fathanah Mulai Sebut Nama Presiden PKS Anis Matta
