SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 Mei 2012
Pencarian Arsip

Di Tahun Naga Air, Solidaritas Perlu Dipererat
Sabtu, 4 Februari 2012 | 10:01

Ilustrasi Tahun Naga Air [google] Ilustrasi Tahun Naga Air [google]

[JAKARTA] Di tahun Naga Air ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengimbau seluruh warga negara Indonesia untuk bisa mempererat solidaritas antar manusia, tanpa memandang suku, agama, dan ras (SARA). Dalam menangani suatu masalah pun, misalnya saja dalam kasus GKI Yasmin, Presiden mengharapkan tidak menggunakan kekerasan dan ancaman-ancaman.

Hal itu menurutnya sangat perlu dilakukan mengingat Indonesia berada di tengah keragaman dan kemajemukan masyarakatnya. Untuk itu, masyarakatnya harus mengedepankan sikap saling menghormati dan bertenggang rasa. Sehingga, tercipta rasa solidaritas di tengah perbedaan dan timbulnya rasa saling hormat menghormati yang akan menjauhkan kita dari pertentangan, permusuhan, dan konflik.

"Di antara sesama warga bangsa, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih penting. Sebesar apapun perbedaan kita sebagai manusia, kita tidak boleh menyebarkan kebencian, apalagi dengan menggunakan kekerasan, terhadap orang yang berbeda dengan kita," ungkapnya dalam Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2563 bertemakan “Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun Meski Berbeda” di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (3/2).

Selain Presiden, perayaan Itu juga dihadiri Wakil Presiden Boediono, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Kepala Kepolisian RI Timur Pradopo, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
 
Dalam kaitan itu, SBY menegaskan para tokoh dan pemimpin agama memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing, membina dan menuntun umatnya, melalui kesalehan individual dan kesalehan sosial. Para tokoh dan pemimpin agama juga berperan penting untuk menciptakan tri kerukunan hidup umat beragama, baik dalam kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, maupun kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

"Kokohnya tri kerukunan hidup umat beragama, dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara," ucapnya.

Ditambahkan Presiden, kita semua juga harus menyadari bahwa perbedaan bukanlah kendala untuk dapat hidup rukun dan bukan untuk dipertentangkan, karena perbedaan akan selalu ada di dalam realitas kehidupan.  Indonesia, sambungnya, sejak berabad-abad silam masyarakatnya dapat hidup rukun dan bersatu, serta mampu menunjukkannya kepada dunia, bahwa di tengah keragaman, kita dapat menjaga persatuan dan harmoni atas dasar Bhinneka Tunggal Ika yangmenjadi sumbangan yang amat berharga dalam membangun tatanan peradaban baru di dunia.

"Saya mengajak saudara-saudara untuk menjadikan Tahun Baru ini sebagai ladang amal, lebih banyak berbuat kebajikan, dan meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama. Mari kita tingkatkan kesetiakawanan dan rasa kebersamaan dengan sesama warga bangsa. Tingkatkan pula keluhuran budi, sikap solidaritas dan lebih banyak berbuat kebajikan," tutup SBY diakhir pidatonya. [O-2]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN