Di Tahun Naga Air, Solidaritas Perlu Dipererat
Sabtu, 4 Februari 2012 | 10:01
Ilustrasi Tahun Naga Air [google] [JAKARTA] Di tahun
Naga Air ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengimbau seluruh warga
negara Indonesia untuk bisa mempererat solidaritas antar manusia, tanpa
memandang suku, agama, dan ras (SARA). Dalam menangani suatu masalah pun,
misalnya saja dalam kasus GKI Yasmin, Presiden mengharapkan tidak menggunakan
kekerasan dan ancaman-ancaman.
Hal itu menurutnya sangat perlu dilakukan mengingat Indonesia berada di tengah
keragaman dan kemajemukan masyarakatnya. Untuk itu, masyarakatnya harus
mengedepankan sikap saling menghormati dan bertenggang rasa. Sehingga, tercipta
rasa solidaritas di tengah perbedaan dan timbulnya rasa saling hormat
menghormati yang akan menjauhkan kita dari pertentangan, permusuhan, dan
konflik.
"Di antara sesama warga bangsa, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi,
lebih kuat, dan lebih penting. Sebesar apapun perbedaan kita sebagai manusia,
kita tidak boleh menyebarkan kebencian, apalagi dengan menggunakan kekerasan,
terhadap orang yang berbeda dengan kita," ungkapnya dalam Perayaan Tahun
Baru Imlek Nasional 2563 bertemakan “Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun
Meski Berbeda” di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (3/2).
Selain Presiden, perayaan Itu juga dihadiri Wakil Presiden Boediono, Menteri
Agama Suryadharma Ali, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri
Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Kepala
Kepolisian RI Timur Pradopo, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Dalam kaitan itu, SBY menegaskan para tokoh dan pemimpin agama memiliki peran
yang sangat penting dalam membimbing, membina dan menuntun umatnya, melalui
kesalehan individual dan kesalehan sosial. Para tokoh dan pemimpin agama juga
berperan penting untuk menciptakan tri kerukunan hidup umat beragama, baik
dalam kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, maupun kerukunan
antara umat beragama dengan pemerintah.
"Kokohnya tri kerukunan hidup umat beragama, dapat menjadi fondasi yang
kokoh bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara," ucapnya.
Ditambahkan Presiden, kita semua juga harus menyadari bahwa perbedaan bukanlah
kendala untuk dapat hidup rukun dan bukan untuk dipertentangkan, karena
perbedaan akan selalu ada di dalam realitas kehidupan. Indonesia,
sambungnya, sejak berabad-abad silam masyarakatnya dapat hidup rukun dan
bersatu, serta mampu menunjukkannya kepada dunia, bahwa di tengah keragaman,
kita dapat menjaga persatuan dan harmoni atas dasar Bhinneka Tunggal Ika
yangmenjadi sumbangan yang amat berharga dalam membangun tatanan peradaban baru
di dunia.
"Saya mengajak saudara-saudara untuk menjadikan Tahun Baru ini sebagai
ladang amal, lebih banyak berbuat kebajikan, dan meningkatkan kepedulian sosial
terhadap sesama. Mari kita tingkatkan kesetiakawanan dan rasa kebersamaan
dengan sesama warga bangsa. Tingkatkan pula keluhuran budi, sikap solidaritas
dan lebih banyak berbuat kebajikan," tutup SBY diakhir pidatonya. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Ada Oknum Komisi I DPR RI Yang Nikmati Uang Sukhoi Yang Jatuh di Gunung Salak
Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Ditemukan dalam Kondisi Baik
Fahri: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik
Invitasi Bolabasket Alumni SMA se-Jakarta
Biayanya Mahal, Jokowi Tak Akan Pasang Iklan
Pastikan Semua Jenazah Terevakuasi, Tim SAR Sapu Lokasi Jatuhnya Sukhoi
KPK Perpanjang Masa Tahanan Angie
Jokowi Terima Penghargaan TPID Terbaik
Kader Demokrat Masih Juga Menganggap Ani Yudhoyono Layak Jadi Capres
Ketua Umum PGI: Sosialisasikan 4 Pilar Bangsa ke Para Pemimpin Bangsa
