SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip

Laporan SP dari Rusia

Demokrasi Belum Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan
Jumat, 22 Juni 2012 | 9:32

Addin Jauharudin [SP/Asni Ovier DP] Addin Jauharudin [SP/Asni Ovier DP]

[ST PETERSBURG] Praktik bernegara di Indonesia pasca reformasi 1998 harus ditinjau ulang. Pelaksanaan demokrasi sebenarnya sudah baik, tapi belum menjadi alat untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu dikatakan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin di sela-sela studi banding kerukunan beragama di Rusia, Kamis (21/6). Selain Addin, studi banding juga diikuti oleh Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) Noer Fajrieansyah, Sekjen Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudhistira, dan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) Putut Prabantoro.

"Demokrasi justru sudah menuntun kita ke kehidupan bangsa yang tanpa arah. Para akademisi harus bersatu, termasuk kalangan eksekutif dan yudikatif, dalam membuat produk undang-undang (UU). Produk UU kita justru menimbulkan kanalisasi masalah. UU yang dibuat jangan justru menjadi pintu masuk kepentingan asing yang tanpa batas," ujar Addin.

Menurut dia, untuk mengawal kelanjutan reformasi dan menegakkan demokrasi yang berkeadilan serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan gelombang kebangkitan pemuda Indonesia. Kelas menengah Indonesia, khususnya mahasiswa, harus kuat dalam konteks menciptakan pengusaha dan calon pemimpin bangsa yang tangguh.

"Organisasi mahasiswa harus menjadi jembatan dalam upaya mencegah masuknya ideologi asing. Selain itu, organisasi mahasiswa juga harus bisa memperkuat dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila," tuturnya.

Menurut Addin, mahasiswa dan pemuda Indonesia tetap dianggap sebagai agen pengawasan yang sangat penting. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin ada upaya-upaya infiltrasi oleh kepentingan tertentu ke dalam kekuatan mahasiwa.

"Termasuk, kemungkinan adanya infiltrasi asing. Hal yang penting, mahasiswa harus bisa menghilangkan egoisme kelompok atau pribadi. Itu dulu, sebelum bisa menjadi tameng bagi upaya memajukan Indonesia," ujarnya.

Tidak Mudah

Direktur ASEAN Centre dari MGIMO Uviversity, Moskwa, Victor Sumsky mengatakan, tidak mudah bagi suatu negara untuk menjalankan demokrasi. Apalagi, negara itu sebelumnya sama sekali tidak mengenal sistem demokrasi itu.

"Indonesia dan Rusia sama-sama baru mengalami demokrasi. Tidak semuanya bisa berjalan mulus. Tapi, yang penting adalah apa yang harus dibuat setelah euforia reformasi," ujarnya.

Dia juga mengingatkan negara-negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah, seperti Indonesia dan Rusia, untuk mewaspadai kepentingan asing. Jika tidak diatasi dengan baik, hal seperti itu bisa menimbulkan disintegrasi bangsa. [O-1]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN