Delapan Provinsi Rawan Kekeringan
Sabtu, 30 Juni 2012 | 8:20
Ilustrasi kekeringan [google] [PADANG] Delapan
daerah di Indonesia rawan kekeringan seiring terjadinya kebakaran lahan dan
memasuki musim kemarau.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, Syamsul Maarif
di Padang, Jumat(29/6) , mengatakan, ke-8 daerah tersebut masing-masing
Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
"Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di
delapan daerah tersebut kerap terdapat 'hot spot' (titik panas), karena salah
satu penyebab terjadinya kekeringan adalah kebakaran lahan," ujarnya.
Dikatakannya, setelah dilakukan penelitian, 90 persen penyebab kebakaran lahan
akibat ulah manusia.
Untuk mengatasi hal tersebut, menurutnya, BNPB berkoordinasi dengan Kementrian
Pertanian (Kementan), karena urusan lahan berada di instansi tersebut.
Selain itu, lanjutnya, di ke-8 daerah tersebut akan dikirimkan helikopter untuk
melakukan pemadaman dari udara.
Disebutnya, BNPB juga harus melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah rawan
yang menyangkut masalah pertanian dan perkebunan.
Ia lalu mengimbau setiap BNPB di seluruh Indonesia agar tidak lalai, sebab bila
sudah mulai adanya 'hot spot', artinya kekeringan sudah di depan mata.
Di samping itu, demikian Syamsul, di sejumlah daerah juga terancam kekeringan
karena faktor cuaca yang memasuki musim kemarau dan berdampak terhadap gagalnya
masa panen petani.
"Untuk mengatasi hal ini, BNPB bersama Kementan bekerja sama untuk
membangun lumbung pangan, dan mendorong lumbung yang telah dibangun masyarakat
secara swadaya," jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini, banyak masyarakat yang menyediakan tempat untuk
dijadikan lumbung, karena kekayaan masyarakat salah satunya berasal dari
pertanian dan hewan ternak milik mereka.
"Yang terpenting adalah bagaimana bagaimana keinginan masyarakat untuk
melindungi diri mereka masing-masing dan bisa hidup harmonis dengan alam di
sekitarnya, sebab bahaya tidak dapat dibendung jika telah terjadi,"
demikian Syamsul Maarif. [Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT Putaran Kedua, Frenly Yakin Menang
Hatta Rajasa Terima “Reformasi Award” Dari Prodem
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
AS Akui Pesawatnya Langgar Wilayah Indonesia
Mantan Kasdam Jaya Akan Beli Kembali Lahan yang Dieksekusi
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
