SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 2 Agustus 2014
Pencarian Arsip

CPI Indonesia 2011 Naik Menjadi 3,0
Kamis, 1 Desember 2011 | 14:26



[JAKARTA] Berdasarkan Corruption Perception Index (CPI) atau Indeks Persepsi Korupsi yang dikeluarkan Transparency International (TI), skor CPI Indonesia pada tahun 2011 adalah 3,0.

Ketua Dewan Pengurus TI Indonesia Natalia Soebagjo mengatakan, angka ini mengalami kenaikan 0,2 dari posisi 2,8 tahun lalu dan sesuai dengan target pemerintah.

"Walaupun sebenarnya target pemerintah adalah 3, jangan-jangan ini dikatakan bahwa pemerintah sudah berhasil. Sebenarnya kita tidak bisa terlalu bangga juga," kata Natalia dalam Peluncuran CPI 2011 di Jakarta, Kamis (1/12).

Disebutkan, ada sejumlah negara dengan skor CPI 3,0 atau sama dengan Indonesia. Negara-negara tersebut adalah Argentina, Benin, Burkina Faso, Djibouti, Gabon, Madagaskar, Malawi, Meksiko, Sao Tome&Principe, Suriname, dan Tanzania.

Sedangkan negara-negara yang skornya berdekatan dengan Indonesia adalah Kolombia (3,4), Srilanka (3,3), Bosnia&Herzegovina (3,2), India (3,1), Aljazair (2,9), Bolivia (2,8), dan Bangladesh (2,7).

Di antara negara-negara ASEAN, diutarakan Natalia, Indonesia berada di tengah-tengah, tidak buruk dan tidak jelek. Singapura berada di peringkat teratas dan masuk 5 besar dengan skor 9,2. Selain itu, Brunei (5,2), Malaysia (4,3), dan Thailand (3,4). Sedangkan yang skornya di bawah Indonesia adalah Vietnam (2,9), Filipina (2,6), Laos (2,2), Kamboja (2,1), dan Myanmar (1,5).

"Kenaikan 0,2 tidak banyak berarti. Belum banyak hal yang signifikan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Seperti kita tahu, semakin gencar melakukan gerakan antikorupsi, semakin gencar juga perlawanannya," tutur Natalia yang mengingatkan masih banyak PR yang harus dikerjakan.

Natalia mengemukakan, CPI adalah indikator agregat yang mengukur tingkat negara-negara dalam hal persepsi tentang korupsi. Indeksnya disusun berdasarkan berbagai indeks berbeda. Oleh karena itu, sebetulnya indeksnya tidak bisa dibandingkan year-on-year karena variabelnya bisa berbeda.

"Untuk tahun ini, ada 14 sumber data CPI. Beberapa di antaranya adalah sumber baru yang digunakan untuk menilai dan mengukur rangking Indonesia," jelas Natalia.

Ditambahkan, saat ini sedang dilakukan upaya perbaikan terkait metodologi yang digunakan. Pada tahun 2012 akan digunakan metodologi baru, sehingga indeksnya bisa diperbandingkan year-on-year.

Dari berbagai sumber data dari penilaian tahun ini, yang masuk peringkat lima teratas adalah Selandia Baru (9,5), Denmark (9,4), Finlandia (9,4), Swedia (9,3), dan Singapura. Hal yang menarik karena tiga di antaranya adalah negara Skandinavia. Sementara, lima negara di peringkat terbawah adalah Uzbekistan, Afghanistan, Myanmar, Korea Utara, dan Somalia.

Target Pemerintah
Sementara itu, terkait dengan target pemerintah dalam upaya mencapai skor CPI 5 pada 2014 maka dikatakan Natalia, ada banyak pekerjaan rumah untuk itu. Terutama, dalam upaya reformasi birokrasi yang sekarang dilakukan pemerintah.

"Tapi, ini upaya yang betu-betul luar biasa sulit dan perlu dukungan masyarakat. Masyarakat saat ini masih kurang perhatikan masalah reformasi birokrasi, padahal itu bisa dikaitkan dengan CPI kita," ujar Natalia yang menambahkan, perlu terus mengejar institusi penegak hukum supaya melakukan perbaikan.

Direktur Hukum dan HAM Bappenas Diani Sediawati mengungkapkan, jika dilihat dari target tahunan pemerintah maka tercapai skor 3,0. Tapi, pemerintah tidak akan berpuas diri dan itu akan menjadi pemicu semangat.

Dipaparkan, target pemerintah pada 2011 adalah 3, 2012 adalah 3,5, 2013 adalah 4,5, dan 2014 adalah 5. Itu harus didukung oleh berbagai pihak, bukan hanya pemerintah. Karena langkah yang harus dilakukan sangat berat. [D-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!