Capres Demokrat Tidak Harus Berasal dari Partai
Senin, 9 Juli 2012 | 14:54
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie [SP/Hendro Situmorang] [YOGYAKARTA] Wakil Ketua Dewan
Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie mengatakan calon presiden (capres)
dari Partai Demokrat tidak harus berasal dari partai politik.
”Yang penting orang itu
benar-benar mampu memimpin Republik Indonesia. Dia harus bebas dari
korupsi, terbukti profesional, memiliki kinerja yang baik, berkemampuan
yang memiliki integritas dan kompeten. Kalau semua syarat-syarat
itu dipenuhi, why not kita dukung,” ujarnya usai membuka Sidang
Executive Committee (Excom) Asean Inter-Parliamentary Assembly (AIPA)
dan Sidang ke-9 Asean Inter-Parliamentary Assembly Fact Finding
Committee (AIFOKOM) di Yogyakarta.
Marzuki mengatakan, bahkan Partai
Demokrat (PD) siap dijadikan kendaraan politik bagi capres yang
berkualitas dari luar Demokrat. Ketika ditanyakan apakah kader Demokrat
legowo dan siap menerima capres dari luar partai,
Marzuki menegaskan sebagai orang parpol harus berpikir demi kepentingan
rakyat, bukan kepentingan pribadi.
”Lebih kita sebagai king maker daripada kita menjadi
king, tetapi membuat masalah. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY pun berpandangan sama. Capres tidak harus dari kader partai.
Kalau ada orang yang profesional dan sudah diusung Demokrat, tentu sebagai kader Demokrat,” ungkap Ketua DPR itu.
Dikatakan, di Indonesia banyak
calon pemimpin-peminpin yang hebat. Namun mereka tertutupi oleh oligarki
dari parpol. Marzuki mencontohkan orang yang berkualitas dan
profesional seperti Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini,
Menteri Keuangan Agus Martowardoyo yang awalnya sebagai bankir, masuk
ke ranah politik sebagai menteri, dan Dirut Garuda Indonesia Emirsyah
Satar.
Dikatakan, mereka bisa diusung
sebagai calon presiden kalau masyarakat ingin neara menjadi lebih baik.
Bila PD mengusung calon tersebut, otomatis menjadi kader Demokrat. Jadi
tidak ada masalah capres di luar partai, karena
Demokrat sebagai partai terbuka.
”Asal orang itu mampu memimpin negara ini. Dia profesional dan tidak ada konflik
interest di lembaganya. Itu yang paling baik. Contohnya saja
negara China. Pemimpin negara mereka tidak berbisnis. Sebagai
profesional, dia tidak memiliki perusahaan. Itu yang kita harapkan dari
pemimpin Indonesia
Kalau sebagai pemimpin sekaligus
pebisnis, lanjut Marzuki, kedepannya akan sulit untuk dipisahkan.
Diakui, dirinya belajar dari negeri Tiongkok. Sebagai profesional
negarawan yang memimpin bangsa besar, berfokus pada negara.
[H-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Gadis Remaja Diperkosa 5 Anggota Geng Motor
Inilah 45 Perempuan Penerima Duit Fathanah
Uskup Agung Semarang Keberatan Fotonya Digunakan Kampanye Pasangan Hadi-Don
