SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Mei 2013
Pencarian Arsip

BPPI Semarang Kembangkan BBG untuk Kapal Nelayan
Sabtu, 28 April 2012 | 9:23

Ini contoh pemakaian BBG untuk perahu nelayan. [Google] Ini contoh pemakaian BBG untuk perahu nelayan. [Google]

[SEMARANG] Mengantisipasi naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah, mengembangkan bahan bakar gas (BBG) untuk kapal penangkapan ikan.

Penggunaan BBG tersebut bisa menghemat 36 persen sampai 62 persen.

BBPPI Semarang telah menguji coba pengunaan Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Untuk CNG, bisa menghemat sampai 62 persen. Menurut Kepala BBPI Bustami Mahyuddin di Semarang, Jumat (27/4), saat ini  sudah dipasang pada kapal penangkapan ikan nelayan di Pasuruan sebanyak 245 tabung dengan CNG.

Apabila menggunakan CNG, peghematan operasional bisa mencapai Rp 26.000 atau 37 persen per hari. Kendalanya, CNG sulit didapat di banyak tempat, karena belum ada stasiun pengisiannya.

Sementara itu, untuk LPG penghematannya bisa sampai 45 persen , sehingga dalam sehari nelayan bisa menghemat Rp 9.000.   
Apresiasi

Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Heriyanto Marwoto mengapresiasi inovasi dan perekayasaan BBPPI Semarang tersebut, karena selain efisien, juga ramah lingkungan.

Program ini telah diujicoba pula di Jepara khusus BBG dengan LPG. Selanjutnya akan diusulkan agar ada kebijakan bagi nelayan secara nasional. Bahkan, menurut Marwoto hasil temuan konventer kit UGM untul mobil bisa dipertimbangkan untuk kapal nelayan.

"Kalau bagus kita akan manfaatkan karya tabung karya UGM itu,” ujar Marwoto.

Diakui BBM memang masih masalah bagi nelayan. Premiun digunakan nelayan dengan perahu tempel  yang PK-nya kecil dan populasinya dominan. SPN  268 41 di antaranya tidak operasional sementara pelabuhan perikanan 816 masih kuran 350 SPBN.

Memang masalah BBM sangat krusial bagi nelayan. Dari segi harga tidak ada masalah, cuma masalah kelangkaan sehingga nelayan terpaksa membeli dari pihak lain dengan harga Rp 6.500 sampai Rp 7.000.

Kalau mau naik, samapai Rp 6.000 tidak ada masalah, tetapi lebih penting adalah ketersediaan BBM. KKP berusaha agar ketentuan BBM nelayan terpenuhi dengan cara baik.

Selama ini, nelayan membelinya dengan jerigen sehingga rawan. Nelayan secara sah dapat secara sah membeli BBM di SPBU sekitarnya.

Selama ini sudah dilaksanakan di Serang, Manado dan Bitung dengan menggunkan kartu yang diketahui SPBU dan aparat kepolisian.

Kalau itu jalan ada pola subsisdi penggunaan BBM yang oleh nelayan dengan barcode atau smart card, namanya kartu kapal yang akan dikeluarkan oleh KKP.

BBPPI Semarang telah dan sedang meakukan inovasi perekayasaan teknologi tepat guna untuk keperluan nelayan menangkap ikan.

Terdapat 70 inovasi, di antaranya pembuatan rumah atau apartemen ikan dari plastik polyprophelyn yang merupakan bahan daur ulang. [142/M-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN