SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 1 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Berita Tak Akurat, Warga Ancam Bunuh Wartawan Peliput Perang Tanding
Senin, 10 Juni 2013 | 10:03

Bupati Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yoseph Lagadoni Herin. [SP/Yos Kelen] Bupati Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yoseph Lagadoni Herin. [SP/Yos Kelen]

[KUPANG] Wartawan yang meliput perang tanding antara warga Desa Adobala dan Redontena, Kecamatan Klubagolit di Pulau Adonara, Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat ancaman pembunuhan. Itu terjadi karena pemberitaan RCTI yang dinilai tidak akurat dan merugikan salah satu pihak.

Seorang warga  Adonara, akhir pekan lalu, juga menepon SP di Jakarta, untuk mengklarifikasi pemberitaan RCTI yang dinilai tidak akurat dan salah.

“Yang bakar pondok itu warga desa lain. Masak warga desa kami yang dituduh membakar. Beri tahu RCTI itu, jangan buat berita bohong,” kata warga yang meminta namanya tidak disebutkan. 

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Cabang Kupang NTT, Kristo Ngay membenarkan ancaman pembunuhan terhadap wartawan.

Seperti diketahui, ancaman pembunuhan awalnya hanya ditujukan kepada wartawan RCTI Joni Nura, namun kemudian ancaman itu dilakukan terhadap semua wartawan yang berada di tempat kejadian itu.  

“Karena ancaman yang serius tersebut, maka kita akan memboikot pemberitaan perang tanding di Adonara,” kata Kristo kepada SP di Kupang, Senin (10/6).  

“Kami sangat sesalkan terhadap ancaman itu. Hingga hari ini kami masih menunggu Joni Nura untuk membuat  laporan terhadap ancaman pembunuhan tersebut. Kami menerima laporan itu dari masyarakat.  Sehingga IJTI NTT berupaya untuk mendapat laporan kronologis ancaman pembunuhan terhadap Joni Nura itu,” jelas Kristo Ngay.  

Adapun ancaman pembunuhan terhadap Joni diterima dari warga Desa Redontena yang mengaku bernama Blasius, yang marah seusai menonton berita konflik Adonara yang tayang di televisi tersebut pada Jumat (7/6).

Isi berita tersebut menyebutkan pada perang tanding tersebut sebanyak 50 Warga Desa Redontena membakar pondok milik warga Desa Adobala. 

“Orang yang mengaku bernama Blasius itu mengancam, karena menurutnya isi berita itu salah. Mestinya terbalik, warga Desa Adobala yang membakar Oring (tempat penyimpan hasil pertanian atau perkebunan),” kata Kristo Ngay. 

Bom Rakitan

Sementara itu, aparat kepolisian yang mengamankan lokasi perang tanding antarwarga di Desa Redontena dan Adobala di Kecamatan Klubagolit, Pulau Adonara kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menemukan bom rakitan aktif di perbatasan kedua desa itu.  

“Bom itu ditemukan di perbatasan kedua desa yang bertikai,” kata Kapolres Flores Timur, Ajun Komisaris Besar (AKBP) Wahyu Prihatmika, kepada SP melalui telepon dari Larantuka, Senin, (10/6) pagi.  

Warga dua desa di Pulau Adonara itu terlibat bentrokan  terkait sengketa lahan garapan di perbatasan kedua desa. Masalah ini dipicu pembakaran pondok Oring, warga Desa Redontenda. Bentrokan itu mengakibat dua orang mengalami luka tembak senjata rakitan.  

Informasi yang dihimpun menyebutkan, bom yang ditemukan berdaya ledak tinggi, dan bisa menghabiskaan penduduk satu desa, karena bom rakitan yang terbuat dari botol itu menggunakan detonator handphone (HP).

Bom tersebut berisikan paku, pecahan kaca untuk melukai semua makluk hidup yang berada di lokasi ledakan itu.  

“Handphone yang digunakan sebagai detonator itu berada di samping bom rakitan yang ditanam dalam tanah. Handphone itu sudah terdapat 9 panggilan tidak terjawab. Gagana Polda NTT telah mengamankan bom tersebut untuk proses penyelidikan lebih lanjutan,” kata Wahyu.  

Menurut Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, keadaan saat ini sudah terkendali. Namun pihak keamanan dari TNI dan anggota Polisi dari Polres Larantuka dibantu dengan Brimop masih berada di kedua desa tersebut.     

“Kondisi keamanan di kedua desa itu sudah terkendali dan aktivitas masyarakat sudah kembali normal. Namun pihak keamanan masih terus memantau serta terus menjaga sambil menunggu situasi benar-benar aman,” kata Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, yang biasa disapa Yusni.  

Yusni, menambahkan, terkait ancaman wartawan sangat disesalkan. Namun hingga saat ini pihak keamanan masih terus informasi ancaman itu di lokasi pertikaian. tambah Yosni. [Yos/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!