Baru Sekali Terbang, Ismi Sempat Dilarang Ibunya Naik Sukhoi
Kamis, 10 Mei 2012 | 14:46
Kabin kelas ekonomi di pesawat Sukhoi [google] [TANGERANG] Hj
Murtini mengurung diri di kamar. Ibu dari reporter Trans TV Ismiyati ini terus-menerus menangis, bahkan sempat
pingsan, setelah mendengar kabar anaknya termasuk salah satu penumpang pesawat
Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5)
petang.
Murtini sangat
bersedih. Pasalnya, pada Rabu siang dia sempat meminta suaminya, H Sikun, untuk
melarang Ismi ikut terbang. Sesaat sebelum terbang, Ismi sempat mengirim pesan
singkat ke telepon seluler sang ayah. Dalam pesannya, anak ketiga dari empat
bersaudara itu meminta orangtuanya berdoa, karena penerbangan tersebut
merupakan pengalaman pertama baginya naik pesawat.
“Ketika pesan
singkat itu saya sampaikan ke ibunya (Ny Hj Murtini-Red), reaksinya langsung
menolak. Ibunya berpesan agar Ismi membatalkan saja naik pesawat itu. Namun,
pesan ibunya itu tidak sempat saya sampaikan ke Ismi,” ujar Sikun yang berusaha
tegar menerima kenyataan putrinya termasuk salah satu dari 42 penumpang pesawat
naas tersebut.
Dia mengakui,
putrinya yang alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung tersebut sama
sekali belum pernah naik pesawat. “Ismi baru bekerja di Trans TV sejak enam bulan lalu,” tambah Sikun.
Sepanjang Rabu
malam, kerabat dan tetangga mendatangi rumah Sikun di Kompleks Griya Serdang
Indah, Blok D3 No 3, Kelurahan Harjatani, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten
Serang, Banten. Tiga anggota keluarga langsung menuju Bandara Halim
Perdanakusuma dan Gunung Salak, untuk memastikan nasib Ismi.
Suasana duka juga
menyelimuti rumah Aditya Sukardi (33), di Jalan Tirto Utomo, Gang 5/10, Desa
Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Aditya, kamerawan Stasiun
Televisi Trans TV, menjadi salah satu
korban kecelakaan joy flight pesawat
Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Rabu (9/5) petang.
Wahyono (58), ayah Aditya pada Rabu malam langsung menuju Jakarta, untuk
memantau langsung perkembangan pencarian dan evakuasi korban.
Lelaki periang
yang biasa dipanggil teman-temannya dengan sebutan Cebuk (gayung) itu, sebelum
terbang sempat menelepon ke rumah, mengabarkan perihal liputan joy flight. [ARS/149]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Pimpinan KPK Sindir Sikap Kader PKS
Penghargaan Untuk Sebuah Ketidaknyamanan
KPK Dalami Aliran Dana ke Anis Matta
Wanita-Wanita Cantik Merusak Citra PKS Sebagai Partai Agama
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Fathanah Mulai Sebut Nama Presiden PKS Anis Matta
