SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 23 September 2014
Pencarian Arsip

Banjir di Jateng, Ribuan Warga Masih Mengungsi
Kamis, 11 April 2013 | 11:53

Ilustrasi banjir. [Dok. SP] Ilustrasi banjir. [Dok. SP]

[DEMAK]  Ribuan warga Demak, Kudus, dan Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), sampai Kamis (11/4) siang, masih bertahan di tempat-tempat pengungsian, menyusul bencana banjir bandang yang menerjang wilayah itu sejak Selasa (9/4) malam.  

Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa mengatakan kepada SP, Kamis siang, genangan banjir masih parah di sejumlah desa/kecamatan di Demak, Kudus, dan Cilacap. Disebutkan, sekitar 4.150 warga Demak masih mengungsi dan 300 keluarga di Kudus juga mengungsi.  

Pantauan SP, warga Demak khususnya di Kecamatan Mijen, yang tertimpa bencana, sempat mengungsi di emperan toko dan tepi jalan raya. Tim SAR dan BPBD dibantu warga berusaha mengevakuasi warga yang dilanda banjir dengan perahu karet.

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan meluapnya sungai-sungai di sekitarnya, dan beberapa tanggul penahan air jebol. Salah satunya tanggul Sungai Wulan di Kecamatan Mijen, Demak, jebol sepanjang 30 meter Selasa (9/4) malam. Akibatnya, banjir menggenangi pemukiman penduduk dan sekitar 4.150 jiwa warga Demak mengungsi  

Pada Rabu (10/4) malam, kata Sarwa, banjir menerjang Cilacap dan sekitar 310 rumah warga tergenang air. “Distribusi bantuan makanan, obat-obatan maupun tenda-tenda untuk para pengungsi sudah disalurkan ke para korban bencana, dan kami terus siaga untuk mengantisipasi setiap kemungkinan yang terjadi,” ujarnya.  

Disebutkan, penanganan para korban banjir bisa diantisipasi secara cepat karena sejak awal  Januari 2013, BPBD Jateng sudah mengirim seluruh logistik bencana ke semua daerah kabupaten/kota yang rawan bencana di Jateng. “Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengalokasikan Rp 9 miliar untuk penanggulangan banjir sejak November 2012 sampai April 2013. Ini yang kami gunakan,” jelasnya.  

Dana tersebut, katanya, belum termasuk alokasi dari BPBD Jateng, yang jumlahnya juga mencapai ratusan juta. Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Jumat (12/4) akan mendistribusikan lagi dana untuk Demak, Cilacap, dan Kudus masing-masing Rp 100 juta, beserta bantuan beras untuk warga yang tertimpa bencana.  

Jebol
Sementara itu, tanggul Sungai Wulan di Desa Mijen, Kecamatan Mijen, yang jebol sepanjang 30 meter, sampai saat ini belum bisa ditutup karena genangan air masih tinggi. Akibat jebolnya tanggul itu, ribuan rumah dan ratusan hektare sawah milik warga tergenang air antara satu hingga dua meter.  

Arus lalu lintas Jepara-Demak, Jawa Tengah, bahkan ditutup dan dialihkan memutar ke Kudus, sebab jalan tersebut tergenang banjir setinggi 1 meter sepanjang 500 meter di Desa Mijen, Kecamatan Mijen, Demak.

Kapolsek Mijen, Ajun Komisaris Budiharsono mengatakan, jalur Jepara-Demak terpaksa ditutup. Arus lalu lintas dari arah Jepara menuju Demak dan juga dari arah Demak menuju Semarang dialihkan melalui Kabupaten Kudus.  

Solo
Sementara itu, sekitar 100 warga yang bertahan di kawasan sabuk hijau Waduk Kedungombo, terpaksa mengungsi dalam beberapa hari terakhir ini. Tempat tinggal mereka terbenam luapan air waduk yang saban hari mengalami pasang. Sekitar 6.000 hektare areal pertanian di sepanjang hulu Sungai Serang juga tergenang banjir.

Menurut Camat Kemusu, Widodo, rumah warga tersebut tersebar di lima desa. Mereka ini mendiami kawasan, yang sebenarnya terlarang untuk digunakan sebagai pemukiman.  

Widodo mengatakan, tiga hari terakhir ini, hujan deras selalu turun di daerahnya membuat elevasi waduk tersebut naik drastis menjadi 90,6 meter. “Mau tidak mau mereka harus mengungsi. Mereka mengungsi ke rumah saudaranya yang terdekat. Genangan seperti ini biasanya lama surutnya. Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD agar mereka yang mengungsi ini mendapatkan bantuan,” kata Widodo, Rabu.  

Selain di pemukiman warga yang mulai tergenang, puluhan warung makan dan rumah yang berada di pinggir WKO juga terendam air bahkan ada yang nyaris tenggelam. Salah seorang warga di Desa Genengsari, Kemusu, Boyolali, Samsuri mengatakan, luapan air waduk mulai menjamah pemukiman di sabuk hijau sejak Senin (8/4). “Setiap hari bertambah tingginya karena hujan turun terus,” ujarnya.  

 Jika elevasi air waduk terus naik, jumlah tempat tinggal warga yang terkena genangan akan bertambah. Meski daerah sabuk hijau waduk merupakan daerah terlarang untuk dijadikan pemukiman dan warga setempat telah diberi ganti rugi, namun sejak dibangun 20 tahun silam, masih banyak yang menempati lahan tersebut untuk tempat tinggal. Selain itu, banyak warga yang mengupayakan penghasilan dengan membuka warung di tepi waduk.  

Warga sekitar waduk, biasa menggunakan lahan untuk bercocok tanam. “Ada juga areal kebun yang terendam. Belum bisa dihitung kerugiannya,” kata Widodo.  

Bekas camat Kemusu, yang kini menjadi relawan di sekitar Waduk Kedungombo, Luwarno mengatakan, pemukiman warga yang terkena luapan air waduk Kedungombo memang sebenarnya daerah terlarang untuk ditempati. Namun, di tengah situasi bencana, sudah seyogyanya pemerintah turun tangan. “Secara kemanusiaan mereka pantas mendapatkan bantuan,” ujarnya.  

Luwarno mengatakan, warga yang tinggal di kawasan sabuk hijau itu sudah turun-temurun. Pemerintah setempat berulang kali membujuk agar bersedia pindah dan tidak lagi menempati kawasan yang terlarang itu. Namun mereka nekat dengan berbagai alasan.  

“Misalnya karena ingin dekat dengan lahan sawah mereka,” ujarnya. [IMR/142/J-11]    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»