Aburizal Diingatkan Untuk Tidak Maju Capres
Senin, 23 April 2012 | 17:57
Ikrar Nusa Bhakti [google] [JAKARTA] Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
diingatkan untuk berpikir ulang maju sebagai calon presiden (capres) pada
Pemilu 2014.
Sebab selain elektabilitasnya rendah, Ical, sapaan akrabnya
tidak memahami buaya Jawa, yang adalah mayoritas pemilih di negara ini.
Hal itu dikemukakan pengamat politik dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti dalam dikusi bertema
"Presidensiil VS Multi Partai Dalam Bingkai Konstitusi" yang digelar MPR RI bersama Koordinatoriat
Wartawan Parlemen di Jakarta, Senin (23/4).
Hadir sebagai pembicara Ketua
Komisi III DPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa.
Ikrar Nusa Bakti mengingatkan ketua Umum Dewan Pimpinan
Pusat Partai Golkar Aburizal Bakrie untuk berpikir 1.000 kali jika ingin maju
sebagai bakal calon presiden 2014.
"Saya hanya mengingatkan, Aburizal Bakrie harus berpikir
1.000 kali jika ingin maju sebagai capres 2014," katanya.
Menurut dia, jika tolok ukurnya adalah elektabilitas yang dicerminkan
dari hasil survei, maka Aburizal Bakrie bukanlah orang yang tinggi angkanya.
Karena itu, tambah Ikrar, untuk pencalonan sebagai capres Aburizal harus
berfikir ulang.
"Bagi saya, percepatan atau tidak dipercepat
pelaksanaan Rapinnasus PG, itu tak jadi masalah," kata Ikrar.
Ikrar menyatakan, sebenarnya untuk pengajuan capres harus
jauh-jauh hari bisa diketahui. Selama ini di Indonesia, untuk capres ataupun pilkada tidak jelas
sehingga calonya sepertinya dipilih secara mendadak.
Ikrar juga mempertanyakan apakah rapimnassus pada bulan Juni
atau Juli yang akan dilaksanakan PG tersebut, hanya unruk mendukung
satu-satunya calon yakni Aburizal, atau juga terbuka untuk calon-calon lainnya.
"Menurut saya, indikatornya harus jelas melalui hasil
survei. Kalau rapimnassus hanya untuk menggolkan (Aburizal) saja. Itu namanya
bohong-bohongan, itu manipulasi politik," kata Ikrar.
Ikrar menjelaskan bahwa PG harus belajar dari dua kali
kegagalan dalam pilpres. Yakni, pertama, saat zaman Akbar Tandjung, yang
membuat konvensi dengan membuka diri bagi orang di luar Golkar.
Kedua, saat
zaman Jusuf Kalla yang tanpa melalui konvensi tiba-tiba muncul satu calon
tunggal.
"Bagi saya, rapimnassus itu hanya mekanisme, bukan gol
semata. Tapi kalau hanya itu (golnya) yang terjadi maka elite-elite PG telah
melakukan manipulasi politik," kata Ikrar. [L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Inilah 45 Perempuan Penerima Duit Fathanah
Pimpinan KPK Sindir Sikap Kader PKS
