SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 1 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Aburizal Diingatkan Untuk Tidak Maju Capres
Senin, 23 April 2012 | 17:57

Ikrar Nusa Bhakti [google] Ikrar Nusa Bhakti [google]

[JAKARTA] Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie diingatkan untuk berpikir ulang maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu 2014.

Sebab selain elektabilitasnya rendah, Ical, sapaan akrabnya tidak memahami buaya Jawa, yang adalah mayoritas pemilih di negara ini.

Hal itu dikemukakan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti dalam dikusi bertema "Presidensiil VS Multi Partai Dalam Bingkai Konstitusi"  yang digelar MPR RI bersama Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Jakarta, Senin (23/4).

Hadir sebagai pembicara Ketua Komisi III DPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa. Ikrar Nusa Bakti mengingatkan ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Aburizal Bakrie untuk berpikir 1.000 kali jika ingin maju sebagai bakal calon presiden 2014.

"Saya hanya mengingatkan, Aburizal Bakrie harus berpikir 1.000 kali jika ingin maju sebagai capres 2014," katanya.

Menurut dia, jika tolok ukurnya adalah elektabilitas yang dicerminkan dari hasil survei, maka Aburizal Bakrie bukanlah orang yang tinggi angkanya. Karena itu, tambah Ikrar, untuk pencalonan sebagai capres Aburizal harus berfikir ulang.

"Bagi saya, percepatan atau tidak dipercepat pelaksanaan Rapinnasus PG, itu tak jadi masalah," kata Ikrar.

Ikrar menyatakan, sebenarnya untuk pengajuan capres harus jauh-jauh hari bisa diketahui. Selama ini di Indonesia,  untuk capres ataupun pilkada tidak jelas sehingga calonya sepertinya dipilih secara mendadak.

Ikrar juga mempertanyakan apakah rapimnassus pada bulan Juni atau Juli yang akan dilaksanakan PG tersebut, hanya unruk mendukung satu-satunya calon yakni Aburizal, atau juga terbuka untuk calon-calon lainnya.  

"Menurut saya, indikatornya harus jelas melalui hasil survei. Kalau rapimnassus hanya untuk menggolkan (Aburizal) saja. Itu namanya bohong-bohongan, itu manipulasi politik," kata Ikrar.

Ikrar menjelaskan bahwa PG harus belajar dari dua kali kegagalan dalam pilpres. Yakni, pertama, saat zaman Akbar Tandjung, yang membuat konvensi dengan membuka diri bagi orang di luar Golkar.

Kedua, saat zaman Jusuf Kalla yang tanpa melalui konvensi tiba-tiba muncul satu calon tunggal. "Bagi saya, rapimnassus itu hanya mekanisme, bukan gol semata. Tapi kalau hanya itu (golnya) yang terjadi maka elite-elite PG telah melakukan manipulasi politik," kata Ikrar.  [L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!