SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip

Abraham Samad: Tidak Ada yang Diistimewakan
Rabu, 21 Desember 2011 | 11:34

Abraham Samad [google] Abraham Samad [google]

[JAKARTA] Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyatakan bahwa hukum harus berlaku sama. Tidak boleh ada yang mendapatkan hak istimewa.

Demikian jawaban Abraham saat ditanya terkait surat dari pengacara tersangka kasus cek pelawat Nunun Nurbaeti bahwa Nunun minta diperiksa di tempat yang nyaman. Dikatakan juga, pemeriksaan dilakukan berdasarkan undang-undang (UU) yang ada.

"Hukum itu harus sama ya. Tidak boleh ada orang yang mendapatkan privilage. Pokoknya, equality before the law," tegas Abraham usai menghadiri acara peluncuran buku dan semiloka nasional anti korupsi "Orang Kampung Melawan Korupsi" di Jakarta, Rabu (21/12).

Selain itu, Abraham menyampaikan, KPK juga sudah mencabut pembantaran Nunun dan mengembalikannya ke Rutan Pondok Bambu. Secara terpisah, Pimpinan KPK Bambang Widjojanto mengatakan, dalam hal permintaan Nunun maka KPK akan mempertimbangkan semua usulan. Tapi yang terpenting adalah outcome.

"Hal yang penting adalah outcome-nya. Memang belum diputuskan. Ada permohonan, ada surat, tapi surat itu sudah agak out of date karena waktu diputuskan harus kembali, baru surat itu muncul," ujar Bambang.
Ditambahkan, KPK akan segera memutuskan terkait permintaan tersebut. Bambang mengutarakan, yang sedang dilakukan KPK adalah penyidikan terhadap semua fakta yang didapat. Termasuk juga menggali semua informasi. Tapi, hal itu tidak mungkin dibuka ke publik.

"Semua yang sedang dilakukan oleh KPK itu bagian dari kehendak kuat masyarakat dan seluruh unsur penegak hukum untuk menegakkan apa yang harus ditegakkan di bumi ini," ucap Bambang.

Korupsi
Sementara itu, saat membuka acara peluncuran buku dan semiloka, Abraham mengemukakan, yang harus ditunjukkan yakni tidak hanya bicara, menunjukkan, tapi juga memperlihatkan bahwa bisa bekerja secara maksimal dengan hasil yang sangat memuaskan.

"Kita tidak bekerja mengharapkan seberapa banyak yang negara bisa berikan kepada kita. Tapi, kita bekerja keras atas kepentingan negara tanpa mengharapkan balasan apa-apa," tutur Abraham.

Buku berjudul Orang Kampung Melawan Korupsi itu cukup menggelitiknya. Judul buku itu juga dinilai Abraham mirip dengan kisah hidupnya.

"Semalam saya senyum membaca judul buku ini. Akhirnya, saya menghampiri cermin, saya bilang, mungkin buku ini diperuntukkan kepada saya. Karena saya orang kampung, dari Makassar yang mencoba menghunuskan pedang dan membantai para koruptor yang ada di negeri ini," kata Abraham.

Disampaikan bahwa dalam memberantas korupsi tidak hanya diserahkan kepada satu elemen. Tapi semua masyarakat harus bekerja, bersatu padu memberantas korupsi, dari Sabang sampai Merauke. [D-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN