2012 BPBD Provinsi NTT Mendapat Dana Bencana Rp 88 M
Senin, 2 Januari 2012 | 15:41
Ilustrasi provinsi NTT [google] [KUPANG] Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun anggaran 2012 mendapat bantuan dana
rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam sebesar Rp 88 miliar. Dana tersebut
akan dibagi kepada sembilan kabupaten, yakni Kabupaten Belu, TTU, Kupang, Rote
Ndao, Sumba Tengah, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur dan Ngada.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT, Tini Thadeus,
kepada SP, Senin (2/1) siang, mengatakan, bantuan yang diberikan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut dikhususkan untuk perbaikan
infrastruktur di sembilan kabupaten/kota.
"Perbaikan infrastruktur, misalnya jalan yang rusak akibat bencana,
perbaikan jembatan dan lain-lain," kata Thadeus.
Sementara itu, BPBD NTT juga mendapat alokasi sebanyak Rp 4,8 miliar untuk
supervisi, pembinaan dan monitoring.
Menurutnya, fokus pembangunannya ada di kabupaten/kota, sehingga sebagian besar
anggaran dialokasikan ke kabupaten/kota untuk mengelolahnya.
Menurut Tini Thadeus, BNPB sudah memberikan bantuan Rp 30 miliar pada
tahun anggaran 2011 untuk pengadaan 30 unit traktor besar, 40 kapal ikan dengan
mesin 3 GT, delapan mesin giling gabah, 162 mesin giling jagung dan 3.000 ekor
ternak kambing dan babi, untuk diserahkan ke 19 kabupaten/kota, kecuali Kota
Kupang dan Sabu Raijua. Untuk tahun 2012, kata Thadeus, tidak ada lagi pengadaan
traktor.
Namun, Pemerintah Provinsi NTT akan memperjuangkannya setelah menyampaikan
laporan serah terima 30 unit traktor yang telah diserahterimakan pada 28
Desember 2011 lalu di Waingapu dan Sumba Timur.
Menurut Thadeus, total bantuan BNPB untuk Provinsi NTT pada tahun anggaran 2011
sebesar Rp 35 miliar. Untuk tahun 2012, jumlah ini naik menjadi Rp 88 miliar.
"Ini berarti perhatian dari pemerintah pusat melalui Kepala BNPB. Dia
memberi perhatian lebih karena memang NTT rawan bencana, yakni sembilan bulan
kekeringan dan hanya tiga bulan hujan," katanya.
Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,
mengatakan, trend bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dia menyebutkan, jika tahun 2002 terdapat 190 bencana, pada 2005 terjadi 691
bencana dan 2010 2.232 bencana. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir
bandang, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang
merupakan jenis bencana yang dominan di Indonesia.
Ditambahkan, data bencana tahun 2002 sampai 2011 menunjukkan sekitar 89 persen
dari total bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi.
Bencana hidrometeorologi terjadi rata-rata hampir 70% dari total bencana di
Indonesia. Perubahan iklim global, degradasi lingkungan, kemiskinan, dan
bertambahnya jumlah penduduk makin memperbesar ancaman risiko bencana.
Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang besar.
"Pada tahun 2011, bencana di Indonesia terjadi sekitar 1.598 kejadian
bencana.
Data ini masih sementara karena belum seluruhnya data di kementerian/lembaga
dan pemerintah daerah terkumpul," sebut Sutopo.
Dia juga menyebutkan, jumlah orang meninggal dan hilang akibat bencana mencapai
834 orang. Mereka yang menderita dan mengungsi sebanyak 325.361 orang.
Rumah rusak berat 15.166 unit, rusak sedang 3.302 unit dan rusak ringan 41.795
unit. Dari 1.598 kejadian bencana tersebut, sekitar 75 persen adalah
bencana hidrometerologi.
Sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus
masing-masing terjadi 11 kali (0,7 persen), 1 kali (0,06 persen) dan 4 kali
(0,2 persen). Dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi yakni lima orang
meninggal dan rumah rusak sebanyak 7.251 unit.
Selain itu, jelas Sutopo, berdasarkan jumlah kejadian terbanyak, paling banyak
adalah banjir (403 kejadian), kemudian kebakaran (355), dan puting beliung
(284).
"Puting beliung merupakan fenomena kejadian yang terus meningkat secara
tajam jumlah kejadiannya dalam 10 tahun terakhir. Hal ini sangat berkaitan
dengan perubahan iklim global dan lingkungan," jelas Sutopo.
Di samping itu, berdasarkan korban meninggal dan hilang, kecelakaan
transportasi kapal mendominasi dibandingkan dengan bencana lain.
Korban jiwa dari kecelakaan transportasi 372 orang meninggal, sedangkan tanah
longsor 192 orang dan banjir 160 orang.
Menurutnya, kecelakaan yang dimaksud bukan kecelakaan lalu lintas. Sedangkan
berdasarkan jumlah orang mengungsi karena banjir mencapai 279.523 orang, erupsi
gunungapi 9.699 orang, dan longsor 9.053 orang.
Dia juga menyebutkan, dibanding tahun 2010, jumlah kejadian dan korban serta
kerugian yang ditimbulkan bencana lebih kecil. Pada tahun 2010, jumlah kejadian
bencana mencapai 2.232 kejadian.
Jumlah korban meninggal dan hilang mencapai 2.139 orang, menderita dan
mengungsi sekitar 1,7 juta orang dan menimbulkan rumah rusak berat 52.401unit.
Bencana banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai dan erupsi Gunung Merapi adalah
bencana terbesar pada tahun 2010. (Yos/L-9).
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Ada Oknum Komisi I DPR RI Yang Nikmati Uang Sukhoi Yang Jatuh di Gunung Salak
Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Ditemukan dalam Kondisi Baik
Fahri: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik
Invitasi Bolabasket Alumni SMA se-Jakarta
Biayanya Mahal, Jokowi Tak Akan Pasang Iklan
Pastikan Semua Jenazah Terevakuasi, Tim SAR Sapu Lokasi Jatuhnya Sukhoi
KPK Perpanjang Masa Tahanan Angie
Jokowi Terima Penghargaan TPID Terbaik
Kader Demokrat Masih Juga Menganggap Ani Yudhoyono Layak Jadi Capres
Ketua Umum PGI: Sosialisasikan 4 Pilar Bangsa ke Para Pemimpin Bangsa
