SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 18 Mei 2013
Pencarian Arsip

MDNA, Bukan Album Biasa Madonna
Selasa, 1 Mei 2012 | 15:27

Madonna [google] Madonna [google]

[LONDON] Madonna memang sudah tidak muda lagi. Jika dilihat dari penampilan, gaya, dan kesehatan kulit sang diva pop ini siapa sangka usianya sudah menginjak kepala lima tepatnya 53 tahun. Sebuah usia yang masuk dalam kategori sangat matang untuk wanita zaman sekarang.  

Namun, usia bukanlah aral yang melintangi upaya Madonna untuk selalu eksis sebagai ratu di skena musik pop. Madonna seolah sudah ditakdirkan untuk selalu dipandang. Ini dibuktikan dengan kelahiran album MDNA sebagai album studio ke-12 miliknya. Pada karya terbarunya ini, Madonna tetap bertahan di ranah elektronika-dance.  

MDNA bukan sekadar album biasa yang membuktikan eksistensi Madonna. MDNA juga menjadi tonggak sejarah, karena album ini menjadi karya pertama bagi Madonna selepas dari Warner Music yang telah menaunginya sejak 1982 lalu. Kini di bawah label Interscope, wanita bernama lengkap Madonna Louise Ciccone ini berupaya membuktikan jika kreatifitas bermusiknya selalu panas membara. Tidak tanggung-tanggung, album ini hadir dalam dua keping CD dengan puluhan lagu teristimewa.  

Dalam menghadirkan lagu-lagu hebatnya, Madonna memang mempunyai kecenderungan untuk bekerja sama dengan nama-nama baru. Kehadiran orang baru dianggap sebagai alat untuk menyuntikkan sesuatu yang segar di albumnya. Pada album MDNA terselip pula nama-nama terkini di ranah dance seperti Martin Solveig, Benny Benassi, The Demolition Crew, Indiigo, hingga William Orbit yang kembali diajak bekerja sama oleh Madonna.  

Sebelumnya kerja sama yang gemilang antara Madonna dan Orbit sudah terbukti di jajaran album-album terbaik Madonna, Ray of Light (1998) dan Music (2000).   Single pertama untuk MDNA adalah Give Me All Your Lovin. Jika didengar selintas, single ini terdengar sangat familiar dengan materi-materi yang biasa dibawakan oleh Madonna. Catchy pop-tunes dengan anthemic chorus menjadi andalan untuk Martin Solveig menggambarkan ciri khas Madonna dalam lagu. Kerja sama mereka cenderung menghadirkan sesuatu yang cerah juga light ketimbang mengandalkan sound-sound elektronika canggih.  

Untuk mempertebal kesan kekinian dan semangat girl-power, hadir pula dua nama rapper perempuan yaitu Nicki Minaj dan M.I.A.. Dua rapper belia ini menjadi highlight tersendiri untuk lagu Give Me All Your Lovin.    

Nama besar dari skena musik dansa lain yang juga menjadi “korban rayuan” Madonna adalah Benni Benassi. Tangan dingin Benassi di single kedua berjudul Girl Gone Wild memberi asupan degup house yang menghentak. Tidak terbantahkan, semua klise Madonna bisa kita temukan di single kedua ini. Mulai dari beat-beat ceria penuh vitalitas dan hook yang memikat, serta penekenan-penekanan pada beberapa bagian agar vokal Madonna lebih teraksentuasi.  

Uji nyali Madonna dalam album MDNA terbaca dari beberapa eksperimen bermusiknya. Ikut sertanya nama-nama baru berperan sebagai instrumen bagi Madonna untuk menyalurkan idealismenya. Walhasil, MDNA masih sarat dengan energi dan semangat dance-pop yang elektik. Bahkan setiap lagu hadir dengan materi yang sangat kuat dan berkarakter. Sederhananya tidak ada lagu yang jelek di album ini.  

Di tengah dominasi Lady Gaga yang ditengarai menjadi penerus tahta Madonna, sang diva juga membuktikan diri bahwa ia masih mempunyai amunisi untuk tampil stand-out tanpa terdengar ikut-ikutan. Inilah keunikan sekaligus cerdasnya seorang Madonna. Benny Benassi hadir untuk mengalirkan lagu-lagu dance yang memiliki hook yang kuat dan trance-like, seperti pada track I’m Addicted.   Sementara itu, Solveig memberi pendekatan yang lebih nge-pop dan light yang dapat didengar di track Turn Up The Radio atau I Don’t Give A yang lagi-lagi menampilkan kekuatan rap Nicki Minaj yang khas.  

Sedang peran serta Indiigo menghadirkan single Superstar yang antemik dengan aransemen yang sangat sederhana dan minimalistik, namun tidak kehilangan unsur fun. Tapi tetap saja juaranya adalah William Orbit. Tangan dingin sang maestro hadir mendominasi MDNA di enam buah lagu, yaitu separuh dari materi yang dimiliki oleh MDNA.  

Single
berjudul I’m A Sinner, bisa dibilang adalah salah satu track terbaik di album ini. Kehadiran lagu ini menjadi penanda kembalinya kejayaan kerjasama Madonna dan Orbit seperti layaknya di single Beautiful Stranger.  

Disusul kemudian dengan Love Spent yang menunjukkan kemampuan Madonna dan Orbit dalam mengkomposisi lagu uang kompleks dan sophisticated, namun tidak kehilangan unsur fun dan juga mudah dicerna.  

Sementara dua track penutup di keping pertama hadir dalam tempo yang lebih perlahan. Lagu Masterpiece adalah sebuah electro-ballad yang menjadi soundtrack untuk film debut Madonna sebagai sutradara, W.E. Masterpiece memiliki komposisi vokal Madonna yang mengalun lirih dengan prima. Kemudian pada lagu Falling Free lebih mengandalkan atmosfir gloomy sehingga menangkap kesan murung dengan sempurna.  

Pada keping kedua, Solveig sangat mendominasi.  Ada tiga lagu tambahan dari Solveig, seperti Beautiful Killer yang mengadopsi tune klasik Madonna. Pada lagu B-Day Song yang ceria menghadirkan kembali M.I.A. sebagai bintang tamu. Sementara itu, Bennassi hadir dalam Best Friend dengan chorus yang justru sangat nge-pop. Ditutup dengan Give Me All Your’ Lovin yang diremiks oleh duo LMFAO. Mau tidak mau membuat track ini terdengar sangat LMFAO.  

Secara keseluruhan MDNA menandakan kembalinya Madonna, tidak hanya sebagai salah satu pemusik terbaik di dunia. MDNA hadir dengan energi yang sangat berlimpah. MDNA menandakan kembalinya seorang Madonna pada musik yang berkelas, namun tidak terlupa untuk bersenang-senang, baik dalam suka maupun duka. [berbagai sumber/SP/Elvira Anna Siahaan]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN