MDNA, Bukan Album Biasa Madonna
Selasa, 1 Mei 2012 | 15:27
Madonna [google] [LONDON] Madonna memang sudah tidak muda lagi. Jika dilihat
dari penampilan, gaya, dan kesehatan kulit sang diva pop ini siapa sangka
usianya sudah menginjak kepala lima tepatnya 53 tahun. Sebuah usia yang masuk
dalam kategori sangat matang untuk wanita zaman sekarang.
Namun, usia bukanlah aral yang melintangi upaya Madonna
untuk selalu eksis sebagai ratu di skena musik pop. Madonna seolah sudah
ditakdirkan untuk selalu dipandang. Ini dibuktikan dengan kelahiran album MDNA sebagai album studio ke-12
miliknya. Pada karya terbarunya ini, Madonna tetap bertahan di ranah
elektronika-dance.
MDNA bukan sekadar
album biasa yang membuktikan eksistensi Madonna. MDNA juga menjadi tonggak sejarah, karena album ini menjadi karya
pertama bagi Madonna selepas dari Warner Music yang telah menaunginya sejak
1982 lalu. Kini di bawah label Interscope, wanita bernama lengkap Madonna
Louise Ciccone ini berupaya membuktikan jika kreatifitas bermusiknya selalu
panas membara. Tidak tanggung-tanggung, album ini hadir dalam dua keping CD
dengan puluhan lagu teristimewa.
Dalam menghadirkan lagu-lagu hebatnya, Madonna memang
mempunyai kecenderungan untuk bekerja sama dengan nama-nama baru. Kehadiran
orang baru dianggap sebagai alat untuk menyuntikkan sesuatu yang segar di
albumnya. Pada album MDNA terselip
pula nama-nama terkini di ranah dance seperti Martin Solveig, Benny Benassi,
The Demolition Crew, Indiigo, hingga William Orbit yang kembali diajak bekerja
sama oleh Madonna.
Sebelumnya kerja sama yang gemilang antara Madonna dan Orbit
sudah terbukti di jajaran album-album terbaik Madonna, Ray of Light (1998) dan Music
(2000).
Single pertama untuk MDNA
adalah Give Me All Your Lovin.
Jika didengar selintas, single ini
terdengar sangat familiar dengan materi-materi yang biasa dibawakan oleh
Madonna. Catchy pop-tunes dengan anthemic chorus menjadi andalan untuk Martin
Solveig menggambarkan ciri khas Madonna dalam lagu. Kerja sama mereka cenderung
menghadirkan sesuatu yang cerah juga light ketimbang mengandalkan sound-sound
elektronika canggih.
Untuk mempertebal kesan kekinian dan semangat girl-power,
hadir pula dua nama rapper perempuan yaitu Nicki Minaj dan M.I.A.. Dua rapper
belia ini menjadi highlight tersendiri
untuk lagu Give Me All Your Lovin.
Nama besar dari skena musik dansa lain yang juga menjadi
“korban rayuan” Madonna adalah Benni Benassi. Tangan dingin Benassi di single
kedua berjudul Girl Gone Wild memberi
asupan degup house yang menghentak. Tidak terbantahkan, semua klise Madonna
bisa kita temukan di single kedua
ini. Mulai dari beat-beat ceria penuh vitalitas dan hook yang memikat, serta
penekenan-penekanan pada beberapa bagian agar vokal Madonna lebih
teraksentuasi.
Uji nyali Madonna dalam album MDNA terbaca dari beberapa eksperimen bermusiknya. Ikut sertanya
nama-nama baru berperan sebagai instrumen bagi Madonna untuk menyalurkan
idealismenya. Walhasil, MDNA masih
sarat dengan energi dan semangat dance-pop yang elektik. Bahkan setiap lagu
hadir dengan materi yang sangat kuat dan berkarakter. Sederhananya tidak ada
lagu yang jelek di album ini.
Di tengah dominasi Lady Gaga yang ditengarai menjadi penerus
tahta Madonna, sang diva juga membuktikan diri bahwa ia masih mempunyai amunisi
untuk tampil stand-out tanpa
terdengar ikut-ikutan. Inilah keunikan sekaligus cerdasnya seorang Madonna.
Benny Benassi hadir untuk mengalirkan lagu-lagu dance yang memiliki hook yang
kuat dan trance-like, seperti pada track I’m
Addicted.
Sementara itu, Solveig memberi pendekatan yang lebih nge-pop
dan light yang dapat didengar di track Turn
Up The Radio atau I Don’t Give A yang
lagi-lagi menampilkan kekuatan rap Nicki Minaj yang khas.
Sedang peran serta Indiigo menghadirkan single Superstar yang antemik dengan aransemen
yang sangat sederhana dan minimalistik, namun tidak kehilangan unsur fun.
Tapi tetap saja juaranya adalah William Orbit. Tangan dingin
sang maestro hadir mendominasi MDNA di
enam buah lagu, yaitu separuh dari materi yang dimiliki oleh MDNA.
Single berjudul I’m A Sinner, bisa dibilang adalah salah
satu track terbaik di album ini. Kehadiran lagu ini menjadi penanda kembalinya
kejayaan kerjasama Madonna dan Orbit seperti layaknya di single Beautiful Stranger.
Disusul kemudian dengan Love
Spent yang menunjukkan kemampuan Madonna dan Orbit dalam mengkomposisi lagu
uang kompleks dan sophisticated, namun tidak kehilangan unsur fun dan juga
mudah dicerna.
Sementara dua track penutup
di keping pertama hadir dalam tempo yang lebih perlahan. Lagu Masterpiece adalah sebuah electro-ballad yang menjadi soundtrack untuk film debut Madonna
sebagai sutradara, W.E. Masterpiece memiliki komposisi vokal
Madonna yang mengalun lirih dengan prima. Kemudian pada lagu Falling Free lebih mengandalkan atmosfir
gloomy sehingga menangkap kesan
murung dengan sempurna.
Pada keping kedua, Solveig sangat mendominasi. Ada tiga lagu tambahan dari Solveig, seperti
Beautiful Killer yang mengadopsi tune klasik Madonna. Pada lagu B-Day Song yang ceria menghadirkan
kembali M.I.A. sebagai bintang tamu. Sementara itu, Bennassi hadir dalam Best Friend dengan chorus yang justru
sangat nge-pop. Ditutup dengan Give Me
All Your’ Lovin yang diremiks oleh duo LMFAO. Mau tidak mau membuat track
ini terdengar sangat LMFAO.
Secara keseluruhan MDNA
menandakan kembalinya Madonna, tidak hanya sebagai salah satu pemusik
terbaik di dunia. MDNA hadir dengan
energi yang sangat berlimpah. MDNA menandakan
kembalinya seorang Madonna pada musik yang berkelas, namun tidak terlupa untuk
bersenang-senang, baik dalam suka maupun duka. [berbagai sumber/SP/Elvira Anna
Siahaan]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
