Mosok Sih…Makan Coklat Terus Bisa Hindari Stroke
Jumat, 1 Juni 2012 | 10:02
makan coklat [google] [LONDON] Berita gembira buat para
penggemar coklat! Pasien berisiko tinggi yang terus-menerus mengonsumsi cemilan
berwarna gelap tersebut dikatakan bisa terlindung dari serangan jantung dan
stroke.
Satu studi ilmiah tampaknya bisa membuat "sumringah" hati para
"penggila" coklat dengan menyatakan bahwa makan coklat gelap setiap
hari selama 10 tahun dapat mengurangi ancaman kesehatan.
Satu tim peneliti dari Australia menggunakan model matematika guna meramalkan
dampak kesehatan jangka panjang dari konsumsi coklat hitam setiap hari pada
2.013 orang. Mereka diketahui memiliki kondisi sindrom metabolis, yang membuat
mereka menghadapi resiko tinggi sakit jantung.
Tim tersebut mendapati skenario kasus terbaik, tak ada pasien yang tak
mengonsumsi coklat setiap hari, dan teknik itu berpotensi mencegah 70 serangan
jantung atau stroke tak mematikan serta 15 yang mematikan per 10.000 orang
selama 10 tahun.
Model tersebut juga menunjukkan pelaksanaan "strategi pencegahan coklat
gelap" yang efektif mungkin cuma memerlukan biaya 40 dolar AS per orang
setiap tahun.
Para peneliti itu, yang pekerjaan mereka disiarkan di British Medical Journal
pada Jumat, menegaskan dampak perlindungan tersebut baru diperlihatkan oleh
coklat gelap yang berisi sedikitnya 60 sampai 70 persen cocoa --bukan untuk
coklat putih atau susu.
Namun para ahli yang tak terlibat dalam studi tersebut memberi peringatan.
"Saran buat konsumsi coklat gelap setiap hari ... tentu saja akan membuat
orang dengan sindrom metabolis jadi bergairah. Namun pada tahap ini, temuan ini
masih bersifat perkiraan dan bukan bukti, dan hasilnya memerlukan data dalam
kehidupan nyata untuk konfirmasi," kata Kenneth Ong dari Brooklyn Hospital
Center di Amerika Serikat.
"Saya menduga konsumsi coklat gelap setiap hari selama 10 tahun mungkin
memiliki konsekuensi yang tak diduga," ia menambahkan sebagaimana dikutip
Reuters, Jumat. "Asupan kalori dan gula tambahan mungkin berdampak negatif
bagi pasien di dalam studi ini, jika mereka bertubuh gemuk dan memiliki glukosa
yang tak bisa mentolerirnya." Semua peserta dalam studi itu, yang dipimpin
oleh Christopher Reid di Monash University di Melbourne, memiliki tekanan darah
tinggi dan sindrom metabolis. Namun mereka tak memiliki sejarah sakit jantung
atau diabets dan tidak dalam pengobatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi.[Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
