Married di Usia Muda, Sudah Siapkah Anda?
Selasa, 6 Desember 2011 | 15:12
Ilustrasi menikah di usia muda [google] [MISSOURI] Buat Anda yang masih berusia muda, dan tengah
dimabuk cinta. Pasti ada pikiran untuk mengukuhkan cinta itu ke jenjang
pernikahan. Tetapi kemudian Anda juga dihadapi statistik yang mengganggu.
Dimana hampir 50 persen pernikahan, berakhir ke perceraian.
Statistik ini semakin memburuk, karena data yang mutakhir
menyebutkan, sebanyak 60 persen pasangan muda yang menikah antara usia 20
hingga 25 berakhir di perceraian.
Waduh…!
Kita memang tahu tak mudah untuk menjalani dan
mempertahankan pernikahan. Tetapi mengapa jauh lebih berat kendala yang harus
dialami oleh pasangan usia muda?
Mungkin karena pasangan usia muda yang menikah memang
memiliki chemistry yang sama, tetapi mereka kerap kekurangan sejarah yang dapat
mempertahankan kesatuan mereka.
Mengapa demikian? Karena banyak pasangan menikah di usia
muda gagal karena mereka tak mampu menekan emosi-emosi kekanak-kanakan yang muncul,
serta pengalaman hidup bersama yang terbatas.
Tak hanya itu saja. Ternyata ilmu pengetahuan memainkan
perannya juga.
“Pada usia 20-an, seringkali kita tak memiliki perasaan yang
kuat mengenai siapa kita, dan sebagai individual,” ungkap Elaine
Spencer-Carver, professor di bidang kerja social dari Universitas Missouri,
Kansas, AS, baru-baru ini.
“Kaum muda kebanyakan hanya berpikir, pernikahan yang mereka
jalani akan sesuai dengan ekspektasi, dan pasangan hidup mereka akan mampu
mengisi harapan itu. Berbeda dengan pasangan menikah yang lebih dewasa. Mereka
tak terlalu berpikir pada ekspektasi, melainkan lebih realistis. Ini
dikarenakan mereka telah menjalani sejumlah hubungan sebelumnya. Mereka telah
mendapatkan fakta dalam hubungan tersebut, kalau tidak semua sesuai dengan
keinginan,” ungkap Peg Donley, ahli terapi pernikahan.
Selain itu, ternyata ada fakta kalau pasangan muda kerap
kehilangan waktu bersama yang seharusnya menjadi keunggulan buat mereka.
“Jika Anda berbicara dengan pasangan yang telah menjalani
pernikahan untuk waktu yang panjang, mereka kerap membicarakan mengenai kebahagiaan,
dan kesenangan saat mereka bersama-sama. Kesempatan untuk membangun memori
positif seperti ini yang sulit dibawa pasangan muda belia dalam menjalani waktu
sulit mereka,” tegas Spencer-Carver.
Ilmu pengetahuan juga terlibat dalam hal ini ketika Anda
masih muda dan dimabuk cinta. “Otak wanita akan terbangun secara penuh pada
saat usia mereka mencapai 25. Sedangkan otak pria terbangunnya lebih lama,
antara usia 25 hingga 30 tahun. Itulah mengapa saya menasihati anak saya,
supaya mereka tak menikah dahulu sebelum otak mereka terbangun secara penuh,”
ujar Donley.
“Banyak orang di bawah usia 25 cenderung berpikir kalau
perkawinan akan membawa mereka bahagia. Statistik mengindikasikan kalau
endorfin atau zat penekan rasa sakit yang dikeluarkan oleh otak yang dirangsang
bertahan pada pernikahan hanya di tiga tahun awal,” ungkap Donley.
Setelah itu, pasangan akan menyadari kalau ada masalah dari
hubungan romantis mereka.
“Mereka yang menikah di usia muda, cenderung berpikir tak
realistis hanya yakin pada harapan mereka saja”.
Jadi sudah siapkah Anda kini? Tanya diri Anda sendiri. [L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
