Mantap!..Goyang Disko di Saat Jam Makan Siang
Jumat, 9 Desember 2011 | 15:49
Ilustrasi [google] [STOCKHOLM] Eva
Bjoerkman melahap roti sandwich, sambil ngobrol dengan rekan kerjanya, dan
sesekali bergoyang mengikuti irama di Lunch Beat, sebuah gaya baru yang tengah
berkembang pesat di Swedia, yang menggabungkan kegiatan di saat istirahat kerja
sambil mendengar alunan lagi disko.
Mantap…!
“Ini sangat menyenangkan. Menjauhi komputer, dan menikmati
bergoyang di tengah hari,” ungkapnya.
Diantara ratusan pekerja usia muda bahkan ada yang sudah tua, wanita ini
meluncur ke arena dansa, bergabung dan bergoyang, sesekali melompat mengikuti
irama musik yang menghentak.
Wajah-wajah mereka juga terkena kerlap-kerlip
sorotan lampu disko.
Banyak yang datang untuk bersenang-senang. Ada juga yang
mengaku, ingin lepas dari aktivitas kerja dan rutinitas di kantor.
Apapun alasannya, the Lunch Beat menjadi fenomena yang
berkembang pesat di Swedia. Kegiatan ini awalnya dikembangkan oleh Molly Raenge
di awal 2010.
“Saya senang bekerja. Namun saya juga suka berdansa. Tetapi
bagaimana caranya keduanya digabungkan. Saya sempat frustrasi memikirkannya.
Namun kemudian saya berfikir bagaimana jika saya mengombinasikan keduanya”.
Raenge melanjutkan, ia memulainya dari sesuatu yang kecil.
Dimana pada Mei tahun lalu bersama 14 orang rekannya, mengubah sebuah garasi di
sebuah tempat di Stockholm untuk melakukan jegiatan the Lunch Beat.
Awalnya wanita ini berpikir untuk menjadikan kegiatannya
tertutup. Namun ternyata ia mendapat masukan positif, kalau idenya ini akan
dengan cepat berkembang dan diteruma masyarakat.
Sekarang sebuah tempat budaya di jantung kota Stockholm
menjadi pusat kegiatan the Lunch Beat.
Sebanyak 300 orang berduyun-duyun
memasuki ruangan yang diubang menjadi gelap, bagaikan kelab malam tersebut.
“Saya senang ide dari garasi, kini pindah ke gedung,” ungkap
Raenge.
Fenomena Lunch Beat kini melebar tak lagi di Swedia saja,
tetapi sudah di Beograd, dan akan dibuka di Bogota (Kolombia).
Menurut Raenge, siapapun bisa menggelar kegiatan Lunch Beat
ini, asalakan mereka mengikuti mnifesto yang termuat di situs the
lunchbeat.org. Siapapun yang ikut harus senang berdansa, dan kegiatan ini tak mencari untung, yang hanya berlangsung satu jam saat istirahat jam makan siang.
Selain itu mereka juga harus menyediakan makanan untuk makan siang.
Kegiatan Lunch Beat di rumah budaya Stockholm, orang yang
masuk harus terlebih dahulu membayar tiket sebesar 100-kronor atau sekitar Rp
130.000.
Kemudian mereka mendapatkan keranjang berisi makanan, atau buah-buahan
dengan minuman gelas plastik dengan gratis.
Awalnya sempat juga salad disajikan. Namun kemudian ada
banyak sayuran tumpah di lantai dansa, sehingga makanan tersebut diganti dengan
roti sandwich. [L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
