Kurang Bergerak Bisa Memicu Serangan Jantung
Jumat, 30 Maret 2012 | 13:51
Ilustrasi serangan jantung [google] [DENPASAR] Ketua Umum Ikatan Keseminatan Kardioserebrovaskular Indonesia
(IKKI) Prof dr Lukman Hakim Makmun mengatakan, pola hidup masyarakat yang
kurang banyak bergerak menjadi salah satu pemicu mudahnya terkena serangan
jantung.
"Karena kecanggihan teknologi, semakin jarang masyarakat yang rutin mau
berjalan kaki dan bersepeda, padahal itu sangat baik bagi kesehatan jantung,"
katanya, di Denpasar, Jumat (30/3)
Ia menyampaikan itu di sela-sela kegiatan simposium internasional mengenai
aterosklerosis yang dirangkaikan dengan simposium IKKI ke-11 mengenai penyakit
kardiovaskular.
Sedangkan IKKI merupakan organisasi yang yang bergerak di bidang penanganan
penyakit jantung, otak, dan pembuluh darah (kardioserebrovaskular).
"Kami sengaja mengangkat tema aterosklerosis dalam simposium ini karena
merupakan penyebab timbulnya penyakit seperti serangan jantung dan stroke.
Aterosklerosis sendiri merupakan proses penumpukan plak kolesterol yang
diendapkan pada dinding pembuluh darah arteri sehingga arteri (pembuluh nadi)
menjadi menyempit dan tidak dapat mengantarkan darah yang cukup untuk
mempertahankan fungsi normal organ tubuh," katanya.
Sampai terjadinya proses penyempitan pembuluh darah ini, sangat berkaitan
karena pola makan dan pola hidup yang dilakukan masyarakat saat ini.
"Kecenderungan saat ini di dunia dan juga di Indonesia, penderita serangan
jantung menjadi lebih muda yakni usia 40 tahun. Padahal dalam periode terdahulu
usia penderita penyakit serangan jantung di atas setengah abad," ucapnya.
Ia menambahkan, pola hidup masyarakat kini semakin sedikit yang mau
menggerakkan badannya sehingga potensi risiko serangan jantung pun semakin
besar. Di samping faktor makanan berkolesterol dan pola hidup yang gemar
merokok.
"Menggerakkan badan bukan berarti berolahraga berlebihan. Olahraga jangan
berlebih, maksimal 30 menit. Olahraga yang baik agar mencapai nadi tertentu
sesuai aturan kesehatan yang disesuaikan dengan usia. Minimum olahraga
dilakukan tiga kali dalam seminggu," ucap Lukman Hakim.
Ia mengatakan, jangan sampai masyarakat ikutan-ikutan berolahraga dan
menyesuaikan dengan orang sehat, justru itu akan menimbulkan sesak napas.
"Dalam keseharian, menggerakkan badan, paling tidak dilakukan naik gedung
dengan menaiki tangga bukan naik lift," ujarnya.
Lukman juga menyampaikan, pola makan pun harus diperhatikan agar seimbang dan
jangan sampai berlebihan kolesterol. Makin tua, hendaknya memperbanyak makan
sayuran untuk menghindari risiko terkena serangan jantung. [Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
