SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 20 Juni 2013
Pencarian Arsip

Kendalikan Kolesterol dan Hindari Serangan Jantung
Selasa, 10 Juli 2012 | 14:43

Ilustrasi serangan jantung [google] Ilustrasi serangan jantung [google]

[JAKARTA] Serangan jantung kini tidak lagi memonopoli usia tua. Orang muda bahkan lebih cenderung menderita serangan mematikan ini. Di Rumah Sakit Jantung Binawaluya, jumlah penderita jantung cenderung meningkat. Dari 10 pasien jantung yang masuk ke rumah sakit ini, 7-8 di antaranya berusia 40 tahunan. Bahkan juga  menerima pasien jantung usia remaja.    Sadisnya, karena tidak menunjukkan gejala awal, sebagian dari penderita tidak terselamatkan jiwanya ketika datang di rumah sakit.
 
Kardiologis RS Jantung Binawaluya Agus Riawan, mengatakan, serangan jantung disebabkan oleh banyak faktor, yakni di antaranya diabetes, obesitas, merokok, darah tinggi dan kolesterol. Akan tetapi paling banyak pasien jantung yang datang berobat,hampir 80-nya dipicu tingginya kolesterol.   Kolesterol yang tidak terkontrol merupakan tabungan yang jelek, karena secara akumulatif menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan akhirnya serangan jantung. 

Selain jantung, kelebihan kolesterol dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai penyakit mematikan seperti stroke. Bahkan kadar kolesterol yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian mendadak. Sayangnya, sebagian besar orang  tidak menyadari jika kadar kolesterolnya tinggi, karena tidak memiliki gejala tertentu.
 
Kolesterol ternyata kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak terkontrol, yakni kurang beraktifitas fisik, makanan tinggi lemak, tinggi garam, karbohidrat dan merokok.

"Kolesterol adalah sesuatu yang tanpa gejala tanpa sinyal, mendadak saja orang kena serangan jantung. Orang dengan kolesterol biasa tidak akan sadar,tanpa keluhan,sehingga tanpa pemeriksaan dini akibatnya fatal," kata Agus di sela kegiatan cek kolesterol gratis, yang diadakan RS Jantung Binawaluya dan PT Pfizer Indonesia di Jakarta,belum lama ini.   Cek kolesterol dan konsultasi gratis ini merupakan salah satu komitmen RS Jantung Binawaluya untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan tubuh dan jantung. 

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi penyakit stroke di Indonesia sebesar 0,8 persen, yang dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan.  Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari betul bahaya dari makanan-makanan lezat yang mereka gemari. Yang lezat belum tentu sehat.

Agus mengimbau masyarakat untuk waspada kolesterol. Sebab bentuk fisik luar tidak menandakan adanya kolesterol tinggi atau tidak. Belum tentu semua orang yang gemuk itu kolesterol tinggi dan sebaliknya tidak semua kurus itu tanpa kolesterol.    Memiliki anak yang gemuk, jangan buru-buru berpikir dia sehat. Bisa jadi kegemukan pada anak-anak ini juga faktor resiko kolesterol. Hal ini mengingat proses arteoklorosis atau penyempitan pembuluh darah  sudah dibawa sejak lahir, hanya saja tergantung faktor apa yang memicunya sampai menjadi tinggi.

Proses  arteoklerosis atau pengerasan pembuluh darah sebenarnya sudah ada sejak dilahirkan, tergantung pemicunya mempercepat perkembangannya atau tidak.

Cek kolesterol secara rutin dapat mengantisipasi kadar kolesterol berlebih. Kalaupun setelah dicek dan hasilnya tinggi, masih bisa diupayakan cara pengobatan dan terapi untuk menurunkan kadar kolesterol.

Pemeriksaan  kolesterol pun harus lengkap yang meliputi tiga jenis. Tidak cukup seseorang merasa senang ketika mengetahui kolesterol totalnya di angka 200 mg/dl.  Kolesterol seseorang tidak boleh tinggi dari angka tersebut,  dengan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat di bawah angka 180  dan High Density Lipoprotein(HDL) atau kolesterol baik di atas angka 40

Kolesterol jahat harus rendah dan kolesterol baik yang tinggi,  agar terhindar dari penyakit jantung.  Harus dipastikan LDL-nya rendah, sebab cikal bakal terjadinya penyempitan pembuluh darah adalah jenis kolesterol itu.  Dari 15% orang yang total kolesterol  bagus, hanya 2-3 orang yang LDL dan LDL-nya bagus.

Cek kolesterol dilakukan untuk mencegah penyempitan yang tidak disadari dan diketahui penderitanya.  Setelah diskrining dan melihat hasilnya, pengendaliannya akan jauh lebih cepat.

Sekitar 80% kolesterol dibentuk oleh diri sendiri, dan sisanya 20% sisanya karena faktor eksternal. Artinya 80% itu karena produksi yang berlebihan sedangkan pembongkarannya kurang atau produksinya berlebihan tapi pebongkarannya biasa, sehingga keluarannya tetap tinggi.  Pada pasien-pasien seperti ini, yang karena kolesterolnya dibentuk diri sendiri, disarankan untuk mengonsumsi obat.   Sedangkan kolesterol yang karena faktor eksternal disarankan untuk mengubah gaya hidup. Setelah beberapa waktu kemudian dievaluasi, baru diberikan obat jika kolesterolnya belum juga turun.  Fungsi obat adalah untuk mencegah  atau membongkar terbentuknya kolesterol.[D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN