Jamur Bermanfaat untuk Obat dan Kesehatan
Selasa, 20 Desember 2011 | 16:48
Jamur tiram diolah menjadi keripik, penyedap rasa dan minuman [SP/Ari Supriyanti Rikin] [JAKARTA]
Banyak masyarakat yang belum mengetahui kehebatan jamur khususnya jamur pangan
karena dianggap sebagai sayuran biasa. Padahal selain memiliki nilai gizi dan
lezat karena adanya kandungan asam glutamat, jamur juga dapat meningkatkan daya
tahan tubuh dan menyembuhkan penyakit.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2001 dengan
terbentuknya tim jamur pangan BPPT sudah fokus dalam penelitian jamur pangan
yang bisa mensubtitusi daging juga dijadikan obat. Tim berharap berbagai
penelitian dan berbagai produk jamur olahan menjadi nuget, bakso, keripik jamur
dan minuman (B-lemon) bisa meningkatkan daya saing jamur di Indonesia dan
pendapatan petani jamur pun meningkat.
Kepala Bidang Teknologi Produksi Agrokimia BPPT Agus Masduki menjelaskan hingga
saat ini banyak jenis jamur konsumsi yang mulai dibudidayakan seperti jamur
merang, tiram, kuping, kancing dan shiitake. Sebab jamur mengandung
immunomodulator, polisakarida (dalam bentuk beta-glukan) dan ikatan protein
tertentu yang terbukti berkhasiat sebagai anti kolesterol, anti hipertensi,
anti kanker, anti virus, anti diabetes, meningkatkan stamina dan kebugaran
tubuh.
"Jamur bisa menjadi pangan alternatif pengganti daging. Rasanya yang lezat
karena kandungan asam glutamat yang bisa dijadikan bahan penyedap rasa non
MSG," katanya dalam bincang iptek bertema Inovasi Teknologi untuk
Meningkatkan Nilai Tambah Jamur Pangan (Edible Mushroom), di Jakarta, Selasa
(20/12).
Menurutnya berbagai penderita penyakit degeneratif di Indonesia seperti jantung
koroner, kelainan pembuluh darah, kanker dan diabetes seharusnya dapat
mengkonsumsi jamur yang bermanfaat bagi kesehatan penderita penyakit tersebut.
World Health Organization memprediksi tiga tahun ke depan di dunia terdapat 300
juta penderita diabetes. Sementara itu penderita diabetes di Indonesia tahun
2000 mencapai 5,6 juta jiwa dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 8,2 juta jiwa.
Bahkan lanjutnya hasil penelitian di Jepang pada jamur shitake (Lentinus
edodes) menyebut kandungan beta-glukan dalam jamur itu dapat menghambat virus
HIV-Aids. Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT Witono Basuki mengatakan
pemerintah Malaysia sangat mendorong budidaya jamur dan memberi pinjaman
cuma-cuma kepada para wirausahawan muda.
"Indonesia pun harus mendorong ke arah itu. Sebab sejak dahulu nenek
moyang kita sudah mengkonsumsi jamur karena efeknya baik untuk kesehatan,"
ujarnya.
Budidaya jamur tiram sangat potensial selain digunakan untuk makanan juga
obat-obatan. Jarum ini jelasnya harus dibudidaya di ketinggian 600 meter di
atas permukaan laut dan bersuhu 16-18 derajat celcius. Sedangkan jamur merang
bisa dibudidaya di dataran rendah.
Penanaman jamur menggunakan media baglog yang di dalamnya berisi serbuk gergaji
kayu, kapur yang dihaluskan dan pupuk. Bibit jamur diletakan di dalam baglog
untuk selanjutnya bisa dipanen 2 minggu-1 bulan. [R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
