Hampir 60% Masyarakat Indonesia Gunakan Herbal
Kamis, 12 Juli 2012 | 12:32
Ilustrasi herbal [google]
[JAKARTA] Filosofi
hidup sehat dengan cara kembali ke alam (back to nature) sepertinya mulai meluas
pada masyarakat di Tanah Air. Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat saat ini
sudah hampir 60%(59,1%) masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan herbal
sebagai terapi kesehatan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer Kemkes
Abidinsyah Siregar, mengatakan, herbal yang paling banyak dipakai di antaranya
adalah kencur,jahe, temu lawak, kunyit dan lainnya.
Daerah yang paling
banyak menggunakan herbal adalah Kalimantan Tengah, sedangkan terendah adalah Sulawesi Utara. Sebanyak 59% orang
yang menggunakan jamu, hampir 100% mengaku sangat bermanfaat bagi kesehatan
mereka.
Ada sekitar 26 masalah kesehatan yang bisa menggunakan herbal, antara lain diabetes,demam, hipertensi, obesitas, insomnia,arthritis,infeksi
saluran pernapasan akut,kanker, dan disfungsi ereksi.
Upaya yang dilakukan pemerintah saat ini telah mengarahkan obat tradisional
pada bidang pelayanan kesehatan formal, di mana sebanyak 40 rumah sakit di
Indonesia telah mendapatkan ijin untuk itu.
Kemkes menargetkan 70 rumah sakit pemerintah sudah harus menggunakan herbal
dalam terapi bagi pasien, dan 50% pengobatan di semua rumah sakit di Indonesia
menggunakan herbal.
"Kalau sekarang baru 40 rumah sakit pemerintah, tetapi kan swasta juga menggunakannya,
berarti mungkin sudah lebih dari 100," kata Abidin di sela-sela acara
media briefing bertemakan Hidup Sehat dengan Herbal, yang diselenggarakan PT
Deltomed Laboratories di Jakarta,Kamis (12/7) siang ini.
Lebih lanjut Abidin mengatakan, sebagai negara tropis Indonesia memiliki
keanekaragaman hayati terbesar ke dua di dunia setelah Brazil.
Indonesia memiliki sekitar 25.000-30.000 spesies tanaman yang merupakan 80%
dari jenis tanaman di dunia dan 90% dari jenis tanaman di Asia. Sebanyak 940
spesies di antaranya berpotensi untuk dikembangkan menjadi tanaman obat. Namun
spesies tanaman yang telah terdaftar di BPOM dan digunakan oleh industri obat
tradisional saat ini baru mencapai 283.
Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terkaya di dunia dalam
cadangan plasma nuftah obat.
"Ironisnya bahan baku obat impor kita masih di atas 90%, padahal Indonesia
punya potensi besar baik herbal maupun biota laut. Sayangnya masih non
konvensional karena belum disepakati satu standar, di mana setiap budaya dan
daerah berbeda cara penanganan penyakit," katanya lagi.
Dalam dekade ini, di tengah banyaknya jenis obat modern di pasaran dan munculnya
berbagai jenis obat modern baru, terdapat kecenderungan global untuk kembali ke
alam. Faktor yang mendorong masyarakat untuk mendayagunakan obat bahan alami
antara lain mahalnya harga obat modern atau sintetis dan banyaknya efek
samping.
Abidin menambahkan, UU 36/2009 telah mengamanatkan semua pelayanan kesehatan
baik pemerintah maupun swasta harus menerapkan pelayanan tradisional. Karena
itu kepada swasta diimbau tidak perlu ragu untuk mengembangkan herbal menjadi
produk untuk pelayanan kesehatan.
PT Deltomed, salah satu produsen penghasil obat tradisional bermutu tinggi
terdepan yang telah berkarya selama 35 tahun di Indonesia. Semua produk
Deltomed terbuat dari 100% bahan herbal. Salah satunya adalah Antangin, yakni
ramuan herbal yang berfungsi mengatasi gejala masuk angin. Diolah menggunakan
fasilitas Quadra Extraction System, yaitu sebuah mesin berteknologi Jerman yang
mampu menghasilkan ekstrak bahan alami dengan kualitas terbaik.
"Antangin telah teruji secara klinis membantu meningkatkan system kekebalan
tubuh, serta menjaga stamina. Ini berdasarkan hasil penelitian Departemen Farmakologi,Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta," kata Presiden Direktur PT Deltomed Laboratories Nyoto Wardoyo. [D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
