Cegah Cedera Olahraga pada Lutut dan Panggul
Senin, 16 Januari 2012 | 10:43
Olahraga futsal [google] [JAKARTA] Olahraga kini makin digemari dan telah
menjadi gaya hidup bagi sebagian orang, namun kebanyakan dari mereka tidak
sadar bahwa aktivitas tersebut bisa menyebabkan cedera. Futsal adalah
salah satu jenis olahraga yang dilaporkan paling banyak mengalami cedera pada
lutut maupun panggul karena penderitanya tidak tahu bagaimana cara mencegahnya.
Ahli bedah tulang dan panggul, dr Andre Pontoh,
mengatakan, cedera karena olah raga biasanya terjadi karena
penderitanya tidak melakukan pemanasan atau melatih otot dengan baik sebelum
berolahraga. Karena setiap kaki memiliki bentuk yang berbeda, maka sebaiknya
sebelum berolahraga konsultasikan dulu gerakan yang tepat kepada ahlinya.
Cedera karena olah raga tidak sampai membuat lumpuh,
tetapi sangat menganggu aktivitas sehari-hari, sehingga membuat produktivitas
penderitanya menurun .
Parahnya sebagian besar dari penderita datang berobat ke
spesialis sudah pada stadium lanjut, karena rasa sakit yang diabaikan atau
ketidaktahuan mereka menggunakan obat urut sendiri maupun dukun.
“Kebanyakan dari penderita ketika datang ke spesialis
sudah terjadi komplikasi, seperti putus urat atau ligamen, kerusakan bantalan
sendi atau meniskus dan gangguan tulang rawan. Ini masalah berat yang
seharusnya mendapatkan penanganan khusus dari ahlinya, misalnya bisa dengan
cara penggantian sendi,” kata dr Andre pada acara pertemuan tahunan ke-2 The
Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) atau Asosiasi Ahli Bedah Lutut dan
Panggul Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Ia mengatakan, komplikasi bisa terjadi karena
kekurangtahuan penderita tentang pertolongan pertama pada awal cedera. Ada yang
mengabaikan rasa sakit selama berhari-hari, dan bahkan ada yang kembali
berolahraga ketika sakitnya berkurang, padahal hilangnya rasa sakit bukan
berarti tidak cedera.
Adapula yang hanya menggunakan obat urut atau konsumsi
obat penghilang rasa sakit, kemudian merasa sudah membaik.
Menggunakan obat urut, mengkonsumsi obat penghilang
rasa sakit dan memilih terapi alternatif tidak dilarang, tetapi ada baiknya
disertai dengan diagnosa yang benar.
Apabila sudah cedera, asal terapi
tanpa mengetahui jenis gangguannya sangat tidak dianjurkan dr Andre.
Menurutnya, sebaiknya perlu didiagnosa terlebih dahulu untuk mengetahui jenis
gangguan guna menetapkan jenis terapi yang tepat.
“Jangan sampai tidak mengetahui jenis gangguannya
tetapi langsung melakukan terapi. Jangan jadi dokter sendiri, karena terapi
hanya benar kalau diagnosis juga benar. Sedangkan konsumsi obat obatan
penghilang rasa nyeri juga boleh saja, tetapi kalau tambah jelek kondisinya
segera bawa ke dokter ortopedik yang memang khusus menangani masalah itu,” kata
dokter yang berpraktek di RSPU Fatmawati dan RS Pondok Indah ini menambahkan.
Upaya sederhana yang bisa dilakukan ketika mengalami cedera
sendi saat olahraga, di antaranya adalah dengan mengompres bagian yang
sakit atau cedera, dibebat agar tidak bengkak, istirahat yang cukup. Jangan
kembali berolahraga dalam waktu dekat setelah merasa enak, karena itu
akan menyebabkan kondisi makin parah tanpa disadari.
Saat tidur usahakan kaki
berada pada posisi lebih tinggi dari badan, untuk mencegah bengkak dan rasa
sakit yang semakin bertambah ketika bangun tidur. Untuk mencegah
komplikasi, sebaiknya merujuk ke dokter ahli apabila dalam beberapa hari
kondisi tidak membaik.
Penderita diabetes sangat rentan terhadap masalah
sendi, karena itu dianjurkan menghindari olah raga yang high impact
seperti futsal. Olah raga yang low impact, seperti bersepeda dan
renang sangat dianjurkan bagi penderita diabetes.
Selain karena olah raga dan kecelakaan, masalah lutut
dan panggul di Indonesia juga terjadi karena faktor degeneratif atau usia yang
erat kaitannya juga dengan osteoporosis maupun perkapuran tulang. Agar tidak
salah pemahaman, osteoporosis dan perkapuran adalah dua masalah yang berbeda.
Osteoporosis adalah proses pengeroposan tulang karena faktor hormon,
karenanya kondisi ini umumnya terjadi pada usia 50 tahun ke atas.
Osteoporosis tidak menyebabkan rasa sakit, dan hanya
bisa dioperasi jika sampai terjadi patah tulang. Maka, mencegah osteoporosis
dengan cara konsumsi susu untuk meningkatkan kalsium di dalam tulang
sebenarnya sudah harus dimulai sejak usia balita hingga dewasa. Konsumsi susu
untuk menambah kalsium di usia kakek nenek sebetulnya tidak efektif lagi.
Sedangkan perkapuran adalah kelainan pada sendi, yang
selalu ditandai dengan rasa sakit.
Inilah yang paling membedakan antara
osteoporis dan perkapuran. Perkapuran bahkan sudah dialami sejak usia 20 tahun,
dan akan semakin parah jika aktivitas kaki lebih berat, seperti push up yang
berlebihan atau menggunakan high heels terus menerus.
Walaupun operasi dilakukan untuk mengoptimalkan
pasien perkapuran berat, sebetulnya operasi bukanlah satu-satunya cara untuk
sembuh. Tanpa operasi pasien bisa hidup dalam jangka lama hanya dengan mengubah
pola hidup. Bagi yang sudah berumur, minimalkan aktivitas jalan-jalan ke mal
tanpa kursi roda.
“Jika kambuhnya sudah tidak merata, tidak bisa jalan,
maka di sinilah memerlukan pergantian sendi lutut atau panggul,” katanya.
Sementara itu, Ketua IHKS, dr Nicolaas Budhiparama,
mengatakan, IHKS merupakan tempat berkumpulnya para ahli lutut dan panggul,
dengan misi antara lain , memberikan pendidikan, riset dan praktek bagin para
ahli bedah ortopedik dengan kekhususan di bidang panggul maupun lutut.
Disamping itu, memperbaiki para ahli ortopedik Indonesia untuk menjadi satu
asosiasi yan berkontribusi pada skala nasional maupun internasional.
Salah satunya dengan menggelar pertemuan tahunan ini,
yang dihadiri oleh 430 peserta terdiri dari spesialis ortopedik dan residen,
serta para pembicara dari dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, soal panggul dan lutut Indonesia paling
tertinggal dari negara lain. Banyak pasien Indonesia lebih memilih berobat ke
luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia, padahal dari segi sumber daya
manusia dan kecanggihan teknologi kesehatan dalam negeri tidak kalah dengan
negara lain.
Ini dikarenakan masyarakat Indonesia sendiri tidak
mengenal produk dalam negeri karena kebijakan pemerintah sejauh ini belum
berpihak masalah ini, di antaranya melarang promosi di bidang kesehatan,
sementara barang luar negeri dibiarkan promosi besar-besaran melalui media
massa di Tanah Air. [D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
