SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 26 Juli 2014
Pencarian Arsip

Cegah Cedera Olahraga pada Lutut dan Panggul
Senin, 16 Januari 2012 | 10:43

Olahraga futsal [google] Olahraga futsal [google]

[JAKARTA] Olahraga kini makin digemari dan telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang, namun kebanyakan dari mereka tidak sadar bahwa aktivitas tersebut bisa menyebabkan cedera.  Futsal adalah salah satu jenis olahraga yang dilaporkan paling banyak mengalami cedera pada lutut maupun panggul karena penderitanya tidak tahu bagaimana cara mencegahnya.

Ahli bedah tulang dan panggul,  dr Andre Pontoh, mengatakan, cedera karena  olah raga  biasanya terjadi karena penderitanya tidak melakukan pemanasan atau melatih otot dengan baik sebelum berolahraga. Karena setiap kaki memiliki bentuk yang berbeda, maka sebaiknya sebelum berolahraga konsultasikan dulu gerakan yang tepat kepada ahlinya. Cedera karena olah raga tidak sampai membuat lumpuh, tetapi sangat menganggu aktivitas sehari-hari, sehingga membuat produktivitas penderitanya menurun .

Parahnya sebagian besar dari penderita datang berobat ke spesialis sudah pada stadium lanjut, karena rasa sakit yang diabaikan atau ketidaktahuan mereka menggunakan obat urut sendiri maupun dukun. “Kebanyakan dari penderita ketika datang ke spesialis sudah terjadi komplikasi, seperti putus urat atau ligamen, kerusakan bantalan sendi atau meniskus dan gangguan tulang rawan. Ini masalah berat  yang seharusnya mendapatkan penanganan khusus dari ahlinya, misalnya bisa dengan cara penggantian sendi,” kata dr Andre pada acara pertemuan tahunan ke-2 The Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) atau Asosiasi Ahli Bedah Lutut dan Panggul Indonesia di Jakarta, belum lama ini.

Ia mengatakan, komplikasi bisa terjadi karena kekurangtahuan penderita tentang pertolongan pertama pada awal cedera. Ada yang mengabaikan rasa sakit selama berhari-hari, dan bahkan ada yang kembali berolahraga ketika sakitnya berkurang, padahal hilangnya rasa sakit bukan berarti tidak cedera.

Adapula yang hanya menggunakan obat urut atau konsumsi obat penghilang rasa sakit, kemudian merasa sudah membaik. Menggunakan obat urut, mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit dan memilih terapi alternatif tidak dilarang, tetapi ada baiknya disertai dengan diagnosa yang benar. 

Apabila sudah cedera, asal terapi tanpa mengetahui jenis gangguannya sangat tidak dianjurkan dr Andre. Menurutnya, sebaiknya perlu didiagnosa terlebih dahulu untuk mengetahui jenis gangguan guna menetapkan jenis terapi yang tepat.

“Jangan sampai tidak mengetahui jenis gangguannya tetapi langsung melakukan terapi. Jangan jadi dokter sendiri, karena terapi hanya benar kalau diagnosis juga benar.  Sedangkan konsumsi obat obatan penghilang rasa nyeri juga boleh saja, tetapi kalau tambah jelek kondisinya segera bawa ke dokter ortopedik yang memang khusus menangani masalah itu,” kata dokter yang berpraktek di RSPU Fatmawati dan RS Pondok Indah ini menambahkan.

Upaya sederhana yang bisa dilakukan ketika mengalami cedera sendi saat olahraga, di antaranya  adalah dengan mengompres bagian yang sakit atau cedera, dibebat agar tidak bengkak, istirahat yang cukup. Jangan kembali berolahraga dalam waktu dekat setelah merasa enak,  karena itu akan menyebabkan kondisi makin parah tanpa disadari.

Saat tidur usahakan kaki berada pada posisi lebih tinggi dari badan, untuk mencegah bengkak dan rasa sakit yang semakin bertambah ketika bangun tidur.  Untuk mencegah komplikasi, sebaiknya merujuk ke dokter ahli apabila dalam beberapa hari kondisi tidak membaik. Penderita diabetes sangat rentan terhadap masalah sendi, karena itu dianjurkan menghindari olah raga yang high impact seperti futsal.  Olah raga yang low impact, seperti bersepeda dan renang sangat dianjurkan bagi penderita diabetes.  

Selain karena olah raga dan kecelakaan, masalah lutut dan panggul di Indonesia juga terjadi karena faktor degeneratif atau usia yang erat kaitannya juga dengan osteoporosis maupun perkapuran tulang. Agar tidak salah pemahaman, osteoporosis dan perkapuran adalah dua masalah yang berbeda. Osteoporosis adalah proses pengeroposan tulang karena  faktor hormon, karenanya kondisi ini umumnya terjadi pada usia 50 tahun ke atas. 

Osteoporosis tidak menyebabkan rasa sakit, dan hanya bisa dioperasi jika sampai terjadi patah tulang. Maka, mencegah osteoporosis  dengan cara konsumsi susu untuk meningkatkan kalsium di dalam tulang sebenarnya sudah harus dimulai sejak usia balita hingga dewasa. Konsumsi susu untuk menambah kalsium di usia kakek nenek sebetulnya tidak efektif lagi. Sedangkan perkapuran adalah kelainan pada sendi, yang selalu ditandai dengan rasa sakit.

Inilah yang paling membedakan antara osteoporis dan perkapuran. Perkapuran bahkan sudah dialami sejak usia 20 tahun, dan akan semakin parah jika aktivitas kaki lebih berat, seperti push up yang berlebihan atau menggunakan high heels terus menerus. Walaupun operasi dilakukan untuk mengoptimalkan pasien perkapuran berat, sebetulnya operasi bukanlah satu-satunya cara untuk sembuh. Tanpa operasi pasien bisa hidup dalam jangka lama hanya dengan mengubah pola hidup. Bagi yang sudah berumur, minimalkan aktivitas jalan-jalan ke mal tanpa kursi roda.

“Jika kambuhnya sudah tidak merata, tidak bisa jalan, maka di sinilah memerlukan pergantian sendi lutut atau panggul,” katanya.

Sementara itu, Ketua IHKS, dr Nicolaas Budhiparama, mengatakan, IHKS merupakan tempat berkumpulnya para ahli lutut dan panggul, dengan misi antara lain , memberikan pendidikan, riset dan praktek bagin para ahli bedah ortopedik dengan kekhususan di bidang panggul maupun lutut. 

Disamping itu, memperbaiki para ahli ortopedik Indonesia untuk menjadi satu asosiasi yan berkontribusi pada skala nasional maupun internasional. Salah satunya dengan menggelar pertemuan tahunan ini, yang dihadiri oleh 430 peserta terdiri dari spesialis ortopedik dan residen, serta para pembicara dari dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, soal panggul dan lutut Indonesia paling tertinggal dari negara lain. Banyak pasien Indonesia lebih memilih berobat ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia, padahal dari segi sumber daya manusia dan kecanggihan teknologi kesehatan dalam negeri tidak kalah dengan negara lain. Ini dikarenakan masyarakat Indonesia sendiri tidak mengenal produk dalam negeri karena kebijakan pemerintah sejauh ini belum berpihak masalah ini, di antaranya melarang promosi di bidang kesehatan, sementara barang luar negeri dibiarkan promosi besar-besaran melalui media massa di Tanah Air. [D-13]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»