2,5 Juta Orang di Dunia Meninggal karena Minum Alkohol Berlebih
Sabtu, 14 Januari 2012 | 9:04
Ilustrasi minum alkohol [google] [JAKARTA]
Penggunaan alkohol ditengah masyarakat ternyata lebih banyak keburukan daripada
kebaikannya. Menurut catatan World Health Organization (WHO) pada tahun 2011,
tercatat 2,5 juta penduduk dunia meninggal akibat alkohol dan 9 % kematian
tersebut terjadi pada orang muda (15-29 tahun).
Dokter
Spesialis Penyakit Dalam Ari Fahrial Syam, menuturkan minuman beralkohol yang
ada ditengah masyarakat mengandung kadar alkohol yang bervariasi. Bir umumnya
mengandung alkohol 3,5%-5 %, wine mengandung alkohol 10%-14%, fortified wine
mengandung alkohol 14-20 % sedang whisky, vodka mengandung 40 % alkohol.
”Dampak buruk
dari penggunaan alkohol akan mengenai berbagai organ didalam tubuh. Mulai dari
otak, saluran pencernaan mulai dari mulut sampai ke usus besar, organ-organ
dalam tubuh khususnya liver, pankreas, otot, tulang dan sistim genetalia baik
laki-laki maupun perempuan,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (14/1) pagi.
Alkohol
dikelompokan sebagai bahan yang menyebabkan sedasi dan hypnosis yang membuat
seseorang menjadi tenang dan “tertidur”. Penggunaan alkohol dalam waktu singkat
dan berlebihan akan menyebabkan terjadinya keracunan alkohol (intoksikasi
alkohol) dan dapat mennyebabkan kematian.
Akibat
penggunaan alkohol dalam waktu singkat dan berlebihan akan menyebabkan
seseorang menjadi “mabuk”. Intoksikasi terjadi jika jumlah alkohol yang
dikonsumsi diatas ambang toleransi orang tersebut sehingga menyebabkan
terjadinya gangguan baik fisik maupun mental, sesorang yang dalam keadaan mabuk
tidak sadar akan apa yang sedang dilakukan, disorientasi, bingung dan lupa.
Dalam keadaan
mabuk seseorang bisa saja melakukan aktifitas antisosial termasuk juga
melakukan tingkah laku seksual yang tidak aman. Tentunya sangat berbahaya jika
mengendarai kendaraan bermotor atau menghidupkan mesin.
Alkohol dapat
menyebabkan adiksi atau ketagihan dan toleransi penggunaan makin hari makin
banyak.
Walaupun seseorang sudah toleransi untuk volume tertentu tetapi efek
samping kronisnya tetap terjadi. Pasien dengan penggunaan alkohol jangka
panjang akan menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaannya khususnya
pada lambung. Pasien yang menggunakan alkohol kronis akan dengan mudah
ditemukan kelainan pada lambungnya.
”Saya beberapa
kali mendeteksi pasien yang secara endoskopi diketahui ada peradangan kronis
pada lambung dan mengakui sebagai pengguna alhohol rutin pada saat
konfirmasi setelah pemeriksaan endoskopi. Alkohol akan menyebabakan peradangan
kronis pada saluran pencernaan, membentuk erosi sampai tukak usus dan
selanjutnya akan menyebabkan perubahan struktur dalam usus sampai berubah
menjadi sel ganas (kanker),” ungkap dia.
Liver
peminum alkohol juga akan mengalami peradangan kronis yang akan berlanjut
dengan penciutan hati (sirosis hati) tentu dengan komplikasi lanjutan yang
bermacam-macam antara lain pembengkakan pada perut dan terjadi perdarahan pada
saluran cernanya. Alkohol juga dihubungkan dengan dengan berbagai kanker antara lain kanker
usus besar.
Pasien peminum alkohol kronis akan mengalami tulang kropos
(osteoporosis), mengalami impotensi dan infertilitas. Pada wanita alkohol juga
menjadi salah faktor resiko terjadi kanker payudara.
Informasi
mengenai penggunaan alkohol dosis kecil sedikit yang rutin membawa dampak baik
untuk kesehatan ternyata juga masih kontroversi.
Disisi lain penggunaan rutin
walaupun sedikit tetap akan membawa efek samping yang akan timbul dimasa depan.
Belum lagi
toleransi dari penggunaan sedikit makin lama makin tinggi.
Minum alkohol
juga tidak boleh dibarengi dengan minum obat tertentu yang mempunyai efek
samping mengantuk seperti antihistamin atau antialergi berupa kombinasi obat
batuk-pilek. Karena efek penenang dari alkohol akan bertambah berat jika
dikombinasi dengan antihistamin.
”Akhirnya
ternyata pengunaan alkohol lebih banyak dampak buruknya dari pada manfaatnya,
sehingga upaya untuk melarang penggunaan alkohol di tengah masyarakat luas
memang harus dilakukan tentunya melalui berbagai peraturan,” tutup dokter Ari.
[PR/H-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
