SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 Mei 2012
Pencarian Arsip

Tiga Perusahaan Sekuritas Korsel Ingin Masuk RI
Selasa, 21 Februari 2012 | 11:09

Ilustrasi usaha sekuritas [google] Ilustrasi usaha sekuritas [google]

[JAKARTA] Fundamental ekonomi Indonesia hingga saat ini masih kuat, meskipun terdapat sentimen negatif global. Kondisi tersebut membuat perusahaan investasi asing membidik pangsa pasar Indonesia.  

“Ada tiga perusahaan sekuritas asing dari Korea Selatan yang approach ke pasar Indonesia,” ungkap Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia, Michael Tjoajadi, dalam diskusi bersama wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini.  

Michael mengungkapkan, Mirae Asset Global Investment Co yang merupakan perusahaan investasi terbesar kedua di Korea Selatan, telah melakukan akuisisi terhadap 70 persen saham PT NISP Management. Konon, dana yang digelontorkan untuk aksi tersebut mencapai US$ 24,5 juta.

Sedangkan dua perusahaan Korea Selatan lainnya, tengah memantau pasar investasi di Indonesia. Ketiga perusahaan tersebut, menurut Michael, adalah bagian dari 10 besar perusahaan manajemen investasi di Korea.  
Meski demikian, Michael belum mengetahui skema apa yang akan digunakan perusahaan asing tersebut untuk menjadi manajer investasi di Indonesia. Kemungkinan terbesar, menurut Michael, perusahaan sekuritas tersebut akan masuk melalui skema akuisisi. “Kalau mendirikan perusahaan baru izinya belum tentu bisa teralisasi cepat,” ujarnya.  

Michael menilai, hal yang menarik perusahaan investasi masuk ke pasar domestik adalah terus naiknya pendapatan per kapita Indonesia. Terus naiknya pendapatan per kapita Indonesia, menurut Michael, menunjukkan bertambahnya penghasilan masyarakat. Kondisi ini memicu peningkatan daya beli masyarakat dan mendorong keinginan untuk berinvestasi. “Potensi aset manajemen di-equity besar, dan income per kapita dalam negeri naik, akan memicu saving masyarakat naik,” ulasnya.

Apalagi, lanjutnya, pangsa pasar Indonesia untuk bisnis saving saat ini masih sangat besar.   Faktor lain yang memberi pengaruh, menurut Michael adalah dana pensiun yang terus mencatat kenaikan dana kelolaan. “Ini masih belum dihitung dari individu dan produk unit link asuransi.  

 Dengan perdapatan per kapita yang terus naik, sektor investasi menjadi seksi,” tukasnya. Selain perusahaan asal Korea, menurut Michael, perusahaan asal Jepang juga dikabarkan aktif menjajaki pasar Indonesia dan berupaya mendapat izin operasi dari Bapepan-LK. “Setahu saya ada juga yang dari Jepang,” tutur Michael.

Selain itu, lanjutnya, beberapa perusahaan asuransi lokal juga sedang berusaha melebarkan bisnisnya untuk masuk dalam pasar reksadana.   Rendahnya suku bunga deposito membuat deposito menjadi pilihan investasi yang tidak menarik sebagai ladang investasi. Akibatnya, menurut Michael, timbul kecenderungan investor mengalihkan dananya ke pasar saham dan emas.

“Yield atau imbal hasil yang diperoleh investor pada deposito sudah sangat kecil, di mana jika rata-rata suku bunga deposito enam persen dan dipotong pajak paling tinggal 4,8 persen, itu pun sudah habis dimakan inflasi,” terang Michael.  

Dengan kondisi saat ini, menurut Michael, akan ada peralihan investasi oleh investor dari deposito ke instrumen lain. Karenanya, Michael menyarankan, agar saat ini investor berinvestasi di pasar modal. “Sebab, imbal hasil yang diperoleh jauh lebih besar dibanding deposito,” katanya.  

Apabila investor melakukan investasi dalam bentuk saham, Michael menyarankan, investor dapat mencermati saham-saham yang stabil atau cenderung masih dapat memberikan keuntungan seperti pada 2008. “Kondisi saat ini tidak jauh beda dengan 2008. Jadi, pilihan saham yang masih membukukan pertumbuhan dinilai logis sebagai pilihan investasi,” imbuhnya. [YHD/M-6]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN