Tiga Perusahaan Sekuritas Korsel Ingin Masuk RI
Selasa, 21 Februari 2012 | 11:09
Ilustrasi usaha sekuritas [google] [JAKARTA]
Fundamental ekonomi Indonesia hingga saat ini masih kuat, meskipun terdapat
sentimen negatif global. Kondisi tersebut membuat perusahaan investasi asing
membidik pangsa pasar Indonesia.
“Ada
tiga perusahaan sekuritas asing dari Korea Selatan yang approach ke pasar Indonesia,” ungkap Presiden Direktur PT Schroder
Investment Management Indonesia, Michael Tjoajadi, dalam diskusi bersama
wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini.
Michael
mengungkapkan, Mirae Asset Global Investment Co yang merupakan perusahaan
investasi terbesar kedua di Korea Selatan, telah melakukan akuisisi terhadap 70
persen saham PT NISP Management. Konon, dana yang digelontorkan untuk aksi
tersebut mencapai US$ 24,5 juta.
Sedangkan dua perusahaan Korea Selatan
lainnya, tengah memantau pasar investasi di Indonesia. Ketiga perusahaan
tersebut, menurut Michael, adalah bagian dari 10 besar perusahaan manajemen
investasi di Korea.
Meski
demikian, Michael belum mengetahui skema apa yang akan digunakan perusahaan
asing tersebut untuk menjadi manajer investasi di Indonesia. Kemungkinan
terbesar, menurut Michael, perusahaan sekuritas tersebut akan masuk melalui
skema akuisisi. “Kalau mendirikan perusahaan baru izinya belum tentu bisa
teralisasi cepat,” ujarnya.
Michael
menilai, hal yang menarik perusahaan investasi masuk ke pasar domestik adalah
terus naiknya pendapatan per kapita Indonesia. Terus naiknya pendapatan per
kapita Indonesia, menurut Michael, menunjukkan bertambahnya penghasilan
masyarakat. Kondisi ini memicu peningkatan daya beli masyarakat dan mendorong
keinginan untuk berinvestasi. “Potensi aset manajemen di-equity besar, dan
income per kapita dalam negeri naik, akan memicu saving masyarakat naik,” ulasnya.
Apalagi, lanjutnya, pangsa pasar
Indonesia untuk bisnis saving saat
ini masih sangat besar.
Faktor
lain yang memberi pengaruh, menurut Michael adalah dana pensiun yang terus
mencatat kenaikan dana kelolaan. “Ini masih belum dihitung dari individu dan
produk unit link asuransi.
Dengan
perdapatan per kapita yang terus naik, sektor investasi menjadi seksi,”
tukasnya.
Selain
perusahaan asal Korea, menurut Michael, perusahaan asal Jepang juga dikabarkan
aktif menjajaki pasar Indonesia dan berupaya mendapat izin operasi dari
Bapepan-LK. “Setahu saya ada juga yang dari Jepang,” tutur Michael.
Selain itu,
lanjutnya, beberapa perusahaan asuransi lokal juga sedang berusaha melebarkan
bisnisnya untuk masuk dalam pasar reksadana.
Rendahnya
suku bunga deposito membuat deposito menjadi pilihan investasi yang tidak
menarik sebagai ladang investasi. Akibatnya, menurut Michael, timbul
kecenderungan investor mengalihkan dananya ke pasar saham dan emas.
“Yield atau
imbal hasil yang diperoleh investor pada deposito sudah sangat kecil, di mana
jika rata-rata suku bunga deposito enam persen dan dipotong pajak paling
tinggal 4,8 persen, itu pun sudah habis dimakan inflasi,” terang Michael.
Dengan
kondisi saat ini, menurut Michael, akan ada peralihan investasi oleh investor
dari deposito ke instrumen lain. Karenanya, Michael menyarankan, agar saat ini
investor berinvestasi di pasar modal. “Sebab, imbal hasil yang diperoleh jauh
lebih besar dibanding deposito,” katanya.
Apabila investor melakukan investasi dalam
bentuk saham, Michael menyarankan, investor dapat mencermati saham-saham yang
stabil atau cenderung masih dapat memberikan keuntungan seperti pada 2008.
“Kondisi saat ini tidak jauh beda dengan 2008. Jadi, pilihan saham yang masih
membukukan pertumbuhan dinilai logis sebagai pilihan investasi,” imbuhnya. [YHD/M-6]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
