Tenaga Kerja Kawasan Industri Bisa Capai 4 Juta Orang
Selasa, 3 Juli 2012 | 14:57
Ilustrasi kawasan industri [google] [JAKARTA] Kebutuhan tenaga
kerja terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya industri dalam kawasan.
Saat ini tercatat tiga juta tenaga kerja dalam kawasan industri dan dalam dua
tahun ke depan bisa mencapai empat juta orang.
Menurut Ketua Umum Himpunan
Kawasan Industri (HKI) Hendra Lesmana kepada SP di Jakarta, Senin (2/7),
kehadiran kawasan industri sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi
industri. Namun, hal itu juga semakin meningkatkan jumlah kebutuhan dan
profesionalitas tenaga kerja dalam berbagai sektor. Dalam dua hingga lima tahun
ke ke depan diperkirakan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai empat
juta orang.
Dikatakan, lima tahun lalu
jumlah tenaga kerja di dalam kawasan industri baru mencapai 1,5 juta orang dan
saat ini telah mencapai tiga juta tenaga kerja.
“Tenaga kerja tersebut
terserap dalam berbagai sektor industri. Paling banyak dalam industri otomotif
dan elektronik serta komponen pendukungnya. Dalam lima tahun ke depan bisa
mencapai 4 juta orang,” kata Hendra.
Dikatakan, kebutuhan tenaga kerja bisa ditingkatkan lagi
asalkan kualitas, keterampilan, dan profesionalisme tenaga kerja terjamin.
Terkait dengan itu, Ketua
Bidang Pemerintahan HKI Barnabas Yusuf Hura mendorong agar program-program
pemerintah dan kalangan swasta agar meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
Untuk itu, perlu sinergisitas antara pelaku kawasan industri dengan pemerintah.
Salah satunya adalah mendorong implementasi Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Dikatakan, salah satu upaya
untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja tersebut bisa dengan optimalisasi
peran balai latihan kerja (BLK) dan pendidikan kejuruan teknik. Kerja sama
pemerintah, swasta, dan sektor pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan
kualitas tenaga kerja.
“Kebutuhan tenaga kerja
terus meningkat, tetapi kualitas dan keterampilan juga perlu ditingkatkan
sehingga sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Ini perlu langkah bersama dari
pemerintah, pelaku industri, dan dunia pendidikan,” kata Barnabas.
Untuk itulah, dalam
Musyawarah Nasional VI dan Business Forum HKI yang akan dibuka Wakil Presiden
Boediono pada Selasa (3/7) ini fokus pada tema perkembangan kawasan industri
dalam konteks MP3EI dan Metropolitan Priority Area (MPA). Dalam Munas VI ini
akan terjadi pergantian pengurus HKI periode 2008-2012 yang dipimpin Hendra
Lesmana.
Selain Hendra yang masih berpeluang untuk menjabat Ketua Umum HKI, ada
juga sejumlah nama yang beredar yakni Sani Iskandar dari Karawang
International Industry City (KIIC) dan Hyanto Wihadhi dari PT Jababeka Tbk.
Dalam Munas HKI akan dibahas
sejumlah tema untuk mendorong kemajuan dan perkembangan industri nasional.
Pengembangan kawasan industri di Indonesia masih tertinggal dibandingkan
negara-negara Asia Tenggara lainnya karena masih terkendala masalah penataan
lahan dan infrastruktur.
Beberapa waktu lalu,
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan dan Perwilayahan Industri Kementerian
Perindustrian Dedi Mulyadi mengatakan kawasan industri di Indonesia masih jauh
dari kondisi ideal. Banyak terdapat kawasan industri, baik yang difasilitasi
oleh pemerintah maupun yang berdiri sendiri atas prakarsa pihak swasta, yang
lahannya belum dapat terisi seluruhnya.
"Berbagai faktor
eksternal dan internal tersebut berpengaruh secara simultan terhadap daya saing
suatu kawasan industri di suatu negara," katanya.
Berbagai faktor internal yang mempengaruhi daya saing
kawasan industri suatu negara di antaranya permintaan dan penawaran terhadap
kawasan industri, suku bunga, inflasi, ketersediaan tenaga kerja dan tingkat
upahnya, dan ketersediaan sumber daya serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang
berkaitan dengan iklim investasi. [H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
