Tak Ramah Lingkungan, Sawit Indonesia Dipersoalkan
Selasa, 5 Juni 2012 | 17:46
Ilustrasi kelapa sawit yang menghasilkan CPO [google] [JAKARTA] Pemerintah Indonesia akan terus melakukan upaya negosiasi untuk
mengatasi sejumlah persoalan dalam perdagangan kelapa sawit.
"Sejumlah pemerintah negara maju mendapat masukan dari organisasi
nonpemerintah (NGO) sehingga menerapkan kebijakan tentang kelapa sawit yang
dapat merugikan Indonesia, tapi kami terus melakukan negosiasi," kata
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh di Jakarta,
Selasa (5/6).
Ia mencontohkan, aturan dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika
Serikat yang menetapkan emisi gas rumah kaca dari bahan baku sawit minimal 20
persen.
Padahal menurut EPA, emisi gas rumah kaca minyak sawit Indonesia yang masuk ke
pasar AS hanya sebesar 17 persen untuk biodiesel dan 11 persen untuk bahan
bakar lestari sehingga pemerintah AS menolak produk kelapa sawit dan turunannya
asal Indonesia.
"Di AS aturan itu sebenarnya belum dilaksanakan, baru usulan dari EPA agar
produk sawit Indonesia sesuai dengan persyaratan "bio fuel",
pemerintah Indonesia sudah memberikan tanggapan resmi akan hal itu dan menunggu
jawaban hingga 6 bulan apakah pemerintah AS akan mengimplementasikan aturan
tersebut atau tidak," jelas Deddy.
Selain itu terdapat juga isu bahwa produk kelapa sawit Indonesia melakukan
dumping oleh European Biodiesel Board.
"Kami terus memantau sebelum kebijakan tersebut resmi diberlakukan, jadi
kami tetap berinisiatif untuk bernegosiasi dengan mereka tapi di lain pihak
kami juga membuat kebijakan untuk melindungi industri dalam negeri,"
ungkap Deddy.
Kebijakan yang sedang dibahas oleh Kemdag tersebut, menurut Deddy, adalah
penyusunan "technical regulation" di bidang tekstil, mainan
anak-anak, holtikultura dan produk-produk lainnya.
"Memang ada usul agar kami melakukan retaliasi, padahal tindakan tersebut
baru bisa dilakukan bila suatu negara sudah terbukti melakukan pelanggaran WTO
tapi kebijakan itu tidak dicabut, tapi selama belum terbukti tidak bisa
melakukan retaliasi," tambah Deddy.
Produksi kelapa sawit Indonesia pada 2011 sebesar 20 juta ton yang sebesar 70
persennya diekspor dengan urutan negara tujuan ekspor terbesar adalah China,
India, dan Eropa.
Pada 2012, pemerintah menargetkan produksi kelapa sawit meningkat hingga 25
juta ton dengan target ekspor sebesar 17,5 -18 juta ton.[Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Multipolar Technology Tawarkan 20 % Saham ke Publik
Muhaimin: BBM Naik, Tak Boleh Ada PHK Massal
Peserta Indonesia Belum Terdaftar di AOTE
Danamon Klaim Sinergi DBS Dukung Perbankan Nasional
IHSG Perlihatkan Tren ‘Bullish’
Danamon Bidik Pangsa Pasar UKM
Pekerja Rumah Tangga Juga Bisa Ikut Program Jamsostek
Mentan: Jelang Ramadhan, Harga Daging Normal
Panasonic Raih Peringkat ke-4 Brand Internasional Ramah Lingkungan
