SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 20 Juni 2013
Pencarian Arsip

Tak Ramah Lingkungan, Sawit Indonesia Dipersoalkan
Selasa, 5 Juni 2012 | 17:46

Ilustrasi kelapa sawit yang menghasilkan CPO [google] Ilustrasi kelapa sawit yang menghasilkan CPO [google]

[JAKARTA] Pemerintah Indonesia akan terus melakukan upaya negosiasi untuk mengatasi sejumlah persoalan dalam perdagangan kelapa sawit.

"Sejumlah pemerintah negara maju mendapat masukan dari organisasi nonpemerintah (NGO) sehingga menerapkan kebijakan tentang kelapa sawit yang dapat merugikan Indonesia, tapi kami terus melakukan negosiasi," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh di Jakarta, Selasa (5/6).

Ia mencontohkan, aturan dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat yang menetapkan emisi gas rumah kaca dari bahan baku sawit minimal 20 persen.

Padahal menurut EPA, emisi gas rumah kaca minyak sawit Indonesia yang masuk ke pasar AS hanya sebesar 17 persen untuk biodiesel dan 11 persen untuk bahan bakar lestari sehingga pemerintah AS menolak produk kelapa sawit dan turunannya asal Indonesia.

"Di AS aturan itu sebenarnya belum dilaksanakan, baru usulan dari EPA agar produk sawit Indonesia sesuai dengan persyaratan "bio fuel", pemerintah Indonesia sudah memberikan tanggapan resmi akan hal itu dan menunggu jawaban hingga 6 bulan apakah pemerintah AS akan mengimplementasikan aturan tersebut atau tidak," jelas Deddy.

Selain itu terdapat juga isu bahwa produk kelapa sawit Indonesia melakukan dumping oleh European Biodiesel Board.

"Kami terus memantau sebelum kebijakan tersebut resmi diberlakukan, jadi kami tetap berinisiatif untuk bernegosiasi dengan mereka tapi di lain pihak kami juga membuat kebijakan untuk melindungi industri dalam negeri," ungkap Deddy.

Kebijakan yang sedang dibahas oleh Kemdag tersebut, menurut Deddy, adalah penyusunan "technical regulation" di bidang tekstil, mainan anak-anak, holtikultura dan produk-produk lainnya.

"Memang ada usul agar kami melakukan retaliasi, padahal tindakan tersebut baru bisa dilakukan bila suatu negara sudah terbukti melakukan pelanggaran WTO tapi kebijakan itu tidak dicabut, tapi selama belum terbukti tidak bisa melakukan retaliasi," tambah Deddy.

Produksi kelapa sawit Indonesia pada 2011 sebesar 20 juta ton yang sebesar 70 persennya diekspor dengan urutan negara tujuan ekspor terbesar adalah China, India, dan Eropa.

Pada 2012, pemerintah menargetkan produksi kelapa sawit meningkat hingga 25 juta ton dengan target ekspor sebesar 17,5 -18 juta ton.[Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN