Taipan Pelopor Itu Telah Pergi….
Senin, 11 Juni 2012 | 10:16
Liem Sioe Liong [google] Soedono Salim alias Liem Sioe Liong, yang akrab disapa Om
Liem, meninggal dunia di Singapura sekitar pukul 15.08 waktu setempat, Minggu
(10/6). Taipan pendiri imperium bisnis dengan bendera Salim Group itu mengembuskan
nafas terakhir pada usia 97 tahun.
Mulai Senin (11/6) siang ini, jenazah Om Liem akan
disemayamkan di Mount Vernon Funeral Parlours, Singapura.
Om Liem merupakan salah satu pengusaha terkemuka dan
konglomerat dengan jaringan bisnis yang solid di Tanah Air maupun di
mancanegara. Semasa hidup, Om Liem dikenal dekat dengan Soeharto, presiden ke-2
Indonesia. Selepas kejatuhan Soeharto pada 1998, Om Liem tinggal di Singapura
dan kerajaan bisnisnya diteruskan sang anak, Anthoni Salim, dan menantunya,
Franky Welirang.
Om Liem adalah pendiri dan pemilik Central Bank Asia pada
1957, yang kemudian diubah menjadi Bank Central Asia (BCA) pada 1960. BCA
adalah bank swasta yang tumbuh pesat. Ia kemudian mendirikan Grup Salim, yang
membawahkan perusahaan-perusahaan ternama seperti Indofood, Indomobil, PT
Indocement Perkasa Tbk, PT Bogasari Flour Mill, Indomaret, Indomarco,
Indomiwon, dan Salim Palm Plantation.
Selain di dalam negeri. Grup Salim sukses melebarkan saya
bisnis ke mancanegara, di antaranya Tiongkok, India, dan Filipina.
Periode 1980-an dan 1990-an imperium bisnisnya berkembang
cepat. Memiliki sekitar 40 perusahaan, Om Liem diperkirakan menghasilkan omzet
bisnis tak kurang dari US$ 1 miliar setahun.
Kekayaan pribadi Om Liem yang
pernah dilansir terakhir adalah sekitar US$ 1,9 miliar (Rp 17,78 triliun).
Sejarah Om Liem dimulai di sebuah pelabuhan kecil, Fukien,
di bagian selatan Tiongkok. Kakaknya yang tertua, Liem Sioe Hie, sejak tahun
1922 telah lebih dulu bermigrasi ke Indonesia yang waktu itu masih dijajah
Belanda dan bekerja di sebuah perusahaan pamannya di kota Kudus.
Di tengah hiruk pikuk usaha ekspansi Jepang ke Pasifik dan
dongeng tentang harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, pada
1939, Liem Sioe Liong muda mengikuti jejak abang tertuanya.
Dari Fukien, ia
menumpang sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyeberangi Laut
Tiongkok. Sebulan kemudian sampai di Indonesia.
Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal sebagai pusat pabrik
rokok kretek, yang sangat banyak membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh.
Dan sejak zamam revolusi, Om Liem sudah terlatih menjadi pemasok cengkeh dari
Maluku, Sumatera, dan Sulawesi Utara melalui Singapura ke Kudus.
Karena itu, berdagang cengkeh merupakan salah satu pilar
utama bisnis Om Liem pada awal memluai bisnisnya, selain tekstil. Dulu, dia
juga banyak mengimpor tekstil dari Shanghai.
Untuk memperlancar semua usahanya, di bidang keuangan, dia pun punya beberapa
buah bank, seperti Bank Windu Kencana dan BCA. Pada 1970-an, BCA tumbuh menjadi
bank swasta kedua terbesar di Indonesia.
Salah satu peluang besar yang diperoleh Om Liem dari
pemerintah Indonesia adalah dengan didirikannya PT Bogasari pada Mei 1969 yang
menguasai suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian barat yang meliputi
sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT Prima untuk wilayah Indonesia
bagian timur.
Hampir di setiap perusahaan Om Liem saat itu, dia
berkongsi dengan Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang yang juga berasal Fukien.
Sejak itu, usahanya terus berkembang dan tercipta banyak perusahaan hingga
sekarang, yang dinakhodai oleh putra
mahkota, Anthoni Salim, dan menantunya, Franky Welirang.
Mengomentari kepergian sang taipan, Ketua Umum Hipmi Raja Sapta
Oktohari mengatakan, Indonesia kehilangan sosok pengusaha sekaliber Soedono
Salim. Menurut dia, Om Liem adalah pengusaha sejati yang tidak terbatas pada
skala nasional tapi juga bereputasi internasional.
"Banyak cerita tentang almarhum dan usaha bisnisnya. Menorehkan signature
di perekonomian Indonesia. Banyak karyanya di tingkat internasional," ujar
Okto di sela resepsi Ulang Tahun Hipmi ke-40 di Jakarta, tadi malam.
Salah satu
contoh adalah kontribusi Liem terhadap kemajuan Indonesia.”Kontribusi terbesar
bagi negeri ini adalah keberhasilannya membangun industri yang menampung banyak
tenaga kerja,” kata Firman.
Sekjen Hipmi Harry Warganegara Harun bahkan berpendapat,
tidak berlebihan menjuluki seorang Soedono Salim sebagai pahlawan nasional
karena kontribusinya yang besar terhadap perekonomian nasional. "Beliau
tokoh nasional yang banyak berkontribusi bagi ekonomi bangsa. Sejak zaman Orde
Baru, di era pembangunan Repelita, beliau sudah ikut membangun ekonomi.
Harapannya, semakin banyak pengusaha sekaliber beliau yang lahir, terutama dari
Hipmi. Kami meneladani prinsipnya yang ulet, tekun memulai dari nol, dan jeli
melihat peluang. Ini yang penting, karena peluang bisa muncul hanya satu detik
lalu hilang," kata Harry. [ID/H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
