Standarisasi Produk ASEAN Masih Terkendala
Selasa, 17 Juli 2012 | 10:35
[JAKARTA]
Standarisasi produk merupakan salah satu hal penting menuju Masyarakat Ekonomi
ASEAN. Dengan standar yang dapat diterima di semua negara anggota, perdagangan
di kawasan ASEAN dapat lebih mudah dan cepat. Karenanya, harmonisasi
standarisasi sesama negara ASEAN menjadi hal penting untuk segera diselesaikan.
Namun, harmonisasi tersebut terbentur sejumlah kendala di masing-masing negara.
Demikian
disampaikan Chairman DEVCO (Developing Country) ISO Organization Bambang
Setiadi dalam jumpa pers bersama Sekretaris Jenderal ISO di kantor Badan
Standarisasi Nasional (BSN), Jakarta, Senin (16/7). “Semua Negara sepakat untuk
mengharmonisasi standarisasi produk. Tetapi implementasinya terbentur aturan di
masing-masing Negara,” ujar Bambang yang juga mantan Kepala BSN tersebut.
Menurut
Bambang, persaingan bisnis dan egoisme masing-masing negara membuat
impelementasi harmonisasi tersebut tidak berjalan. “Banyak negara yang masih
menunda-nunda terjadinya harmonisasi standarisasi ini, dengan berbagai alasan,
termasuk melindungi produk domestiknya dari produk luar negeri. Alasan yang
dikemukakan adalah beragam regulasi yang ada di Negara tersebut harus dirubah
dulu, sehingga makan waktu lama,” ujarnya.
Padahal,
lanjut Bambang, dengan harmonisasi standarisasi di wilayah regional, dapat
meningkatkan perdagangan antar negara. “Sebenarnya untuk melakukan harmonisasi
itu tidak sulit. Semua negara kan sebenarnya sudah punya standar, ini bisa
didiskusikan. Kalau kesepakatan susah dicari, maka kita selaraskan dengan
standar internasional,” jelasnya.
Karenanya,
disampaikan Bambang, melalui kunjungan Sekjen ISO ini, ISO dapat membantu ASEAN
untuk memberikan sosialisasi dan masukan kepada negara-negara ASEAN untuk dapat
merevitalisasi harmonisasi standarisasi produk tersebut. “Memang terkadang
terbentur dengan keharusan merubah undang-undang, namun pemberian pengertian
kepada regulator betapa pentingnya standarisasi terhadap pertumbuhan
perdagangan di masing-masing negara,” harapnya.
Hal tersebut
dibenarkan Sekeretaris Jenderal ISO, Rob Steele. Dia mengatakan, dengan adanya
harmonisasi standarisasi antar negara dapat meningkatkan minimal satu persen
Produk Domestik Bruto (PDB). “Selain itu, transaksi perdagangan antar negara
dapat meningkat, baik volume maupun nilainya,” jelasnya.
Disampaikannya,
idealnya memang standarisasi dapat diterapkan secara internasional, namun untuk
langkah awal penerapan standar secara regional merupakan hal yang baik.
Rob
menyampaikan, kunjungannya ke Indonesia dan ASEAN ini untuk menghidupkan
kembali kontak antara ISO dan ASEAN. Menurutnya, ISO dan ASEAN sudah cukup lama
kehilangan kontak.
“Karena itu saya datang untuk menghidupkan kembali kontak
dengan ASEAN. Kami memandang ASEAN sebagai kawasan yang strategis dan penting.
Kami juga siap membantu ASEAN dalam melakukan harmonisasi standarisasi
produknya,” pungkas Rob.
Untuk
diketahui, harmonisasi standarisasi akan dilakukan di 12 sektor yakni tourisme,
e-comerce, logistic, healthcare, agro based, wood based, automotive, rubber,
air travel, textile and apparel, fisheries, dan pharmatic. [Y-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
