Sistem Logistik Indonesia Masih Lemah
Selasa, 8 Mei 2012 | 14:15
Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta [JAKARTA] Sistem
logistik Indonesia saat ini tergolong lemah dan belum efisien. Maka tak heran
jika daya saing produk Indonesia pun lemah. Bahkan komoditas impor bisa jauh
lebih murah daripada produk lokal.
Untuk menjembatani adanya tantangan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpres
Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional
(Sislognas).
Menteri Riset dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Gusti Muhammad
Hatta mengatakan rencana aksi sislognas berdasar pada enam kunci yakni
komoditas penggerak utama, pelaku dan penyedia jasa logistik, infrastruktur
transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, manajemen sumber daya manusia
dan regulasi.
"Logistics Performance Index (LPI) yang dilansir World Bank menunjukkan
logistik kita memprihatinkan dimana peringkat kinerjanya masih jauh berada di
bawah kebanyakan negara-negara lainnya," katanya di sela International
Logistics Seminar and Workshop 2012 di Jakarta, Selasa (8/5).
Dalam acara yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini,
menristek berharap keberhasilan dan implementasi sislognas akan berdampak pada
efisiensi di bidang logistik sehingga dapat memperbaiki daya saing ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat.
Kepala LIPI Lukman Hakim menjelaskan biaya logistik Indonesia tertinggi di
ASEAN yakni sebesar 25-30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal
dengan kondisi geografi Indonesia, idealnya biaya logistik tidak lebih 15
persen dari PDB.
"Sistem logistik nasional yang masih kurang baik terlihat dari biaya
pengiriman yang tinggi. Distribusi barang antar wilayah maupun antar pulau
menjadi tantangan tersendiri karena harga barang di Pulau Jawa lebih
tinggi," ungkapnya.
Lukman mencontohkan, harga beras di satu provinsi bisa mencapai 64 persen lebih
tinggi dibanding provinsi lainnya. Bahkan harga satu kantong semen di wilayah
Papua bisa 20 kali lipatnya.
Menurutnya selain arus barang dan uang, aliran informasi harus dikelola secara
hati-hati karena merupakan pendukung dalam sistem logistik nasional.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Mekatronik LIPI Estiko Rijanto mengungkapkan
teknologi juga perlu diperhitungkan dalam sislognas.
Misalnya saja sistem robotic di pelabuhan. Sistem teknologi pada robotic bisa
menciptakan sistem logistik lebih efisien dan efektif. "China sudah
memakai dan mengembangkan teknologi itu. Kita memang belum punya sistem
teknologi untuk logistik seperti itu, tapi bisa kita siapkan," ujarnya.
[R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Multipolar Technology Tawarkan 20 % Saham ke Publik
Muhaimin: BBM Naik, Tak Boleh Ada PHK Massal
Peserta Indonesia Belum Terdaftar di AOTE
Danamon Klaim Sinergi DBS Dukung Perbankan Nasional
IHSG Perlihatkan Tren ‘Bullish’
Pekerja Rumah Tangga Juga Bisa Ikut Program Jamsostek
Danamon Bidik Pangsa Pasar UKM
Mentan: Jelang Ramadhan, Harga Daging Normal
Panasonic Raih Peringkat ke-4 Brand Internasional Ramah Lingkungan
