SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 20 Juni 2013
Pencarian Arsip

Sistem Logistik Indonesia Masih Lemah
Selasa, 8 Mei 2012 | 14:15

Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta

[JAKARTA] Sistem logistik Indonesia saat ini tergolong lemah dan belum efisien. Maka tak heran jika daya saing produk Indonesia pun lemah. Bahkan komoditas impor bisa jauh lebih murah daripada produk lokal.

Untuk menjembatani adanya tantangan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas).

Menteri Riset dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan rencana aksi sislognas berdasar pada enam kunci yakni komoditas penggerak utama, pelaku dan penyedia jasa logistik, infrastruktur transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, manajemen sumber daya manusia dan regulasi.

"Logistics Performance Index (LPI) yang dilansir World Bank menunjukkan logistik kita memprihatinkan dimana peringkat kinerjanya masih jauh berada di bawah kebanyakan negara-negara lainnya," katanya di sela International Logistics Seminar and Workshop 2012 di Jakarta, Selasa (8/5).

Dalam acara yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, menristek berharap keberhasilan dan implementasi sislognas akan berdampak pada efisiensi di bidang logistik sehingga dapat memperbaiki daya saing ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala LIPI Lukman Hakim menjelaskan biaya logistik Indonesia tertinggi di ASEAN yakni sebesar 25-30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal dengan kondisi geografi Indonesia, idealnya biaya logistik tidak lebih 15 persen dari PDB.

"Sistem logistik nasional yang masih kurang baik terlihat dari biaya pengiriman yang tinggi. Distribusi barang antar wilayah maupun antar pulau menjadi tantangan tersendiri karena harga barang di Pulau Jawa lebih tinggi," ungkapnya.

Lukman mencontohkan, harga beras di satu provinsi bisa mencapai 64 persen lebih tinggi dibanding provinsi lainnya. Bahkan harga satu kantong semen di wilayah Papua bisa 20 kali lipatnya.

Menurutnya selain arus barang dan uang, aliran informasi harus dikelola secara hati-hati karena merupakan pendukung dalam sistem logistik nasional.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Mekatronik LIPI Estiko Rijanto mengungkapkan teknologi juga perlu diperhitungkan dalam sislognas.

Misalnya saja sistem robotic di pelabuhan. Sistem teknologi pada robotic bisa menciptakan sistem logistik lebih efisien dan efektif. "China sudah memakai dan mengembangkan teknologi itu. Kita memang belum punya sistem teknologi untuk logistik seperti itu, tapi bisa kita siapkan," ujarnya. [R-15] 




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN