Sidang Kabinet, SBY Bahas ‘Investment Grade’ Versi Moody’s
Rabu, 18 Januari 2012 | 16:11
Julian Aldrin Pasha [google] [JAKARTA] Pada sidang
kabinet paripurna yang berlangsung Rabu (18/1) siang ini, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan agar Gubernur Bank Indonesia (BI)
Darmin Nasution memberikan pengumuman bahwa Indonesia meraih predikat sebagai negara layak tujuan
investasi (investment grade) oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s.
Sebelumnya, para pertengahan Desember 2011 lalu, Fitch Ratings juga telah
meng-upgrade peringkat utang Indonesia sehingga memperoleh predikat investment
grade.
”Ya, tadi ada breaking news di sidang kabinet. Bapak Presiden
mempersilahkan Gubernur BI mengumumkan kepada peserta sidang bahwa Moody’s
telah menaikkan Indonesia's debt rating menjadi investment grade,” sebut juru
bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha dalam pesan singkat elektroniknya ke
wartawan di sela-sela sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta.
Dengan demikian, maka Julian menekankan bahwa negara tidak dijalankan secara
autopilot. ”Penilaian Moody’s dan Fitch sebelumnya jelas membuktikan bahwa
negara ini dijalankan bukan autopilot,” tegasnya.
Dalam keterangan resminya, Moody's menyatakan bahwa peringkat bagi obligasi
Indonesia denominasi rupiah dan asing telah dinaikkan menjadi Baa3 dari Ba1
dengan outlook stabil.
Dalam paparanya, Moody's mengatakan ada empat pendorong utama yang menjadikan
Indonesia masuk ke level investment grade. Pertama, Moody's melihat metrik
keuangan Indonesia telah sejalan dengan negara-negara yang memiliki rating
utang Baa. Kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi telah menunjukan
bahwa ekonomi Indonesia tahan terhadap guncangan eksternal yang besar. Ketiga,
adalah kebijakan dan sistem-sistem yang diterapakan oleh pemerintah mampu
mengatasi kerentanan keuangan. Keempat, sistem perbankan sehat yang mampu
bertahan dari stress test.
Menurut Moody's ketahanan Indonesia terhadap guncangan eksternal yang besar,
menunjuk tren pertumbuhan berkelanjutan yang tinggi dalam jangka menengah.
Penilaian lebih juga merujuk dari kekuatan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh
kenaikan dalam investasi, pembangunan infrastruktur serta reformasi kebijakan
dan sistem keuangan yang dikelola dengan baik.
Selain itu, pertumbuhan yang kuat juga disertai oleh kesehatan dalam pembayaran
utang. Didukung oleh Foreign Direct Investment (FDI) yang semakin, menyebabkan
ekspektasi inflasi menjadi lebih baik dan dapat bertahan di tingkat yang lebih
stabil dan lebih rendah. Sedangkan dari sisi manajemen fiskal, Moody's melihat
saat ini kebijakan yang diterapkan cukup baik, indikatornya adalah defisit
anggaran berada pada tingkat yang sangat rendah, dan beban utang pemerintah
sebagai terhadap PDB yang rendah. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Naik, Batal Beli Mobil Baru, Warga Incar yang Bekas
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
