SBY: Kolaborasi Bisnis ASEAN-Amerika Latin Mendesak
Senin, 9 Juli 2012 | 14:49
Presiden SBY dan Presiden Ekuador Rafael Correa Delgado [abror] [JAKARTA] Di tengah kondisi finansial global
yang belum pulih dan kian memanas, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) mendorong kolaborasi bisnis diantara negara-negara ASEAN dan
Amerika Latin termasuk Karibia. Menurutnya, kerjasama
diantara dua kawasan tersebut amatlah potensial mengingat meski ekonomi
dunia memanas, namun ASEAN dan Amerika Latin dapat tetap menikmati
pertumbuhan ekonominya dibandingkan kawasan lainnya.
SBY mengaku, setelah kembali dari perjalanannya
ke Meksiko, Brasil dan Ekuador, dirinya terkesan atas sistem
perekonomian negara-negara berkembang ini, tak terkecuali untuk Karibia.
Hal tersebut dapat dilihat dari prediksi Komisi Ekonomi
PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (UNECLAC) bahwa Negara tersebut
akan tumbuh sebesar 4,1 persen pada tahun 2012 ini.
Kendati lebih rendah dari tahun lalu, yakni 4,4 persen, namun persentase
tersebut sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat penurunan umum
dalam pertumbuhan global.
SBY pun terkesan atas fakta bahwa PDB kolektif
Amerika Latin mencapai 6,87 triliun dolar AS. Sementara, PDB kolektif
ASEAN mencapai 3,36 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 2012
diproyeksikan mencapai 5-7,2 persen atau meningkat dari
tahun 2011 yakni 4,5 persen.
“Hal ini membuat Business Forum kita hari ini sangat relevan.
Dan ini membuat kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Amerika Latin dan
Karibia bahkan lebih mendesak, terutama mengingat bahwa kita berada di
tengah-tengah perlambatan ekonomi global.
Kita
tidak bisa mengabaikan fakta bahwa meskipun perkembangan menggembirakan
di Yunani dan Spanyol, krisis
di zona euro masih jauh dari selesai,” ujar Presiden SBY dalam
peresmian pembukaan ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Hotel Shangri-La,
Jakarta, Senin (9/7)
Dalam acara yang dihadiri Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Makarim Wibisono, Ketua Umum
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, dan Ketua
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan
Wanandi, serta para pengusaha, Presiden SBY mengingatkan, begitu banyak
potensi kerjasama diantara dua kawasan itu yang belum ditekan
sungguh-sungguh padahal potensi itu amatlah potensial.
ASEAN sendiri adalah rumah bagi 608 juta orang, sedangkan penduduk
Amerika Latin dan Karibia hanya sekitar 578 juta.
Ditambahkannya, kedua daerah masing-masing
memiliki total perdagangan Rp 2,5 triliun, tetapi hanya 2,3 persen dari
nilai tersebut yang mewakili perdagangan di antara mereka. Investasi
Asing Langsung (FDI) antara kedua daerah pun masih
rendah dibandingkan dengan jumlah investasi ke daerah lain.
Kembali ke perekonomian dunia, OECD
memperkirakan bahwa zona euro akan berkontraksi 2 persen pada 2012.
Seperti daerah lain, Bank Dunia telah memproyeksikan bahwa pertumbuhan
di wilayah Asia-Pasifik akan melambat dari 8,3 persen pada
2011 menjadi 7,6 persen di tahun ini.
Bank Dunia juga memperkirakan bahwa negara-negara berkembang secara
kolektif akan tumbuh sebesar 5,3 persen tahun ini, penurunan dari
ekspansi 6,1 persen tahun lalu.
Dengan melihat
prediksi itu, maka SBY menekankan ASEAN dan Amerika Latin dan Karibia
sangat berpotensi untuk berkolaborasi. Kolaborasi itupun muncul dengan
pemikiran yang matang.
Pertama, negara-negara ASEAN dan Amerika Latin dan Karibia perlu mengembangkan konektivitas untuk menjembatani jarak antara mereka.
Jika
tidak maka akan sulit untuk menyadari potensi pasar dari kedua daerah.
”Kita dapat memanfaatkan kerangka kerja yang ada kerjasama untuk
meningkatkan
konektivitas. Asia Timur dan Amerika Latin telah terhubung melalui Forum untuk Asia Timur-Amerika Latin Kerjasama
(FEALAC). Dan ASEAN telah mengembangkan hubungan dengan negara-negara Amerika Selatan melalui Forum ASEAN-MERCOSUR,” jelasnya.
Kedua,
untuk meningkatkan perdagangan antara kedua daerah, pemerintah perlu
menghilangkan hambatan-hambatan di belakang perbatasan, termasuk
pemotongan biaya perdagangan.
Ketiga, bekerja sama untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.
”Ini adalah dua area di mana kedua daerah telah mencapai track record
yang sangat baik. Indonesia menjadi tuan rumah konferensi perubahan
iklim dunia di Bali pada tahun 2007, dan beberapa minggu lalu, Brasil
menjadi tuan rumah KTT Rio +20,” tambahnya.
Lebih lanjut, SBY
berpandangan setidaknya ada dua hal dalam sektor bisnis dari kedua
daerah yang bisa lakukan, yakni mulai berbagi pelajaran dan praktik
terbaik dalam melakukan perdagangan dan investasi, serta
perusahaan perlu menjadi bagian dari agenda perdagangan dan investasi
dalam kerangka kerja yang ada antar daerah kolaborasi.
”Dalam hal ini, saya mendorong Forum untuk Asia Timur - Amerika
Latin Kerjasama (FEALAC) dan ASEAN-MERCOSUR untuk menjamin keterlibatan masyarakat bisnis dalam pekerjaan mereka,” imbuhnya.
Pasalnya, saat ini
adalah waktu yang paling menguntungkan bagi ASEAN, dalam kemitraan
dengan Amerika Latin dan Karibia, untuk mengambil inisiatif semacam ini.
ASEAN memiliki komitmen yang kuat untuk bekerja sama dengan sebagai banyak negara dan organisasi regional dan internasional
mungkin. Hal ini sejalan dengan semangat Deklarasi Bali pada Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa.
Mengenai Indonesia
sendiri, SBY optimistis tentang prospek ekonominya. Ekonomi Indonesia,
yang mewakili 40 persen ekonomi agregat ASEAN, diproyeksikan akan tumbuh
sebesar 6 menjadi 6,5 persen tahun ini.
Ini adalah proyeksi yang realistis, mengingat pada puncak krisis keuangan global pada
2008, RI berhasil mencapai pertumbuhan 4,5 persen. Sejak
itu, tingkat pertumbuhan RI
telah meningkat, sementara utang terhadap rasio PDB menyusut secara
dramatis, dari 77 persen pada 2001 menjadi 24 persen pada 2012.
Statistik yang elegan ini telah menyebabkan kenaikan peringkat kredit RI.
Lembaga seperti Moody `s dan Fitch Ratings telah meng-upgrade
penilaian
sovereign Indonesia ke Investment Grade dan pandangan Indonesia untuk
stabil ataupun positif. Indonesia sekarang 15 ekonomi terbesar di dunia
oleh PDB.
Bahkan, IMF memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia akan berada di posisi yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.
Untuk diketahui,
Indonesia serius memasuki pasar Amerika Latin dan Karibia. Untuk
mematangkan itu digelar forum ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Hotel
Shangri-La Jakarta, 9-10 Juli 2012.
Melalui forum ini, Indonesia
diharapkan bisa langsung membuka pasar tanpa melalui perantara. Amerika
Latin dan Karibia dipilih karena wilayah ini memiliki potensi pasar yang
besar. Jumlah penduduknya juga terbilang banyak,
sekitar 580 juta jiwa. Namun, saat ini pengusaha Indonesia belum
menentukan target dan produk yang akan menjadi andalan ekspor ke sana.
[O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
