SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip

SBY: Kolaborasi Bisnis ASEAN-Amerika Latin Mendesak
Senin, 9 Juli 2012 | 14:49

Presiden SBY dan Presiden Ekuador Rafael Correa Delgado [abror] Presiden SBY dan Presiden Ekuador Rafael Correa Delgado [abror]

[JAKARTA] Di tengah kondisi finansial global yang belum pulih dan kian memanas, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendorong kolaborasi bisnis diantara negara-negara ASEAN dan Amerika Latin termasuk Karibia. Menurutnya, kerjasama diantara dua kawasan tersebut amatlah potensial mengingat meski ekonomi dunia memanas, namun ASEAN dan Amerika Latin dapat tetap menikmati pertumbuhan ekonominya dibandingkan kawasan lainnya.  

SBY mengaku, setelah kembali dari perjalanannya ke Meksiko, Brasil dan Ekuador, dirinya terkesan atas sistem perekonomian negara-negara berkembang ini, tak terkecuali untuk Karibia. Hal tersebut dapat dilihat dari prediksi Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (UNECLAC) bahwa Negara tersebut akan tumbuh sebesar 4,1 persen pada tahun 2012 ini. Kendati lebih rendah dari tahun lalu, yakni 4,4 persen, namun persentase tersebut sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat penurunan umum dalam pertumbuhan global.  

SBY pun terkesan atas fakta bahwa PDB kolektif Amerika Latin mencapai 6,87 triliun dolar AS. Sementara, PDB kolektif ASEAN mencapai 3,36 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 2012 diproyeksikan mencapai 5-7,2 persen atau meningkat dari tahun 2011 yakni 4,5 persen.  

“Hal ini membuat Business Forum kita hari ini sangat relevan. Dan ini membuat kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Amerika Latin dan Karibia bahkan lebih mendesak, terutama mengingat bahwa kita berada di tengah-tengah perlambatan ekonomi global.
Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa meskipun perkembangan menggembirakan di Yunani dan Spanyol, krisis di zona euro masih jauh dari selesai,” ujar Presiden SBY dalam peresmian pembukaan ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/7)  

Dalam acara yang dihadiri Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Makarim Wibisono, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi, serta para pengusaha, Presiden SBY mengingatkan, begitu banyak potensi kerjasama diantara dua kawasan itu yang belum ditekan sungguh-sungguh padahal potensi itu amatlah potensial. ASEAN sendiri adalah rumah bagi 608 juta orang, sedangkan penduduk Amerika Latin dan Karibia hanya sekitar 578 juta.  

Ditambahkannya, kedua daerah masing-masing memiliki total perdagangan Rp 2,5 triliun, tetapi hanya 2,3 persen dari nilai tersebut yang mewakili perdagangan di antara mereka. Investasi Asing Langsung (FDI) antara kedua daerah pun masih rendah dibandingkan dengan jumlah investasi ke daerah lain.

Kembali ke perekonomian dunia, OECD memperkirakan bahwa zona euro akan berkontraksi 2 persen pada 2012. Seperti daerah lain, Bank Dunia telah memproyeksikan bahwa pertumbuhan di wilayah Asia-Pasifik akan melambat dari 8,3 persen pada 2011 menjadi 7,6 persen di tahun ini. Bank Dunia juga memperkirakan bahwa negara-negara berkembang secara kolektif akan tumbuh sebesar 5,3 persen tahun ini, penurunan dari ekspansi 6,1 persen tahun lalu.

Dengan melihat prediksi itu, maka SBY menekankan ASEAN dan Amerika Latin dan Karibia sangat berpotensi untuk berkolaborasi. Kolaborasi itupun muncul dengan pemikiran yang matang. Pertama, negara-negara ASEAN dan Amerika Latin dan Karibia perlu mengembangkan konektivitas untuk menjembatani jarak antara mereka. Jika tidak maka akan sulit untuk menyadari potensi pasar dari kedua daerah.

”Kita dapat memanfaatkan kerangka kerja yang ada kerjasama untuk meningkatkan konektivitas. Asia Timur dan Amerika Latin telah terhubung melalui Forum untuk Asia Timur-Amerika Latin Kerjasama (FEALAC). Dan ASEAN telah mengembangkan hubungan dengan negara-negara Amerika Selatan melalui Forum ASEAN-MERCOSUR,” jelasnya.

Kedua, untuk meningkatkan perdagangan antara kedua daerah, pemerintah perlu menghilangkan hambatan-hambatan di belakang perbatasan, termasuk pemotongan biaya perdagangan. Ketiga, bekerja sama untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau. ”Ini adalah dua area di mana kedua daerah telah mencapai track record yang sangat baik. Indonesia menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim dunia di Bali pada tahun 2007, dan beberapa minggu lalu, Brasil menjadi tuan rumah KTT Rio +20,” tambahnya.  

Lebih lanjut, SBY berpandangan setidaknya ada dua hal dalam sektor bisnis dari kedua daerah yang bisa lakukan, yakni mulai berbagi pelajaran dan praktik terbaik dalam melakukan perdagangan dan investasi, serta perusahaan perlu menjadi bagian dari agenda perdagangan dan investasi dalam kerangka kerja yang ada antar daerah kolaborasi. ”Dalam hal ini, saya mendorong Forum untuk Asia Timur - Amerika Latin Kerjasama (FEALAC) dan ASEAN-MERCOSUR untuk menjamin keterlibatan masyarakat bisnis dalam pekerjaan mereka,” imbuhnya.

Pasalnya, saat ini adalah waktu yang paling menguntungkan bagi ASEAN, dalam kemitraan dengan Amerika Latin dan Karibia, untuk mengambil inisiatif semacam ini.

ASEAN memiliki komitmen yang kuat untuk bekerja sama dengan sebagai banyak negara dan organisasi regional dan internasional mungkin. Hal ini sejalan dengan semangat Deklarasi Bali pada Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa.

Mengenai Indonesia sendiri, SBY optimistis tentang prospek ekonominya. Ekonomi Indonesia, yang mewakili 40 persen ekonomi agregat ASEAN, diproyeksikan akan tumbuh sebesar 6 menjadi 6,5 persen tahun ini. Ini adalah proyeksi yang realistis, mengingat pada puncak krisis keuangan global pada 2008, RI berhasil mencapai pertumbuhan 4,5 persen. Sejak itu, tingkat pertumbuhan RI telah meningkat, sementara utang terhadap rasio PDB menyusut secara dramatis, dari 77 persen pada 2001 menjadi 24 persen pada 2012.

Statistik yang elegan ini telah menyebabkan kenaikan peringkat kredit RI. Lembaga seperti Moody `s dan Fitch Ratings telah meng-upgrade penilaian sovereign Indonesia ke Investment Grade dan pandangan Indonesia untuk stabil ataupun positif. Indonesia sekarang 15 ekonomi terbesar di dunia oleh PDB. Bahkan, IMF memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia akan berada di posisi yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.  

Untuk diketahui, Indonesia serius memasuki pasar Amerika Latin dan Karibia. Untuk mematangkan itu digelar forum ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Hotel Shangri-La Jakarta, 9-10 Juli 2012. Melalui forum ini, Indonesia diharapkan bisa langsung membuka pasar tanpa melalui perantara. Amerika Latin dan Karibia dipilih karena wilayah ini memiliki potensi pasar yang besar. Jumlah penduduknya juga terbilang banyak, sekitar 580 juta jiwa. Namun, saat ini pengusaha Indonesia belum menentukan target dan produk yang akan menjadi andalan ekspor ke sana. [O-2]    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN